kata yang paling kasar

Ada Apa dengan Goblok?

14/07/2017 256 0 0

kata yang paling kasar

kata yang paling kasar

Ada Apa dengan Goblok. Begini, saya bukanlah ahli bahasa, apalagi sampai dipanggil ke pengadilan guna menganalisa kata ndeso apakah mengandung unsur penistaan atau tidak? Sekali lagi bukan. Tapi soal bahasa, saya pikir, bukanlah monopoli ahli bahasa semata. Ia adalah hal yang imanen dan tentu saja tak dosa jika dibahas oleh tukang parkir di warung kopi sekalipun. Sederhananya, perihal berbahasa, adalah sesuatu yang cair dan tidak bisa dimaknai letterlijk.

Karena sifat imanennya tadi, saya tentu tak perlu menjelaskan bahasa itu apa. Lagian tidak semua hal itu perlu didefiniskan untuk bisa dipake kok. Kamu tidak perlu repot-repot menjelaskan sebentuk mamalia berkaki empat yang kerap menjulur-julurkan lidahnya untuk menyebut asu. Pekerjaan mendefinisi dan formalisasi itu biarlah menjadi urusannya akademisi dan petugas balai bahasa saja. Di tataran pemakai, bahasa itu ya yang praktis. Sama-sama mudeng.

Kiwari ini saya cukup tergelitik dengan rangorang yang mempertentangkan kata goblok dengan panutan. Seolah orang yang dari mulutnya terlontar kata goblok, hilanglah sudah kesempatan untuk jadi panutan. Yang baik tentunya. Sebab goblok dianggap anti kesopanan, dan kesopanan adalah syarat mutlak seorang panutan. Itu sudah, tidak bisa ditawar-tawar.

Padahal ya dek, kata—sebagai bagian dari bahasa, tak lebih dari sekedar manifestasi atas realitas. Yak ho’o, bahasa cuma ungkapan atas keber-ada-an. Soal kenyataan gitu. Jadi logikanya, bahasa itu timbul mengikuti realitasnya. Dengan kata lain, kata muncul setelah ada realitasnya. Tak mungkin ada kata yang tidak didahului realitasnya. Wueleh mbulete.

Gini, kata goblok tentu tidak muncul begitu saja, tapi tampil untuk menggambarkan sesuatu atau perihal. Dalam hal ini, merujuk tentang keadaan orang yang nda pinter tapi bebal. Orang yang tidak dan tak mau tahu.

Kalau ada orang seperti itu, laemang mau dibilang apa? Bodoh? Kurang pinter? Tidak cerdas? Minus DHA? Kahat omega 3? Bukankah kalo situ orang yang ngerti substansi, sekumpulan kata itu sama saja artinya? Tidak ada beda orang mati menenggak racun tikus atau racun serangga.

****

Soal kesopanan tentu tak bisa disederhanakan dengan sekedar pemilihan kata. Bukankah di negeri yang kita tinggali ini tak kurang politisi yang bertutur kata halus, enak betul didengar, tertata rapi, tapi tak kalah memuakkan? Begitukah panutan? Kalau iya, alangkah bencinya saya pada sosok panutan.

Setiap kata, kita tahu, mengandung makna rasa. Kata punya rasanya masing-masing. Ini jelas subjektif, tergantung dari individu pengucapnya memang. Tapi subjektivitas itu tak seharusnya dihilangkan begitu saja. Semua orang punya hak yang sama untuk memilih kata yang makna rasaya pas menurut dirinya.

Sampai di sini, berhentilah menginterupsi dengan dalih kesopanan. Ini soal kelaziman saja kok. Sesuatu yang tidak biasa bukan berarti ia tidak sopan. Lagi pula soal kesopanan juga bukan sesuatu yang bersifat universal dan inkrah. Sopan di sini, belum tentu sopan di sana, juga sebaliknya.

Kita yang terbiasa hidup dengan budaya timur, akan dianggap tidak sopan jika menatap wajah orang tua saat dinasehati. Sementara dalam budaya barat, tidak menatap saat diajak berbicara justru tidak sopan. Sekali lagi ini soal kebiasaan saja.

Subjekivitas pada pemilihan kata ini tak beda dengan pemilihan baju. Baju yang bagus menurutmu, belum tentu bagus menurut orang lain. Dan yang terpenting, jangan menilai penampilan orang dengan baju yang kamu kenakan. Lakalo beda kelamin gimana jal?

Comments

comments

Tags: bahasa, Featured, goblok, kata, subjektif Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.