Pancasila

Agama dan Pancasila

01/06/2017 185 0 0

Agama dan Pancasila.  Sekedar menjadi bangsa yang murah senyum saja kini kita sudah kepayahan. Senyum—yang selaksa sedekah itu—kini tak ubahnya bongkahan emas yang tidak bisa sembarangan kita berikan pada orang. Apalagi akhir-akhir ini, suhu politik Jakarta telah mendidihkan akal sehat kita, yang jika dibiarkan akan membuatnya menguap lalu lenyap. Ini persoalan serius, tanpa akal, manusia hanyalah binatang berbadan tegap yang beringas. Agama dan Pancasila.

Kerusuhan besar memang belum terjadi pasca tragedi 98 lalu. Akan tetapi tanda-tandanya sudah menyebar di mana-mana. Kini, saling menyalahkan dan bully adalah cara bermedia sosial kita. Berita-berita di telivisi tak pernah sepi dari kasus kriminal. Bahkan ujaran kebencian dijadikan materi khotbah di tempat-tempat ibadah.

Belakangan juga mencuat ide untuk mengubah Nusantara yang bhineka ini menjadi hanya tinggal sesuai dengan satu golongan saja. Ide NKRI bersyariah atau bahkan Daulah Islamiyah sudah terang-terangan dipropagandakan sekelompok umat beragama. Sungguhpun Indonesia tidak bisa lepas dari nilai agama, mengkampanyekan negara agama adalah sebuah aksi melawan Pancasila.

Ber-Indonesia adalah sebuah pilihan yang jauh sebelum kita mengenal alif ba ta, para founding father—yang sebagian besar juga pemuka berbagai agama—telah bersepakat membenamkan ego kelompok masing-masing menjadi fondasi bangunan yang bernama Republik Indonesia. Jadi berbantah-bantahan mengenai suku, agama, dan ras adalah kemunduran perjalanan bangsa. Karena mestinya yang soal begitu sudah selesai. Pancasila dan Undang-undang Dasar sudah final.

Namun demikian, sebagian kelompok merasa bahwa Indonesia dengan Pancasilanya harus diubah. Mereka bahkan tak sungkan menggunakan cara-cara kekerasan.

Survey dari Wahid Fondation pada 2016 lalu, sebagaimana diberitakan kompas.com, memperkirakan ada sekitar 500.000 orang Indonesia yang pernah terlibat aksi radikalisasi agama. Sebanyak 11 juta orang Indonesia bahkan menyatakan bersedia terlibat dalam kegiatan kekerasan berbasis agama. (Sebagai gambaran, jumlah penduduk DKI kini diperkirakan 10 juta jiwa).

Ironisnya, kekerasan tersebut justru dipicu oleh agama yang seharusnya menjadikan manusia tambah berakhlak. Tambah santun.

Agama dan negara adalah dua hal yang tidak perlu dibentur-benturkan. Sebab esensia dari keduanya adalah sama-sama untuk menertibkan kehidupan manusia. Maka relasi paling masuk akal dari keduanya adalah saling melengkapi (pada levelnya masing-masing) bukan malah saling menegasikan.

Agama, sebagai sebuah rahmat, bisa digunakan untuk menjiwai sistem negara apapun. Tidak perlu mengusung konsep khilafah untuk menjadi Islami. Pun tak selalu negara demokrasi itu anti Islam (atau agama lain).

Jikapun hari ini ada permasalahan sepertihalnya kemiskinin, kebodohan, atau kriminalitas, masalahnya bukan pada sistem negara apa yang kita anut. Melainkan ketidak-baikkan pengelola negara. Maka tugas umat Islam (yang mayoritas itu) adalah mendukung perbaikan pemerintahan, bukan malah merongrongnya.

Kalau kita mau sedikit jujur, kita bisa melihat, Islam yang kita tampilkan hari ini adalah Islam yang kekanak-kanakan. Islam yang maunya menang sendiri. Benar sendiri. Padahal pada konteks keduniaan, mestinya kita bisa bekerjasama dengan siapa saja. Setidaknya begitulah Nabi mencontohkannya dulu: hidup sinergis dengan non muslim.

Terakhir, selamat ulang tahun Pancasila! Semoga engkau tak hanya diseminarkan di aula-aula saja.

Comments

comments

Tags: Agama, bhineka tunggal ika, Indonesia, Islam, pancasila Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.