Menghindari Efek Domino First Travel

First Travel dan penipuan travel

Hanya mau mengingatkan, itu yang nempel di bibir berlian, bukan beras.

Masih segar dalam ingatan—bahkan kasusnya masih belum selesai ditangani—bagaimana gaya mewah yang dipamerkan bos First Travel, Annisa Hasibuan, kasus sejenis muncul kembali. Adalah agen travel bernama Dahsyat Baitullah yang bermarkas di Sulawesi Tenggara dilaporkan oleh beberapa penggunanya lantaran tak kunjung diberangkatkan umroh ke tanag suci. Setidaknya ada 77 calon jamaah yang terkatung-katung nasibnya, meski uang pemberangkatan sudah disetorkan. Warbyasah.

Beberapa waktu lalu saya sempat menulis bahasan ini dari sudut padang dimana orang-orang seolah “mabok agama”.  Kamu juga bisa menyimak –jika belum sempat membaca- di artikel saya yang berjudul “Panduan agar Cepat Kaya dengan Jualan Tuhan”.

Sedikit banyak mengikuti perkembangan kasus ini, muncul kegelisahan yang untungnya masih di level belum mengganggu jam tidur. Saya lihat beberapa hari ini ada sejumlah orang yang mem-posting baik berita maupun info layanan penyedia jasa  travel untuk umroh maupun haji. Adanya kasus First Travel tentu membuat konsumen harus berpikir dua kali untuk mengambil jadi dari penyedia layanan serupa.

Jelas kasus seperti ini menimbulkan trauma kalau-kalau konsumen malah menjadi korban penipuan lagi. Belum lagi uang yang dikeluarkan memang jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit. Maka saya melihat, travel agent mulai gencar kembali untuk menghindari berkurangnya jumlah pelanggan. Kembali membangun kepercayaan dengan memposisikan diri sebagai sumber bahan berita pada media masa tertentu. Sebab bahasan seperti ini bisa jadi aji mumpung, membuat peluang untuk mendapat keuntungan. Media mendapat bahan berita. Penyedia jasa setidaknya sudah melakukan promosi.

Lalu bagaimana dengan konsumen? Bagi calon konsumen harus pintar-pintar melihar riwayat penyedia jasa. Memilih layanan yang sudah terpercaya. Tidak sembarangan termakan omongan umroh murah atau haji murah. Alasan yang membuat First Travel mendapat begitu banyak korban. Maka jangan buru-buru! Kenali dulu calon penyedia jasa yang dipilih. Taaruf, begitu.

Namun, wahai para calon konsumen yang budiman. Perlu diingat, digarisbawahi, dibold, dan diitalic, harga mahal juga belum tentu bebas dari penipuan. Alasan banyaknya korban dari First Travel bisa jadi dimanfaatkan oleh kaum-kaum tertentu untuk menaikan jumlah harga. Kenaikan ini bisa jadi tanpa diiringi layanan yang sesuai dengan tarif yang ditawarkan. Selain itu, harga yang tidak wajar juga bisa jadi alat penipuan karena beberapa masih ada yang beranggapan “harga membawa rupa”. Padahal, bisa jadi itu penipuan tapi dibandrol harga mahal agar orang-orang beranggapan itu asli dan dapat dipercaya. Kasarnya, pembodohan konsumen.

Calon pelanggan dituntut untuk ekstra hati-hati agar keinginannya terpenuhi dan uang yang telah dikumpulkan bertahun-tahun itu tidak raib hilang begitu saja. Sebab bukan mendapat simpati, beberapa orang bahkan sama sekali tidak peduli. Saya mengatakan demikian karena ketika korban First Travel mulai banyak diberitakan, berberapa orang yang awalnya tidak peduli dengan penggusuran, nasib petani, dan import bahan pangan tiba-tiba merasa kalau hal tersebut lebih penting dibandingkan para korban.

Barangkali sikap seperti itu muncul karena ada unsur kedekatan dan oposisi. Kasus First Travel sedikit banyak memiliki sangkut paut dengan unsur keagamaan. Jelas bagi penganutnya itu menimbulkan perasaan tidak nyaman. Meskipun jelas-jelas uang jamaah dipakai modal fesyen show di london juga untuk menghias bibir pake berasberlian. Padahal itu tu senyata-senyata penistaan.

Kemudian bagi yang kontra terhadap pemerintah bisa saja langsung melarikan isu pada kebijakan yang dilakukan presiden yang tidak menyejahterakan rakyat. Bagus memang mengkritik, tapi apakah simpati jadi berkurang?

 

Baca juga tulisan-tulisan terbaru Aifia di esensiana:

Yang Membanggakan dari Sinetron Indonesia
Menjadi Perempuan yang (Tak) Baik
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga