Ajaran Sederhana tentang Agama dari Orang Tua di Kampung

Agama di kampung

Yang sederhana, kerap terlupa meski mengena

Aku bersykur terlahir dari keluarga yang memahami agama secara sederhana, menjalankan ibadah tanpa banyak tanya dan tanpa banyak dalil.

Orang tuaku belajar agama memang secara “tradisional” pun begitu juga akan pemahamannya, masih tradisional juga. Ayah ibu mengajarkan agama secara sederhana saja, diajarkan shalat dan baca Al-quran, tanpa dijelaskan ini shalat gaya NU dan yang seperti ini gaya Muhammadiyah. Bagi mereka yang penting, anaknya tau siapa Tuhannya, dan mau menyembahnya. Sebuah pola berfikir sederhana namun berdayaguna.

Mungkin orang tuaku sadar, mengenalkan agama beserta Tuhannya sejak belia adalah sangat penting. Itulah sebabnya walau ajaran orang tuaku “hanya” shalat dan baca qur’an, tapi mereka sangat keras dan di siplin. Karena mereka yakin, bila anaknya sudah mengenal Tuhan, mereka tidak perlu khawatir kan masa depan si anak. Dan lagi lagi, ini cara berfikir yang sederhana.

Ayah dan ibu menyadari, mereka “bisanya” cuma shalat dan baca qur’an jadi untuk hal yang lebih aku diminta belajar kepada orang lain agar bisa ilmu tauhid, tajwid, fiqih dan lain sebagainya. Bagi orang tuaku, ilmu agama itu harus di ajarkan dari kecil, karena kalau sudah besar pasti si anak sulit diatur atau sudah tidak ada waktu untuk belajar.

Sejak SD kelas 2 aku sudah menjadi muadzin di masjid khususnya untuk waktu magrib atau isya. Orang tuaku biasanya akan marah kalau aku terlambat ke masjid dan tidak adzan. Pernah suatu sore, ketika hendak adzan maghrib tapi speaker mesjidnya mati, jadi adzan terpaksa dilakukan manual. Karena tidak mendengar suara adzan, ayah mengira kalau aku tidak shalat, dan ketika  pulang ke rumah dia memarahiku habis -habisan. Ibu yang tau aku sudah ke masjid membela, maka terjadilah adu mulut di antara mereka. Aku saat itu hanya bisa menangis saja, mereka adu mulut gara-gara suatu hal yang untuk orang tua zaman sekarang di anggap ” sepele”.

Aku  sempat belajar agama, tapi tidak di pesantren karena pesantren memang tidak ada waktu itu. Aku hanya belajar di madrasah tradisional selama masih di SD, pagi sekolah sore belajar agama. Di madrasah aku pernah belajar tauhid, nahwu, sharaf, fiqih dan tajwid yang kesemuanya masih dalam tingkat dasar.

Selain  itu aku selalu bersemangat untuk belajar al qur’an. Aku pernah berganti -ganti guru mengaji, berpindah dari satu mushala ke mushala yang lain. Orang tua ku selalu mengizinkan, mereka tidak khawatir walau mushala tempat mengaji lumayan jauh dan harus jalan kaki di malam hari. Mungkin mereka sadar, kalau aku sampai tidak bisa mengaji siapa yang akan mendoakan mereka kalau sudah mati.

Satu hal yang ku ingat, orang tuaku tidak pernah memberi tahu aku ini orang NU atau Muhammadiyah, mungkin orang tuaku takut, jika mengajarkan islam berdasarkan faham golongan jika sudah besar aku akan menjadi islam yang sentimen dengan golongan lain.

Terima kasih ayah, ibu kalian sudah mengenal aku Allah, Islam secara sederhana, setidakny ini akan menjadi bekal untukku, untuk ilmu yang lebih insyaallah aku yang cari sendiri. Semoga kesehatan dan kemurahan rezeki Nya selalu ada pada kalian. Amiiin.

Baca artikel tentang agama lain di rubrik nyunah esensiana

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga