Agama di kampung

Ajaran Sederhana tentang Agama dari Orang Tua di Kampung

21/10/2017 243 0 0

Agama di kampung

Yang sederhana, kerap terlupa meski mengena

Aku bersykur terlahir dari keluarga yang memahami agama secara sederhana, menjalankan ibadah tanpa banyak tanya dan tanpa banyak dalil.

Orang tuaku belajar agama memang secara “tradisional” pun begitu juga akan pemahamannya, masih tradisional juga. Ayah ibu mengajarkan agama secara sederhana saja, diajarkan shalat dan baca Al-quran, tanpa dijelaskan ini shalat gaya NU dan yang seperti ini gaya Muhammadiyah. Bagi mereka yang penting, anaknya tau siapa Tuhannya, dan mau menyembahnya. Sebuah pola berfikir sederhana namun berdayaguna.

Mungkin orang tuaku sadar, mengenalkan agama beserta Tuhannya sejak belia adalah sangat penting. Itulah sebabnya walau ajaran orang tuaku “hanya” shalat dan baca qur’an, tapi mereka sangat keras dan di siplin. Karena mereka yakin, bila anaknya sudah mengenal Tuhan, mereka tidak perlu khawatir kan masa depan si anak. Dan lagi lagi, ini cara berfikir yang sederhana.

Ayah dan ibu menyadari, mereka “bisanya” cuma shalat dan baca qur’an jadi untuk hal yang lebih aku diminta belajar kepada orang lain agar bisa ilmu tauhid, tajwid, fiqih dan lain sebagainya. Bagi orang tuaku, ilmu agama itu harus di ajarkan dari kecil, karena kalau sudah besar pasti si anak sulit diatur atau sudah tidak ada waktu untuk belajar.

Sejak SD kelas 2 aku sudah menjadi muadzin di masjid khususnya untuk waktu magrib atau isya. Orang tuaku biasanya akan marah kalau aku terlambat ke masjid dan tidak adzan. Pernah suatu sore, ketika hendak adzan maghrib tapi speaker mesjidnya mati, jadi adzan terpaksa dilakukan manual. Karena tidak mendengar suara adzan, ayah mengira kalau aku tidak shalat, dan ketika  pulang ke rumah dia memarahiku habis -habisan. Ibu yang tau aku sudah ke masjid membela, maka terjadilah adu mulut di antara mereka. Aku saat itu hanya bisa menangis saja, mereka adu mulut gara-gara suatu hal yang untuk orang tua zaman sekarang di anggap ” sepele”.

Aku  sempat belajar agama, tapi tidak di pesantren karena pesantren memang tidak ada waktu itu. Aku hanya belajar di madrasah tradisional selama masih di SD, pagi sekolah sore belajar agama. Di madrasah aku pernah belajar tauhid, nahwu, sharaf, fiqih dan tajwid yang kesemuanya masih dalam tingkat dasar.

Selain  itu aku selalu bersemangat untuk belajar al qur’an. Aku pernah berganti -ganti guru mengaji, berpindah dari satu mushala ke mushala yang lain. Orang tua ku selalu mengizinkan, mereka tidak khawatir walau mushala tempat mengaji lumayan jauh dan harus jalan kaki di malam hari. Mungkin mereka sadar, kalau aku sampai tidak bisa mengaji siapa yang akan mendoakan mereka kalau sudah mati.

Satu hal yang ku ingat, orang tuaku tidak pernah memberi tahu aku ini orang NU atau Muhammadiyah, mungkin orang tuaku takut, jika mengajarkan islam berdasarkan faham golongan jika sudah besar aku akan menjadi islam yang sentimen dengan golongan lain.

Terima kasih ayah, ibu kalian sudah mengenal aku Allah, Islam secara sederhana, setidakny ini akan menjadi bekal untukku, untuk ilmu yang lebih insyaallah aku yang cari sendiri. Semoga kesehatan dan kemurahan rezeki Nya selalu ada pada kalian. Amiiin.

Baca artikel tentang agama lain di rubrik nyunah esensiana

Comments

comments

Tags: agama di kampung, agama sederhana, memahami agama dengan sederhana, orang tua kampung Categories: Edusiana, esensiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aef Nandi Setiawan Aef Nandi Setiawan

Founder & GM Indonesian Creative Coop Researcher at Kopkun Institute Vice Secretary at Natural resources department HMI Badko Jateng - DIY

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.