Aku Alay Maka Aku Ada

Aku Alay Maka Aku Ada

Semua manusia ingin terlihat, dandan ketika hendak bepergian, berpose ketika hendak dipoto, pergi ke salon untuk sekedar mengkilapkan kuku, atau rela menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk mewarnai rambut. Pada contoh yang lebih mengerikan, aku mendapati segolongan umat yang jor-joran membeli baju dan tas seharga bus antar kota antar propinsi. kesemua tadi, terlepas dari yang menghabiskan ratusan ribu hingga yang ratusan juta, sebenarnya bermuara pada tujuan yang sama. Ingin dilihat!

Era digital yang sekarang bertahta atas dunia mempermudah segalanya. Dunia maya telah melanggengkan nafsu pamer anak cucu adam. Ditengah tuntutan pamer instan, mengingat memang dunia sekarang menuntut kecepatan, berbagai akun media sosial menjawab tantangan tersebut. Ada banyak ragamnya. Untuk yang konvensional kita dimanjakan facebook dan twitter. Sementara untuk yang lebih kekinian ada path, intsagram, pinterest, tumblr dan aneka rupa aplikasi silaturahmi lain. Belum lagi aneka aplikasi chating berbasis ponsel. Hah dunia ini penuh ladang interaksi!

Sebagai konsekuensi logis dari munculnya berbagai media interaksi dunia maya tadi, maka muncul semangat pamer dan saling mengungguli. Anda boleh tidak percaya dengan tesis saya tersebut. Tapi coba lihat, berapa teman BBM Anda yang memasang gambar makanan atau dashboard mobil? Memangnya Anda pikir untuk apa mereka memasang itu semua? Supaya kenyangnya lebih lama atau perjalanannya selamat? Ah sebagai insan beragama sepertinya kita diajarkan berdoa bukan mempoto. Ya kan?

Lingkungan yang seperti itu akan menggeser kebiasaan dan paradigma kita. Pernah mendengar pernyataan tokoh revolusioner dunia yang menjungkir-balikkan pendapat manusia saat itu? Perhatikan baik-baik, begini bunyi pernyataannya. Dalam bukunya A Contribution to the Critique of Political Economy, Karl Marx  berujar “… bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tapi keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka”.

Secara jelas Marx mengatakan bahwa perilaku kita sebenarnya dipengaruhi oleh lingkungan kita. Jadi, sederhananya, kita tak bisa sama sekali berdaulat menentukan sikap diri. Pada lingkungan yang serba terdokumentasi dan terpublikasi kita menjadi terangsang untuk melakukan hal serupa. Tapi sekali lagi, pamer itu tidak mutlak karena kepandiran kita kok. Malahan memang kita mesti begitu. Ya emang situ mau ketinggalan untuk menyukai photo terbaru Selena Gomes yang sedang ngemut botol coca-cola di akun medosnya?

Sejarah tentang pencarian eksistensi manusia sebenarnya sudah sejak lama. Dari dahulu kala para filsuf sudah berdebat untuk mencari eksistensi manusia. Tentang ke-ada-an manusia seorang filsuf asal perancis, Descartes,  pernah membuat teorinya. Cogito ergo sum atau kira-kira artinya aku berpikir maka aku ada. Begitulah Discartes mencoba menulusuri jejak ke-ada-an dirinya. Tapi tentu itu hanya sebatas teori, kalau tidak mau disebut opini, dari Descartes.

Sayangnya Descartes lahir terlalu dini. Coba kalau Descartes tinggal di masa sekarang, masa di mana camera beauty telah menginvasi pabrik kosmetik legendaris seperti Marta Tilaar. Pasti doi akan kena teorinya Marx dan dalil filsafatnya akan berganti “Aku Alay Maka Aku Ada”. Sungguh itu sangat masuk akal. Rasional.

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga