Aku Alay Maka Aku Ada

Aku Alay Maka Aku Ada

14/07/2016 192 0 0

Aku Alay Maka Aku Ada

Semua manusia ingin terlihat, dandan ketika hendak bepergian, berpose ketika hendak dipoto, pergi ke salon untuk sekedar mengkilapkan kuku, atau rela menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk mewarnai rambut. Pada contoh yang lebih mengerikan, aku mendapati segolongan umat yang jor-joran membeli baju dan tas seharga bus antar kota antar propinsi. kesemua tadi, terlepas dari yang menghabiskan ratusan ribu hingga yang ratusan juta, sebenarnya bermuara pada tujuan yang sama. Ingin dilihat!

Era digital yang sekarang bertahta atas dunia mempermudah segalanya. Dunia maya telah melanggengkan nafsu pamer anak cucu adam. Ditengah tuntutan pamer instan, mengingat memang dunia sekarang menuntut kecepatan, berbagai akun media sosial menjawab tantangan tersebut. Ada banyak ragamnya. Untuk yang konvensional kita dimanjakan facebook dan twitter. Sementara untuk yang lebih kekinian ada path, intsagram, pinterest, tumblr dan aneka rupa aplikasi silaturahmi lain. Belum lagi aneka aplikasi chating berbasis ponsel. Hah dunia ini penuh ladang interaksi!

Sebagai konsekuensi logis dari munculnya berbagai media interaksi dunia maya tadi, maka muncul semangat pamer dan saling mengungguli. Anda boleh tidak percaya dengan tesis saya tersebut. Tapi coba lihat, berapa teman BBM Anda yang memasang gambar makanan atau dashboard mobil? Memangnya Anda pikir untuk apa mereka memasang itu semua? Supaya kenyangnya lebih lama atau perjalanannya selamat? Ah sebagai insan beragama sepertinya kita diajarkan berdoa bukan mempoto. Ya kan?

Lingkungan yang seperti itu akan menggeser kebiasaan dan paradigma kita. Pernah mendengar pernyataan tokoh revolusioner dunia yang menjungkir-balikkan pendapat manusia saat itu? Perhatikan baik-baik, begini bunyi pernyataannya. Dalam bukunya A Contribution to the Critique of Political Economy, Karl Marx  berujar “… bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tapi keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka”.

Secara jelas Marx mengatakan bahwa perilaku kita sebenarnya dipengaruhi oleh lingkungan kita. Jadi, sederhananya, kita tak bisa sama sekali berdaulat menentukan sikap diri. Pada lingkungan yang serba terdokumentasi dan terpublikasi kita menjadi terangsang untuk melakukan hal serupa. Tapi sekali lagi, pamer itu tidak mutlak karena kepandiran kita kok. Malahan memang kita mesti begitu. Ya emang situ mau ketinggalan untuk menyukai photo terbaru Selena Gomes yang sedang ngemut botol coca-cola di akun medosnya?

Sejarah tentang pencarian eksistensi manusia sebenarnya sudah sejak lama. Dari dahulu kala para filsuf sudah berdebat untuk mencari eksistensi manusia. Tentang ke-ada-an manusia seorang filsuf asal perancis, Descartes,  pernah membuat teorinya. Cogito ergo sum atau kira-kira artinya aku berpikir maka aku ada. Begitulah Discartes mencoba menulusuri jejak ke-ada-an dirinya. Tapi tentu itu hanya sebatas teori, kalau tidak mau disebut opini, dari Descartes.

Sayangnya Descartes lahir terlalu dini. Coba kalau Descartes tinggal di masa sekarang, masa di mana camera beauty telah menginvasi pabrik kosmetik legendaris seperti Marta Tilaar. Pasti doi akan kena teorinya Marx dan dalil filsafatnya akan berganti “Aku Alay Maka Aku Ada”. Sungguh itu sangat masuk akal. Rasional.

Comments

comments

Tags: alay, cara agar diakui, descartes Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.