Apa Kata Facebook Tentang Lebaran Haji Kali Ini?

Idul Qurban

Sebaiknya memang kita tidak sembarangan bertukar peran. Apalagi saat Idul Qurban.

Idul Qurban a.k.a lebaran haji, sebagaimana momen-momen perayaan lain, adalah sekaligus waktu yang tepat untuk merenung. Perayaan dan perenungan memang kerap tampil dalam satu paket. Dan kita, sebagai makhluk berakal, memiliki kedaulatan untuk memilih salah satunya: larut dalam sebuah perayaan atau tunduk dalam sebuah perenungan.

Dua-duanya, menurut kami, sama-sama baik. Paling tidak, bisa dibaca sebagai perwujudan dari rasa syukur ataupun mawas.

Maka pada Idul Adha ini, ditengah hiruk pikuk prosesi penyembelihan hewan qurban juga perdebatan tentang apakah akan disate atau disup saja, kami mengajak semuanya untuk merenung. Mengangkat hal-hal yang jarang ditampakkan pada sebuah lebaran akbar umat Islam ini.

Dan apakah kami sudah sequalified khotib Idul Adha sehingga berani mengambil peran khotbah? Woya tentu tidak, eh belum.

Sebagai gantinya, kami copaskan status-status facebook, yang sayangnya  juga tak mirip sama sekali dengan khotbah ataupun ceramah. Tapi tidak masalah, bukankah hikmah selalu bisa datang dari pintu mana saja? Termasuk status-status facebook ini.

Soal kenapa memilih facebook? Karena facebooklah media paling egaliter. Kita ditawarkan untuk menjadi teman, bukan pengikut. Dan tentu saja, karena status pertemanan itulah kami kemudian berani mencopas status begitu saja tanpa khawatir akan dimarahi. Masak sama teman gitu, copas statusnya aja ga boleh?

Rizal Mubit [30 Agustus 2017]

Pah, kok bisa ya Allah mememerintah Ibrahim menyembelih anaknya. Sepertinya tega banget. Tapi aku yakin ada rahasianya, Pah. Papah pasti tahu bagaimana kisahnya.”

“Oh iya, Sayang. Ada kisahnya. Dulu kan pernah kukisahkan padamu. Jadi begini kisahnya, Mah. Suatu ketika Nabi Ibrahim melihat orang maksiat. Dia meminta kepada Allah, ‘Ya Allah orang itu makan dari rizkimu, hidup di atas bumimu tapi ingkar pada perintahmu.’ kata Ibrahim.

Allah menuruti. Namun setiap melihat kemaksiatan nabi Ibrahim bilang begitu. Meminta Allah mencabut nyawa pelaku maksiat. Allah pun bilang, ‘Kalau kamu selalu memintaku mencabut nyawa hambaku, nanti habis dong manusia? Kamu ini kan baru melihat kemaksiatan selama hidupmu. Aku melihat kemaksiatan manusia sejak dahulu. Sejak sebelum ada dirimu di dunia. Dan aku tak seekstrim dirimu yang ingin langsung membunuh mereka. Tapi menunggu taubatnya mereka. Bukan menghabisi mereka.’ begitu jawaban Allah.”

Sampai terjadilah perintah Allah untuk menyembelih anaknya melalui mimpi. Nabi pun Ibrahim mikir-mikir. Ndak tega membunuh anaknya karena rasa kasih sayang pada anaknya. Allah pun bilang, ‘Him, kemarin waktu kamu memintaku membunuh pelaku maksiat saja langsung aku turuti. Kok sekarang aku memerintahkanmu membunuh anakmu kok kamu mikir-mikir?’

Ibrahim menjawab, ‘Aku sayang anakku ya Allah.’ Wajar dong mah kalau nabi Ibrahim demikian. Kan sudah lama pengen punya anak. Eh pas punya anak sedang lucu-lucunya kok ya disuruh menyembelih.

“Lalu Allah bagaimana, Pah?” tanya istriku.

“Allah bilang begini, ‘Oh. Jadi kemarin waktu memerintahku untuk membunuh pelaku maksiat, berarti kamu tidak sayang pada mereka.’

“Jadi begitu, Mah. salah satu rahasianya. Nabi Ibrahim dan para pengikutnya termasuk kita, selain diajari untuk berkurban juga diajarkan untuk memiliki kasih sayang kepada sesama manusia. Bukan sok-sokan merasa benar lalu mengutuk orang yang melakukan kemaksiatan seolah diri kita tak punya dosa. Sweeping sana. Sweeping sini. Hantam sana. Hantam sini. Bukan begitu caranya.”

“Hmmmm. Begitu ya, Pah. Jadi papah sayang banget dong sama aku?”

“Kalau itu ya ndak usah ditanyakan, Sayang. I love you full.”

(Lalu diciumlah pipiku tanpa diminta).

Alfian Ihsan [ 31 Agustus 2017]

Berbuat dosalah seenak jidatmu karena semua akan terhapus dengan satu hari puasa sunnah Arafah…

Aef Nandi Setiawan [ 31 Agustus 2017]

Kak Herdiyanto Windrawan Nganu, sayakan mau kurban perasaan nih. Banyak. Bisa gak sampeyan bantu distribusikan setiap potongan perasaan itu pada yang berhaq…?

*****

Udah sih itu aja status yang bisa kami copas. Itupun sudah capek nyarinya. Mungkin karena memang sudah semakin sedikit umat yang mau merespon Idul Qurban di facebook. Mayoritas meresponnya di dapur!

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga