Mencari Tahu Asal Muasal Jalan dr. Angka di Purwokerto

sejarah jalan dokter angka

Jalan Dokter Angka kala malam hari. Syahdu betul.

Bagi warga Purwokerto tentu sudah tak asing dengan namanya jalan Dokter Angka, yang termasuk sebagai salah satu jalan protokoler di Purwokerto.

Jalanya yang besar dan konturnya yang bagus membuat pemakai jalan ini merasa nyaman. Apalagi pepohonannya yang rindang menjadi filter cahaya, baik lampu maupun sinar matahari, membuat pemandangannya jadi aduhai. Maka tak ayal pada setiap malam Minggu banyak muda-mudi yang suka nongkrong di sini.

Kalau saya pribadi tidak suka Nongkrong. Karena selain tidak punya pacar untuk malmingan, sebagai anak yang dikenal baik-baik dan melek kesehatan, nongkrong, apalagi sampai begadang, adalah adalah pekerjaan sia-sia. Bang Roma bilangnya begitu.

Oh ya sebenarnya tulisan ini tidak ingin membahas soal nongkrong, apalagi Bang Roma. Saya hanya ingin membahas tentang nama jalan yang bagi saya terdengar unik. Terutama, karena namanya terdiri dari dua kata yang merujuk pada profesi yang aneh. Yaitu dokter angka. Kenapa tidak dokter gigi atau dokter kandungan, atau dokter anak. Intinya kok malah dokter angka ya? Emangnya ada penyakit angka? Atau mungkin nama ini diambil karena di sekitar banyak tempat les matametika ya?

Eitsss jangan salah dulu, ternyata nama ini diambil dari salah satu nama tokoh di Purwokerto yang kiprahnya tidak diragukan. Dialah Dokter Angka. Namanya Angka, salah satu dari orang Banyumas yang mengikuti sumpah pemuda tahun 1928. Hebat bukan? Gak kaya kamu yang sumpahnya hanya untuk mencintai doi sampai mati eh ternyata baru beberapa bulan sudah putus.

Soal siapa lebih detail tentang Dokter Angka, sayangnya saya belum bisa tulis. Kurangnya literatur tentang beliau membuat saya sulit menjelaskannya. Sama seperti saya sulit menjelaskan cinta saya kepadanya, eh malah curhat sori sori.

Saya pernah ikut diskusi di juguran syafaat, dari situ saya tau bahwasanya Dokter Angka secara pemikiran amat cerdas. Tapi karena seperti kita ketahui bahwa bahasa Banyumas yang ngapak dan terkenal lucu, maka ketika dia menjelaskan pemikirannya banyak yang tertawa. Tentu karena dialeknya yang berbeda dengan yang lain, sehingga dalam kongres selanjutnya Dokter Angka lebih banyak diam.  Sungguh sangat disayangkan memang, orang cerdas justru tidak mendapat cukup penghargaan untuk menyampaikan gagasannya.

Tapi cerita tersebut saya tidak berani mengatakan asli atau tidak, karena semua berdasarkan cerita dari mulut ke mulut yang perawinya tak jelas.

Saya sangat berharap suatu saat bisa mencari literatur tentang beliau atau bisa wawancara bersama keluarganya. Saya pribadi yakin bahwa kiprah Dokter Angka memiliki banyak kecakapan sehingga namanya masuk dalam jajaran penggerak Sumpah Pemuda.

Oh ya bagi pembaca tulisan saya bagi yang punya literatur tentang beliau saya boleh pinjam gak hehe santai nanti saya traktir kopi. Lalu kita bikin tulisan sebagai fakta sejarah. Karena kisah-kisah beliau masih jarang padahal penting. Saat ini saya sih berusaha menelitinya, namun karena tugas kuliah yang banyak dan masalah asmara yang tak kunjung kelar sehingga belum terlalu intens. Hiks.

Syukur bagi pecinta sejarah, khususnya Banyumas, bisa menyebarluaskan sejarah Dokter Angka. Sementara tujuan tulisan ini hanya sekedar memberi sedikit info tentang asal usul nama jalan besar di Purwokerto. Ohya kalau mau meneliti jangan lupa ajak saya, tapi kalau cuma mau ziarah, makam beliau saat ini ada di makam Kebutuh Sokaraja.

Suatu waktu saya pernah mencoba ke makam tersebut ternyata kompleks makam tersebut sangat panjang dan dari bentuk nisan yang ada di makam tersebut saya banyak mirip bentuk makam Belanda. Tapi saya tidak masuk ke kompleks makam, karena selain Gerbang dikunci, saya juga tidak mempunyai nyali masuk ke makam malam-malam. Ya tau sendirilah pergi ke rumah gebetan saja tidak berani apalagi ke makam kuburan tua.

Ambisi saya meneliti tentang Dokter Angka supaya, siapa tau, saya bisa jadi sejarawan. kalau sudah jadi sejarawan saya sudah gak mau nulis di esensiana. Selain capek juga gak ada royaltinya eh maaf ya bang Fajar dan Aef tapi ini jujur kok dari hati. Bukankah kejujuran lebih tinggi nilainya di sisi Allah ketimbang pura-pura? Hehe.

 

Penulis: Tubagus Sendi Dipantara.  Sekum HMI Ibnu Sina, lelaki baik kesayangan mama.

Baca tulisan lain di esensiana tentang Purwokerto:

1. Tempat Alternatif Ngabuburit saat Ramadan di Purwokerto
2. Konsumerisme : Purwokerto Menyongsong Era Kapital
3. Gerakan Purwokerto Kota Koperasi 2022

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga