Baju Lebaran Beni

Lebaran sebentar lagi- Beni masih mengantuk kala digendong ibunya menyeruak kerumunan pasar. Anak balita itu tampak lesu sambil sesekali menoleh. Matanya sayu diterpa sinar mentari pagi. Ia terkantuk kantuk usai semalam turut bangun menemani ibunya sahur. Sebenarnya ini kali ketiga Beni diajak ke pasar, tapi baru pertama ia mendapati pasar seramai ini.

Sudah menjadi tradisi di Indonesia, jika lebaran menjelang maka wajib hukumnya membeli sandang. Dari kanak-kanak hingga yang tua ramai-ramai membeli baju, sarung, dan sendal. Entah kenapa kesemua ritual konsumtif tadi menjadi amat sakral untuk dilanggar. Ada semacam dosa sosial yang harus ditanggung jika berlebaran tanpa sesuatu yang baru yang melekat ditubuh.

Beni kecil adalah satu dari jutaan anak yang sejak melek langsung dipamerkan budaya belanja. Utamanya jika lebaran. Sejak tradisi beli baju lebaran diperkenalkan di wilayah kesultanan Banten 1596 lalu, muslim Indonesia begitu loyal berbelanja lebaran. Baju baru hanyalah satu dari jubalan belanja wajib lebaran.

Untuk sektor pangan, deretan menu seperti opor, ketupat, wajik, hingga nastar tersaji. Sementara di sektor lain yang lebih anarkis dan ceremonia ada mercon dan kembang api. Kesemua itu mestilah ada. Karena sudah menjadi rukun lebaran. Tanpa itu semua tidaklah sah lebaran seseorang.

Sebagai gambaran betapa lebaran kita mendadak kaya, Bank Indonesia, dalam rilisnya tahun 2015 mengatakan bahwa pada saat menjelang dan pasca Idul Fitri uang yang bergulir dari umat muslim mencapai 125 Triliun. Uang yang jumlahnya bisa untuk membangun 17.857 Masjid Istiqlal itu turut besuka merayakan lebaran. Manifestasinya tentulah menjadi kuah opor, deburan kertas mercon, dan letupan kembang api. Adapun sisanya menjadi sandang modis kaum sosialita tanggung.

Taruhlah perputaran uang tersebut betul menggerakan ekonomi perkampungan, tapi itu cuma fatamorgana. Betul bahwa saat lebaran jutaan orang pulang kampung dan jor joran membelanjakan uangnya di kampung. Tapi ketahuilah perputaran uang tersebut amat cepat dan akan segera kembali ke kota.

Jatuhnya masyarakat Desa hanya jadi penonton sementara. Tak ada pemberdayaan di situ. Barang-brang yang dibeli oleh Ibu Beni adalah barang-barang konsumtif yang cepat lenyap. Sialnya pula, barang-barang itu diproduksi dan dijual di kota. Tentulah jika uang yang dikumpulkan satu tahun lamanya oleh Ayah Beni hanyalah mampir ngombe. Setelah itu secepat kilat akan kembali ke pusat-pusat produksi, di kota sana.

Andai saja membeli baju baru tak semendesak itu. Uangnya tentulah bisa ditabung dulu. Buat beli jago, kambing atau bahkan lembu. Jika sabar dan beruntung, Beni dan keluarga bukan hanya akan mendapat baju baru. Beberapa tahun lagi motor baru terasa mudah.

Tapi apa lacur, sabar memang dicipta menyebalkan. Lagipula sebagaimana tahyat dalam shalat, lebaran juga tidak sah tanpa baju baru. Selain itu baju baru ini penting untuk menegakkan perjuangan kelas. Masih inget dengan wejangan jawa “ajining rogo soko busono?”. Begitulah yang terjadi. Untuk apalagi kalo bukan untuk silaturahmi atau reuni. Keduanya merupakan tempat yang pas untuk unjuk kelas sosial. Dan baju adalah wajahnya.

Di penghujung tulisan, situ mestinya bisa menyimpulkan apa maksudku menulis ini semua. Terang saja tak akui, tulisan ini berangkat dari rasa iri, bahwa lebaran kali ini, baju baru gagal terbeli.

Comments(2)

  1. maria marisca sutikno
    13/07/2016
  2. 15/07/2016

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga