Balada Wisuda: Memilih Jadi Si Ceroboh atau Pecundang

Wisuda merupakan momen yang unik. Ia adalah saat yang ditunggu oleh sebagian mahasiswa sekaligus dibenci oleh sebagian yang lain. Wisuda dirindu oleh mereka yang rajin, pintar, dan tawakal. Sementara bagi mereka yang tuna ilmu, pemalas, dan cepat bosan, wisuda merupakan momen yang menjengkelkan. Coba situ bayangkan, hati siapa tak luka jika melihat rekan satu kelasnya memasang senyum merekah membopong segepok bunga berpose bareng keluarga. Sementara kita  cuma bisa melongo melihat kejadian naas tersebut.

Dikampusku, kampus yang kini makin mendunia dan saya doakan agar juga mengakherat ini wisuda digelar dua kali saben taunnya. Tepatnya pada bulan Maret dan September, sehingga di bulan-bulan menjelang wisuda seperti ini banyak mahasiswa tingkat akhir yang kelimpungan kesana-kemari. Mereka sibuk menyiapkan berkas persyaratan wisuda yang jumlahnya tak kalah ribet dari syarat mendirikan usaha tambang. Yang jelas mereka yang telah bertekad untuk segara merengkuh gelar sarjana harus melewati rintangan sulit berupa revisi dan birokrasi.

Situasi menjadi semakin sulit bagi saya dan ribuan rekan saya yang kuliah di kampus luar negeri (baca: swasta).  Kami dihadapkan pada pilihan yang dilematis, tak ubahnya buah semelekete. Kedua pilihan, baik memlih cepat wisuda ataupun menundanya, sama sekali tidak menguntungkan. Keduanya sama, berujung memilukan-memalukan. Sebab memilih cepat wisuda berarti memilih untuk cepat menjadi pengangguran sedangkan memilih menunda wisuda berarti memilih dilabeli begok dan bermental pecundang.
Kalau begini coba dikau akan pilih mana?

Soal dikotomi negeri-swasta ini memang sudah sejak dari sononya membelah belantara otak manusia Indonesia. Definisi keduanya ya gampang saja. Mereka yang sekolah atawa kuliah di kampus negeri pasti mereka yang berotak cemerlang, sang manusia pilih tanding. Sementara yang swasta ya sisanya, semacam bromocorah kelas rendah yang berotak pas-pasan. Dikotomi semacam itu pulalah yang berlaku pada dunia kerja, sehingga sudah bisa ditebak kepada lulusan kampus apa pilihan para HRD akan dijatuhkan.

Setiap tahun lulusan setingkat perguruan tinggi di Indonesia terus meningkat. Saat ini, lebih dari 600.000 lulusan perguruan tinggi Indonesia menganggur. Pengangguran terdidik ini sebagian besar adalah mereka yang selama kurang lebih empat tahun mengaduk kopi dengan bungkusnya. Padahal, tambahan lulusan perguruan tinggi hampir satu juta orang per tahun. Ohya sebagai gambaran nih setiap 1% pertumbuhan ekonomi nasional akan menyerap kira-kira 400 ribu tenaga kerja. Sekarang coba situ hitung sendiri deh betapa sesaknya antrean lowongan kerja di nusantara ini. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5% dan para pencari kerja yang tiap tahunnya mencapai 2,5 juta orang ditambah akumulasi dari yang tertolak dari tahun sebelumnya maka sudah terlihat akan menjadi apa wisudawan kita.

Hal seperti diataslah yang membuat mereka yang tanpa perhitungan memilih lekas wisuda seolah sedang menyiapkan kuburan untuk mukanya sendiri. Isin rek, wes kuliahan nganggur.

Bagi mereka yang memilih menunda wisuda kondisinya lebih tragis lagi. Selain resiko nganggurnya lebih besar-mengingat teori akumulasi pengangguran- ia juga akan dilabeli bego, malas, atau pecundang tapi juga dibebani biaya daftar ulang dan lifing cost seiring naiknya ongkos burjo yang patuh pada meningkatnya inflasi. Belum lagi soal ancaman boikot dari para gebetan yang enggan melihat calonnya tak kunjung wisuda dan kerja.

Harus diakui, hari ini memilih pasangan juga tunduk pada hukum ekonomi. Siapa yang memiliki kapital besar akan mendapatkan pasangan yang qualified. Seturut dengan low of supplay and demand mereka yang cantik juga umumnya jual mahal lantaran merasa dirinya cukup langka sedang peminatnya banyak. Jika sudah begini maka tinggal mereka yang berduitlah yang sanggup membayar. Situ yang nganggur apalagi abadi dikampus? Hah jangan berharap.

Oleh karenanya, pada akhir wasiat ini, saya hendak berpesan. Antara kamu yang ngebet wisuda dengan yang menundanya jangan saling memperolok. Sesungguhnya kamu sekalian berada pada pilihan yang sama sulitnya; menjadi si ceroboh atau si pecundang.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga