Bayi-Bayi dan Kekhawatiran Orang Tua

23/02/2018 146 0 0

Ada dua jenis bayi di muka bumi, yakni bayi yang dilahirkan dan bayi yang digugurkan. Tulisan ini akan membicarakan tentang bayi jenis pertama.

Kebanyakan orang yang sudah berpasangan dan memilih untuk menikah berharap dikarunia anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Entah karena keinginan pribadi, tuntutan orang tua yang berharap segera menggendong cucu, atau  hanya sekadar mengikuti keinginan masyarakat yang selalu bertanya perihal sudah isi atau belum.

Bagi pasangan yang sudah menikah menahun namun belum berketurunan, barangkali sudah berkali-kali melakukan upaya untuk menghadirkan segumpal daging dalam perut pasangan perempuannya. Cek kesehatan, mengikuti saran dari dokter kandungan, atau meningkatkan daya seksualitas dengan berkunjung ke klinik-klinik, Tong Fang mungkin.

Tapi, ada kalanya usaha-usaha yang dilakukan tidak keburu membawa hasil. Keputusasaan bisa saja datang tapi tidak menghentikan upaya apapun. Sebagian tetap percaya dan berjuang untuk mendapatkan seseorang yang diharapkan bisa meneruskan garis keturunan. Sebagian lain bisa menempuh jalan lain, adobsi anak atau  berganti atau malah menambah pasangan.

Berbeda lagi dengan pasangan yang lebih cepat menerima keajaiban. Di dalam perutnya bisa sudah memperoleh kehidupan baru tanpa perlu menanti berlama-lama. Sayangnya, ada saja hal yang digunjingkan oleh masyarakat semisal kelahiran bayi dalam kandungannya tidak melalui jalur normal, C-Section.

“Itu diganggu Jin, makanya Caesar (lahirnya),” kata seseorang di ruang kerja saya.

Suatu hari, saya bertemu dengan seorang perempuan. Perutnya buncit. Ada kehidupan baru di dalamnya. Perempuan itu seorang guru di sekolah menengah kejuruan. Saya selalu merasa bahwa perempuan hamil sangat seksi, maka saya bercakap-cakap yang barangkali bisa disebut sebagai basa-basi.

“Jadi kalau lahir, anaknya pingin perempuan atau laki-laki, Bu?”

“Kalau bisa laki-laki. Perempuan penjagaannya harus lebih ketat soalnya,” ungkapnya.

Bentuk kelahiran yang diinginkan sampai pada jenis kelamin jabang bayi yang akan dilahirkan bisa menjadi kekhawatiran tersendiri bagi setiap orang tua. Ada masa rawat sampai anak-anak tumbuh dewasa dan punya kehidupan sendiri, membangun keluarga barunya. Kekhawatiran seperti kesulitan dalam penjagaan menjadi salah satu ketakutan selama masa rawat.

Masyarakat sampai sekarang memang masih menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Ada doktrin-doktrin yang selalu ditanamkan sehingga perempuan harus ditutup dan disamakan dengan barang, permen, atau paha ayam. Belum lagi mengenai kultus keperawanan, barangkali ini yang paling ditakutkan oleh para orang tua.

Orang tua masih tidak siap ketika melihat anak perempuannya suatu ketika sudah tidak perawan lagi, entah karena hubungan seksual pra nikah yang pernah dilakukan atau akibat pemerkosaan. Jika memang ada kejadian seperti itu perihal tubuh perempuan, keputusan paling akhir yang diambil biasanya adalah menikahkannya.

Menurut pengalaman Nawal el Sadawi, bagi perempuan yang kehilangan kehormatannya bisa dibunuh bahkan oleh keluarganya sendiri. Apakah kehormatan perempuan dinilai hanya dari selangkangannya, bahkan sampai muncul istilah second atau gampang dipakai?

Berbeda dengan anak laki-laki, kekhawatiran muncul dari beberapa ibu-ibu yang berprofesi sebagai pengajar pula. Laki-laki di usia remaja bisa memiliki kenakalan yang bahkan sangat sulit untuk dikendalikan. Tidak ada sopan satun atau etika sehingga seringkali melanggar atau membangkang ucapan-ucapan orang tua yang sifatnya membangun. Pengawalan di masa rawat jelas akan sulit pula jika anak laki-laki tidak bisa diawasi dalam melakukan tindakan-tindakan tertentu.

“Tapi, tergantung yang di atas mau laki-laki atau perempuan tidak masalah,” lanjutnya mengakhiri percakapan.

Memang menjadi orang tua bukan hal mudah. Ada hal-hal yang harus diperhatikan benar-benar secara mental dan materi, agar apapun pendidikan terhadap jenis jabang bayi yang lahir, tidak dibatasi dengan stigma sosial masyarakat terhadap tumbuh kembangnya di masa depan. Seperti kata Khalil Gibran;

 Anakmu bukan milikmu.

Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.

Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau.

Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.

Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu.

Sebab mereka punya alam pikir sendiri.

Berikan tempat pada raganya, tetapi tidak untuk jiwanya.

Sebab jiwa mereka penghuni masa depan yang tidak dapat kau kunjungi, bahkan tidak di dalam impimu.

 

Kau boleh berusaha menyerupai mereka, namun tidak membuat mereka menyerupaimu.

Sebab kehidupan tidak berjalan mundur. Juga tidak tenggelam di masa silam.

Kaulah busur, yang melepaskan anak panah kehidupan.

Sang pemanah membidik sasaran dalam ketakterbatasan.

Dia merentangmu dalam keperkasaan-Nya agar panah melesat cepat dan jauh.

 

Meliuklah dengan sukacita di tangan Sang Pemanah, sebab Ia mengasisihi anak panah yang melesat cepat, sebagaimana Ia mencintai busur yang kuat.

Comments

comments

Tags: Bayi, Kehamilan, Orang tua, Parenting, Pregnant Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aifiatu Azaza Rahmah

Bersenang-senang di sekolah. Main dengan tulisan.

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.