Benarkah FPI “Dipelihara” Jokowi?

Benarkah FPI Dipelihara Jokowi – Melihat sepak terjang kelompok pro khilafah di Indonesia akhir akhir ini serupa melihat rimbunan tanaman kurma memadati areal persawahan. Janggal. Kelompok pengusung ideologi yang bertentangan dengan Pancasila ini seolah dibiarkan tanpa sanksi berarti. Lebih dari itu pemerintah justru terkesan “memelihara” kelompok yang menganggap hukum positif bukanlah bagian dari prinsip hukum Allah, yakni keadilan ini.

Di beberapa kesempatan, ormas seperti FPI ini bahkan diberikan hak istimewa untuk melakukan tindakan represif pada kelompok lain yang tak sejalan. Kehadiran aparat yang selalu lambat dan terkesan basa basi semakin menguatkan dugaan pemerintah sengaja memelihara kelompok Islam konservatif.

Kasus yang belakangan terjadi justru lebih tak masuk akal lagi.

Kapolres Surabaya pada Desember lalu turun langsung untuk melakukan pengawalan pada aksi semena-mena FPI di berbagai tempat di Surabaya. Meskipun berdalih untuk alasan ketertiban aksi, ini jelas suatu anomali.  Bagaimana mungkin polisi yang mestinya menjadi pelindung tegaknya Indonesia justru mengawal kelompok yang sedang mencedrai semangat ber-Indonesia.

Kejadian serupa tidak hanya terjadi di Surabaya, Jambi dan beberapa daerah lainya juga mengalami hal yang sama. Aparat keamanan justru mengawal tindak kekerasan yang berdasar pada pendapat ulama atau yang lebih dikenal sebagai fatwa. Padahal jelas, fatwa bukan bagian dari hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Kita perlu ingat, bahwa kewenangan merazia itu hanya dimiliki oleh aparat negara, itupun harus melalui serangkaian prosedur yang tidak bisa serampangan diloncati. Lagipula pemaksaan pendapat, dengan mengatasnamakan apapun, adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan.

Melihat pembiaran dan upaya penertiban yang berhenti pada retorika pejabat semisal Mendagri tentu kita patut bertanya; Apakah negara dengan kekuatan militer peringkat empat se-Asia ini kalah dengan kelompok kecil yang berisik?

Kita tentu mahfum bahwa hampir mustahil bagi pemerintah membubarkan ormas dengan doktrin ideologi kuat. Terlebih ini bersandar pada apa yang diyakini sebagai dogma agama. Secara organisasi mungkin dibubarkan, tapi spirit ideologi terus menyala dan mungkin semakin membesar.

Membubarkan FPI atau HTI dengan pendekatan represif adalah kesia-siaan. Hari ini FPI dibubarkan, besok boleh jadi muncul FPI Perjuangan, atau hanya akan melahirkan, misalnya, HTI Garis Lurus, dan sebagainya.

Hal itu tentu dapat kita maklumi.

Tapi jika tindakan bar-bar seperti ancaman pembunuhan yang dilakukan sekelompok Islam ini kemudian dijadikan kepanjangan tangan penguasa untuk membungkam pemikiran kritis sebagian rakyatnya, itu adalah kejahatan paling lalim. Pemerintah tega membenturkan sebagian rakyat dengan sebagian yang lain untuk melanggengkan tirani.

Hasilnya pemerintah dapat leluasa mengeluarkan berbagai kebijakan kontroversial tanpa menuai protes berarti. Justru rakyatnya saling tuding dengan urusan sepele semisal, celana, jenggot, atau perdebatan halal haramnya kembang api.

Agaknya apa yang ditulis Made Supriatna beberapa waktu lalu menemukan pembenarannya. Pemerintah kini seolah sedang bermain di dua kaki. Di satu sisi berupaya mempertahankan rongrongan negara dari ideologi luar, namun di sisi lain memanfaatkannya untuk mengalihkan kritik masyarakatnya.

Dugaan pembiaran tersebut bukanlah isapan jempol semata. Kita gamblang dapat menulurisnya dari berbagai kejadian maupun kasus tentang kelompok ortodok ini. Aparat mestinya tak kesulitan menemukan persembunyian berikut alasan untuk meringkus orang yang jelas-jelas menentang Pancasila. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, mereka seringkali difasilitasi untuk menyebarkan ideologinya.

Para politisi yang duduk dilingkaran kekuasaan justru melihat hal tersebut sebagai ceruk kesempatan. Mereka menunggangi isu agama untuk menaikkan popularitas. Dan hal tersebut kini menjadi tren baru di kalangan para politisi.

Mereka seakan telah menemukan cara murah untuk mendulang suara. Tak lagi perlu membagi-bagikan uang untuk meraup dukungan politik.

Di tengah para konstituen muslim, mereka mengeluarkan, umpamanya, himbauan sholat subuh untuk memperoleh citra pemimpin Islami. Padahal jika dicermati, siginifikansi himbauan tersebut terhadap kinerjanya amat rendah. Pun itu sudah dilakukan para mubaligh, sehingga apa yang dikerjakan nampak seperti upaya menggarami lautan.

Apa yang dilakukan para aparatur negara kita jelas bukan tanpa resiko. Memelihara benih kebencian tak ubahnya menyulut bom waktu. Hari ini mungkin kita masih bisa mengatakan bahwa “itu kan baik, untuk menegakkan syariat Islam, toh caranya juga masih wajar”

Tapi siapa yang berani menyangkal bahwa kelompok-kelompok tersebut memiliki kesamaan ideologi dengan banyak kelompok teroris. Kalaupun mereka menyangkal telah berbaiat pada kelompok radikal Timur Tengah, namun bukti bahwa donasi dari sebagian masyarkat Indonesia telah disalurkan pada kelompok teroris tidak dapat disangkal. Upaya memprovokasi masa dengan menyeru revolusi bahkan sudah tak bisa dihitung lagi.

Tapi hal tersebut ditanggapi biasa-biasa aja oleh POLRI.

Padahal jika kita mengamini survei yang diadakan Wahid Foundation, 7,7 persen penduduk Indonesia setuju pada tindakan kekerasan bermotif agama. Angka ini tidak bisa dibilang sedikit jika kita kalikan jumlah penduduk Indonesia.

Tentu kita semua berharap tak harus mengalami krisis keamanan terlebih dahulu untuk mengetahui bahwa ibadah juga butuh kedamaian.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga