Berdosakah Micin pada Terbentuknya Generasi Bodoh?

Generasi micin

Micin adalah lambang dari kepraktisan dan rasa gurih

Sudah familiar bagi kita mendengar orang menyebut istilah generasi micin. Micin (vetsin) yang penyedap rasa itu menjadi bagian dari perbendaharaan istilah baru yang tidak sedap maknanya. Generasi Micin menjadi olok-olok untuk merujuk pada anak ataupun orang yang tidak cekatan, absurd, atau , maaf, goblok.

Olok-olok semacam itu, diakui atau tidak, telah membuat pamor micin yang sampai saat ini masih menempati posisi bumbu dapur paling penting setelah garam dan gula, turun. Pertanda turunnya pamor bisa dilihat dari mulai banyaknya kelompok ibu-ibu hygiene yang menolak menambahkan beberapa bulir micin ke dalam masakannya. Terutama bisa kita lihat pada ibu-ibu muda yang lagi semangat-semangatnya menjaga kwalitas gizi keluarga kecilnya.

Black campagn pada micin makin menguat dengan munculnya pesan berantai yang menyebar rata di grup grup wasap keluarga, alumni, hingga status facebook yang share nya bisa mencapai ribuan. Memang sejauh ini belum ada indikasi Saracen turut andil dalam penyebaran informasi tersebut, tapi tetap saja daya sebarnya dahsyat.

Maka demi mencegah tersebarnya informasi yang tidak imbang mengenai micin, terutama sebelum micin harus mengambil tanggungjawab pada terbentuknya generasi bahlul, saya, sebagai anak yang dibesarkan dengan asupan micin, mempunyai tanggungjawab moral untuk memberikan pembandingnya. #tsaah.

Micin alisan evtsin merupakan bumbu vital yang kerap menjadi penyelamat bagi tersajinya makanan lezat kaum kelas menengah ke bawah. Mereka yang tak cukup uang untuk meracik kaldu ayam sebagai penyedap rasa cukup membeli beberapa bungkus Bio Miwon seharga 200 perakan itu. Dan slluurrrpppsss sayur sepanci jadi gurih semua.

Bandingkan jika harus membeli ayam, lalu merebusnya hingga jadi kaldu, butuh berapa duit dan energi? Tapi pertimbangannya lebih ke duit sih.

Data tentang Micin

Fakta seputar micin

Micin sebenarnya bukanlah bahan yang berbahaya, alias food grade alias aman dimakan. Kalau ada yang mengatakan bahwa micin (Monosodium Glutomate) merupakan bahan kimia, dan karenanya perlu dihindari, maka matilah dia. Sebab oksigen (o2), juga air (h2o) juga unsur yang lain adalah bahan-bahan kimia juga. Tepatnya kimia organik. Jadi hidup memang tidak bisa lepas dari ketergantungan akan bahan-bahan kimia.

Apalagi manusia yang memang bukan kelompok makhluk hidup autotrof alias bisa fotosintesis untuk memenuhi kebutuhan makan sendiri. Makin tergantunglah ia pada makhluk dan unsur lain yang semuanya kimiawi itu.

Menurut Volker Wendisch dalam bukunya yang berjudul “Amino Acid Biosintesis”, Monosodium glutamat ditemukan dan diisolasi dari hydrolyzates rumput laut jepang ” konbu ” oleh Dr Kikunae Ikeda. Kemudian pada tahun 1912, micin mulai diproduksi secara massal oleh perusahaan Ajinomoto di Jepang.

Hingga  kemudian micin diolah dari asam glutamat yang merupakan salah satu asam amino non-esensial paling berlimpah yang terbentuk secara alami. Dan sekali lagi, FAO selaku badan pangan dunia sudah menyatakan micin, atau yang lebih dikenal dengan istilah MSG ini aman.

Dari sisi mangfaat bagi tubuh, Sodium sebagai salah satu pembentuk MSG berguna sebagai pengaturan asam basa dalam tubuh bersama dengan potasium, mendukung kerja kontraksi otot, pengendalian air dan tekanan darah, sistem saraf, serta penyerapan gula. Akan tetapi efek sampingnya, sebagaimana bahan jenis garam-garaman, akan menimbulkan tekanan dari tinggi jika dikonsumsi berlebih.

Cuma kan yelah jangankan micin, ideologi saja kalo dikonsumsi berlebih tidak baek. Perlu saya copaskan ayat Alqurannya biar mantep?

Selain itu, micin juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Encerkan beberapa sachet micin dalam ember berisi air lalu siramkan pada tanamanmu. Niscaya tanaman jadi kian hijau berseri.

Kalau gitu, kita makan pupuk? Haissembuuuh!

 

Baca artikel-artikel terbaru di esensiana:

  1. Yang Harus Kamu Tahu dari Pengetahuan
  2. Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
  3.  Soal Rohingya, FPI ini Menyakralkan Apa? Agama atau Ilusi atas Agama

No Responses

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga