Setidaknya Aku Sudah Berjuang, Meski Tak Terlihat di Matamu

23/01/2017 238 0 0

Ada makna tersirat menghampiri, saat melihatnya terpampang jelas di muka. Seraya dinginya besi elektrik nan tua itu ingin mengucap “Setidaknya Aku Sudah Berjuang, Meski Tak Terlihat di Matamu“.

Melihat radio-radio lama tergantung manja di etalase rumah makan-lesehan, rasanya ada banyak hal yang ingin diceritakannya. Pernak-pernik kearifannya terpampang jelas bukan dari keusaman yang termakan zaman.

Dari bentuk, corak, hingga antena mungil di pojokan atas di sebelah kiri seolah nampak ingin disentuh dan di panjangkan. Ia menerima dengan keterbatasannya, hanya sekuat 5 batterai ABC besar, bernafaskan gelombang FM- AM 😏.

Ya, radio itu adalah bukti! Sebuah nostalgia dimana dahulu kita menitipkan salam lewat udara untuk yang tersayang. Tentu, ekspektasi pengirim salam akan sampai ke telinga pendegar secara acak.

Bayangkan saja, mengirim sms ke operator lalu dibacakan, didengar oleh makhluk yang memiliki telinga. Soal nama, bisa saja sama. Tapi apalah sebuah spesifikasi dan rincian yang ideal sehingga salam tersampaikan ke penerima yang dimaksud. Saya yakin, ini adalah benih-benih kasih tak sampai hingga berujung ke-baperan kronis 😏.

Hashtagh #SalamLewatRadio pernah jadi trending topic di twitter (lupa kapan, pokoknya pernah!) ini memang perpaduan dua generasi yang ngehitz berbeda zaman tapi tetap eksis tak lekang oleh waktu.

Berkat penemuan radio inilah, lahir era baru di bidang komunikasi. Dari awalnya cuman dipake buat urusan militer, hingga ke ranah publik. Emang mau diakui apa enggak, karena perang pula kemajuan teknologi berkembang pesat. Alasan klasiknya sih emang buat ningkatin keamanan.

Gimana sih ya, kok bisa kepikiran gitu. Ya, namanya juga manusia. Tinggal hidupnya di dedikasikan untuk apa. Sopo Nandur Bakal Ngunduh. Toh, mereka yang berhasil nemuin ini-itu sekarang banyak manfaatnya buat semua orang. Tinggal dipake buat apaan.

Kebayang gak? sebelum sang penemu radio memutuskan untuk membuat radio, menganalisa secara saintifik, mengujinya berulang-ulang, lalu ngebikin yang nggak ada wujudnya jadi ada, ini sesuatu hal yang mustahal pada zamannya. Beliyau berpedoman “sing penting yakin” dengan catatan ndak asal njeplak. Tentu pakai banyak pertimbangan sana-sini hingga akhirnya jadilah sebuah radio.

Guglielmo Marconi pada tahun 1895 tengah sibuk-sibuknya ngurusin hak paten soal penemuannya. Ia orang yang kali pertama berhasil mengirimkan signal radio berbasis nirkabel. Isinya cuman huruf “S” doang padahal.

Nikola Tesla di tahun 1943 juga ngedapetin hak paten soal radio loh. Jadi mereka berebut hak paten di umur yang setua itu? Mbok ya eling akhirat, perbanyak dzikir atau ikut pengajian biar lebih varokah.

Nggak! mereka nggak rebutan kok, cuman dibalik itu semua ada pelbagai banyak teori-teori menyoal radio yang udah lama banget digaungkan sama orang-orang. Cuman banyak cerita sih, kontroversional. Kayak bacotan elu pas di ujung hubungan yang nggak jelas, “kamu terlalu baik buat aku”. Gitu!

Sejarah penemuan radio berawal dari 1800-an, tepatnya tahun 1819 saat Hans Christian Ørsted yang ngungkapin dasar relativitas energi magnetik dan arus searah. Lalu disusul oleh banyak tokoh-tokoh penemu lain yang secara prinsipal masih berkaitan pemikirannya tentang radio.

Kemudian kontroversi Nikola Tesla dimulai kembali. Saat diketahui kalau ternyata sebagian besar karya Marconi tentang transmisi nirkabel udah dipatenkan sama Tesla. Sakit nggak?

Tapi apapunlah itu semua, Mahkamah Internasional Amerika Serikat memberikan hak paten soal radio dimenangin oleh Mbah Tesla. Terimakasih Marconi, sudahlah. “Ya, setidaknya aku sudah berjuang“.

Comments

comments

Tags: Cerita, esensiana, Hans Christian, internasional, kontroversi, marconi, nikola tesla, penemu radio, purwokerto Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Kangtoer Kangtoer

a Talkative Socmed Enthusiast | #Kebumen

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.