Berlaku Adil pada Mahasiswi Bercadar

13/03/2018 414 0 0

Sebelum pro-kontra penggunaan cadar di salah satu kampus daerah Yogyakarta menyita perhatian publik, saya kebetulan pernah (bermimpi) memiliki seorang kekasih yang bercadar (cadar loh yah, catat. Bukan masker bergambar Doraemon), matanya indah, saya yakin senyumnya juga indah walau mata tak mampu menangkapnya. Oh!

Baru beberapa hari kemudian, terdengar kabar di suatu kampus menetapkan larangan cadar bagi mahasiswinya. Mungkinkah kekasih imajinatifku itu salah satu mahasiswi di sana? Duh, semoga tidak. Pun demikian, kehangatan mimpi tersebut tiba-tiba terasa semacam utopis.

Saya mulai menghubungkan dua kejadian ini dengan sederet pertanyaan. Bagaimanakah perasaan para perempuan bercadar menyikapi kebijakan itu? Apakah mereka khawatir atau merasa tertekan?

Kita tidak ingin tentunya, kode etik kampus yang telah dirumuskan punya bobot arogansi patriarki sangat besar. Lagi-lagi, perempuan dijadikan objek yang dipanggungkan, dikritisi, dan dilayakkan sesuai selera, selera siapa pun itu. Di sinilah kita harus sedikit jeli dan teliti memandang letak titik fokus permasalahannya. Jangan karena “cadar selembar, rusak susu sekampus”. Semoga saya tidak dimarahin Ivan Lanin karena mengubah tata bahasa peribahasa.

Di Indonesia, ekspresi teologis cenderung menjadi motif dari penggunaan cadar. Berbeda dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah, cadar diklaim sebagai bagian dari ekspresi sosio-kultur.

Dapat dilihat bahwa tradisi cadaran di Indonesia tidak didukung oleh budaya nusantara. Sama sekali ini bukan persoalan teologis, kebetulan status legal cadar masuk dalam koridor sunnah, melainkan adanya clash of culture.

Menyangkut persoalan ini, merunutkan historisitas dan dasar hukumnya secara metodologis dan induktif adalah cara tepat untuk dapat menjelaskannya. Misalnya, mempertanyakan fase perkembangan tradisi cadaran untuk pertama kali di muka bumi dan faktor apa yang melatari, serta bagaimana akhirnya tradisi ini diadopsi dan diartikulasikan dalam bangunan Islam, dan seterusnya.

Kita juga tak bisa menampik bahwa belakangan ini, ada semacam framing yang menguatkan bahwa tradisi cadaran cenderung menayangkan subjektivitas suatu organ. Bagaimana konstelasi identitas dan narasi tersebut terbentuk erat kaitannya dengan meningkatnya sensitivitas dan sentimentalitas keagamaan kita akhir-akhir ini.

Satu hal yang jelas, sungguh melarang mereka bercadar bukan berarti mampu mereduksi dan menangkal tindak tanduk yang berbau radikal dan ekstremis. Tentu kita butuh cara lain yang lebih efektif dan masif; menciptakan langkah-langkah strategis dan membangun kesadaran kolektif akan urgent-nya toleransi dan solidaritas kebangsaan.

Namun, jika sebelumnya pihak kampus telah menetapkan regulasi atas larangan penggunaan cadar di kampus, ini patut ditaati dan diikuti sebagai suatu direction dan acuan dari institusi pendidikan tempat mereka bernaung. Kekeliruan atau kesalahpahaman yang ada lebih disebabkan oleh minimnya konfirmasi dan sosialisasi dari pihak kampus; atau sebaliknya, keengganan mereka menggubris kebijakan tersebut.

Bagaimanapun, hendaknya segala upaya dalam rangka menyelaraskan antara agama dan budaya disikapi dengan akal sehat. Apalagi kampus sebagai rumah akal mestinya mengedepankan argumen yang mendamaikan dan mengenyampingkan segala model sentimen. Masak kita mau kembali ke zaman orde baru (orba)? Piye iseh penak jamanku to?

Kampus sebagai ruang akademik harus dikembalikan ke arah ruang intelektual. Jangan sampai hal seperti pelarangan terhadap prinsip seseorang bisa merusak citra tersebut. Segala yang mengarah kepada hal-hal yang bersifat intimidasi terhadap ‘minoritas’ dalam segala hal, seperti isu-isu pelarangan cadar ataupun lainnya. Untuk itu, memelihara marwah kampus adalah kerja sepanjang masa. Sebab, satu-satunya tempat paling mesra di bumi adalah kampus. Iya kan My Love?

Comments

comments

Tags: Cadar, kampus, perempuan Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Novy Eko Permono Novy Eko Permono

Koordinator Ikatan Jomblo Nusantara Cabang Surakarta. Dapat disapa via email: [email protected], fb: Novy Eko Permono.

Related Posts