Bukber dan Bingkisan Baper

02/06/2018 345 0 1

Kawan perempuan SMA saya, sore tadi, tetiba bertanya lewat aplikasi pesan, “Ini gak ada bukber alumni?” kirimnya. Beberapa pekan mundur, kawan lelaki dari SMP juga bertanya ke saya di kiosnya, “Kita ada reuni SMP gak?” tukasnya. Saya menjawab simple dengan mengatakan, “enggak tahu”. Saya merasa setiap reuni tidak melulu soal temu raut muka, ada beberapa hal yang laten.

Misal pertanyaan sepele dari mantan atau gebetan dulu.

“Eh … kamu kok sekarang sukanya minum es jeruk padahal dulunya suka minum es campur dengan kolang-kaling yang diremah paling akhir.”

“Eh … kamu kok sekarang pinter pake eye shadow sih, buat nutupin bekas tangisan di mata pandamu ya.”

“Eh … kamu kok sekarang udah bisa bikin alis yang mirip kurva penjualan itu, pake pensil 8b ya!”

“Eh … kamu kok sekarang  gagah ama bersihan dikit ya.”

Menjelang datangnya Nuzulul Qur’an, saya merasa cemas untuk membaca sebuah ayat, bukan karena begitu bego saya tidak bisa melafalkan dengan benar makhrajnya. Diantara 6666 ayat itu, ada Surat Ar Rum ayat 21. Membacanya seperti mendengar sidang putusan hakim, ia terselip di antara broadcast bukber, reuni, dan sering kali datang laiknya sekotak hadiah yang tergolek begitu saja di muka pintu.

Sementara itu, isi kepala tengah dipusingkan dengan undangan mana yang bakal dikunjungi, menabung untuk kain batik seharga 300 ribu untuk disampirkan di pinggang sebagai rok lilit, and the most irritating, who will accompany me?

Seandainya Tuhan menyediakan Mahkamah Konstitusi, saya akan mengajukan uji materi untuk firman-Nya yang sering disitat di dalam undangan yang berbau apak itu, atau undangan yang hurufnya timbul seperti di sampul novel klasik yang berbaris di pojok etalase fiksi di Toko Gunung Agung. Tapi itu semua hanya conditional sentences, hidup terlalu singkat untuk berkarib dengan rasa menyangkal takdir. Mantan yang begitu lekas menikah, sementara kekasih sibuk membakar tembakau dan menyeruput kopi Lampung.

Pada sebuah pagi yang tidak disengaja, ada kawan saya membuka obrolan, ia merasa kondisi psikologisnya terkadang terlalu rumit. Ia terjebak friendzone selama ratusan sks. Saya merasa bahwa ia terlalu sering mendengar lagu  Rindu itu Keras Kepala, lagu yang dibawakan oleh penyanyi indie asal Malang, atau judul Terlalu Cinta yang dibawakan oleh Teh Ocha.

Ada pula kawan perempuan yang mengeluhkan bahwa akhir-akhir ini ia sering susah untuk boker. Saya menyarankan untuk meminum cairan pencahar atau pelumas yang dimasukan ke dalam dubur, akan tetapi ia menggelengkan kencang kepalanya. Saya lantas bertanya kepadanya.

Why?”

“Kenangan itu brengsek sekali, di jamban sekalipun ia kerap muncul, waktu gue mau berak apa kencing, eh dia datang ajah coba.”

“Apa hubungannya?”

“Gue ingat dulu pas mau piknik, di tengah jalan, gue ngerasa penuh, hepeng gue kagak ada receh, dia ngasih uang dua ribuan, sembari gue ganti pembalut, dia tengah duduk di selasar pompa bensin, nungguin  gue beres, ama benerin riasan, memegangi handphone dan sebotol minuman dingin pereda nyeri haid,”

Lain lagi dengan kenalan saya yang lain, yang satu ini, ia seorang pria yang melankolis, pada suatu waktu ia hendak meminjam buku Bernard Batubara, Milana Perempuan yang Menunggu Senja, ia merayu saya dengan membacakan sajak Aan Mansyur yang dinukil dari Tidak Ada New York Hari Ini, lengkap dengan lekukan rimanya. Ia merayu untuk meluruhkan kenangannya di Pantai Menganti, menikmati hidangan Tuhan, surya tengah temaram di kaki ufuk barat.

“Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau melihat langit membentang lapang. Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki.”

Saya tahu betapa lelahnya menjabarkan struktur narasi kesedihan, tapi tetap saja enggan meminjamkannya.

Lain lagi, dengan kawan saya yang berlatar santri, ia jemu membaca Gibran, beberapa hari belakangan ia mengganti bacaannya dengan Rumi, membaca bait-bait cinta dalam Diwani Syamsi Tabriz. Saya menduuga ia tengah mengeja debu-debu sufistik, upayanya mendekati Ning kesayangan Abah gagal, lantaran setoran hafalan yang berjalan pelan.

Suatu hari, setelah gladi bersih selesai, saya mendekati kawan saya yang pemain komedi dan tragedi, ia pun kerap naik komidi putar, saya tak mendapati buku kumcer Rendra yang sering ia bawa, Pacar Seorang Seniman dan Kenang-Kenangan Soerang Wanita Pemalu. Ia membawa sebuah buku antologi puisi dari penyair Makassar. Saya terlibat obrolan dengannya.

“Antologi siapa mas?”

“Aslan Abidin.”

“Gak baca Lawrence aja mas.”

“Wah, baca teks Inggrisan mager mas.”

Ia lantas membuka buku antologi itu, menunjukan sebuah puisi dengan judul Phallusentris. Ia membacakannya untuk saya.

pada mulanya

adalah nafsu, ketika

gairah adam menghasut dan ia

butuh teman bercumbu. “seseorang bernama

hawa aku sembunyikan di tulang rusukmu,” kata

tuhan, dan adam dengan birahi penuh di ubunnya,

mencabut dan membanting satu tulang rusuknya.”

“Bisa keren bet kaya gitu  ya Mas.”

“Ya … sejarah manusia emang gitu, Khabil aja membunuh Habil atas nama cinta untuk Iklima, cinta itu kaya nasi kotak Sambel Layah,”

“Lah, kok bisa Mas?”

“Iya ada kasih sayang, air mata, penyesalan, tawa semu, dan seterusnya,” tutupnya.

Lalu, tadi malam di usia batang rokok saya yang ke tujuh, ada pesan masuk, kawan saya Si Penyair dari lereng Slamet, memberi es buah, saya menerimanya, es itu terdiri dari biji selasih kesedihan, dan sirup biru muda.

Saya sedikit usil, menanyainya perihal how could he end up on his relation? Kira-kira begini, saya rangkumkan dibawah. Padahal ia baru saja turut serta dalam antologi puisi yang diluncurkan oleh Dewan Kesenian Lima Puluh Kota.

How could you end … Padahal mau musim kondangan?” saya sengaja menulisnya bersambung.

“Kamu ingat 500 days of Summer?”

“Iya.”

“Saya baru saja menyadari bahwa dia tidak cocok untuk saya, saya tidak yakin dengannya.”

“Kamu curang pinjem kata-kata Summer untuk Tom.”

“Atau kamu ingat Love in The Time of Cholera.

“Tentu.”

“Apa yang Fermina katakan kepada Florentino di pasar?”

“Apa yang terjadi antara saya dan kamu adalah ilusi.”

“Benar.” balasnya.

Mosok penyair minjem dari film sih.

“Iya … Terkadang cinta begitu kekanak-kanakan, dan bagi saya itu tidak membebaskan fikiran, kami memandang sesuatu dengan perspektif yang begitu berjauhan. Pun terkadang simpati dipaksa untuk menjadi empati di dalam sebuah hubungan. Dan. Seiring berjalannya waktu, empati itu memudar. We cannot stand to that relation anymore. We just be friend as well,”

Menjelang pukul dua siang, saya menuju pedangane mamake, menuju tungku dan membakar api, untuk mamak yang siap unjuk gigi menyiap hidangan berbuka.

“Nang … bisane genine gedhe nemen, gawe geni karo apa?”

Eloh neng pipi mak.”

Saya mencoba mengkremasi, ranting-ranting kering kenangan dengan mantan atau gebetan yang tak seberapa, lalu saya mengambil ponsel, membuka kolom percakapan dengan kawan perempuan SMA saya.

“Eh, kita kan sama-sama alumni, bagaimana kalau nanti sore? Kita bukber berdua. Nanti aku datang menjemputmu di rumah, apalagi saya nanti pakai skutik Vario silinder 125 varian terbaru yang gak ada kick starter-nya,  umpama mogok kita dorong bareng.”

Comments

comments

Tags: bukber, hubungan, kencan, Reuni Categories: Malem Minggu Esensiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Related Posts