Bukit yang Tenggelam

Bukit yang Tenggelam (Bagian 2)

25/01/2017 180 0 0

Siapa yang tak tertarik dengan perbukitan ini? Perbukitan yang membentang luas dan memanjang di selatan Pulau Jawa. Memendam kekayaan yang tak terhitung nilainya. Bahkan orang pribumi yang serakah dan bodoh pun ikut menjarah kekayaan Indonesia yang tanpa mereka sadari hanya menguntungkan kepentingan asing, lama kelamaan bukit yang tenggelam jadilah adanya.

Bagi Syamsul perbukitan ini adalah segalanya. Dia lahir dan dibesarkan di antara gundukan bukit-bukit ini, dan telah menghabiskan tigapuluh tahun hidupnya di sini. Dari mulai kakek buyutnya hingga anak-anaknya tumbuh di sini. Di perbukitan ini pula ia mencari nafkah dan ia jadikan tempat melabuhkan kehidupan.

Namun bagi pengusaha? Lahan perbukitan ini hanya terlihat sebagai lahan bisnis yang menjanjikan. Perbukitan ini akan dijadikan tujuan penambangan emas. Mungkin satu tahun kedepan tanah ini akan disulap menjadi freeport jika tanah ini benar-benar dikuasai pengusaha asing. Selain itu, nasib pribumi akan sama seperti warga Papua yang menjadi kuli di tanah sendiri. Pribumi hanya bekerja sebagai pegawai rendahan, sementara pengusaha asing asal Amerika itu menjarah emas berton-ton tiap harinya untuk dibawa ke negara mereka.

Itulah yang dikhawatirkan oleh Syamsul. Jika lahan perbukitan dan sekitarnya dijadikan lahan pertambangan emas, maka perlahan-lahan penduduk asli akan terusir dari kampung halamanya sendiri. Ditambah lagi dengan dampak lingkungan yang berkepanjangan. Lagipula daerah itu bukan hanya menjadi tempat mencari nafkah, perbukitan pula menjadi tempat cadangan air di wilayahnya. Jika ini menjadi pertambangan, bisa saja daerah di sekitarnya akan sulit mendapatkan pasokan air bersih.

Warga masyarakat yang tidak memiliki pendidikan tinggi akan menjadi pegawai rendahan, warga yang memiliki pendidikan tinggi akan diiming-imingi gaji yang tinggi demi membantu mengeruk kekayaan tanah tercinta ini. Dengan memabangun image positive, pengusaha itu akan memberikan beberapa dana pendidikan untuk mahasiswa. Hal tersebut membuat mahasiswa tak lagi bisa menentang dan mendemo pengusaha asing, sebab dana pendidikan dari mereka, serta mahasiswa terbaik sudah mendapat jaminan akan dipekerjakan dengan iming-iming gaji yang tinggi.

“Kamu masih muda Syamsul, jangan banyak tingkah!” kata pesuruh pengusaha ketika mendatangi Syamsul untuk kedua kalinya.

“Limaratus juta sangatlah besar Syamsul. Kamu bisa hidup mewah dan nyaman. Tak perlu jadi penambang tradisional yang tak tentu penghasilanya. Kalau kamu setuju menjual tanah ini, nanti kamu akan diberi jabatan kepala divisi di penambangan ini. Kamu tidak usah sok idealis.” seru pesuruh pengusaha itu dengan nada mengancam.

Syamsul bergeming dan keukeh dengan idealismenya. Syamsul memang hanya seorang penambang tradisional. Namun dia bukanlah orang yang tidak mengenyam pendidikan. Syamsul adalah seorang sarjana geologi dari universitas terkemuka di Indonesia. Tak heran meskipun dia diiming-imingi jabatan yang begitu menggiurkan dia tidak semudah itu tergiur. Syamsul adalah Syamsul, seorang pemuda yang mencintai tanah kelahiranya.

…***…

Sebenarnya, tanah yang ditawar para pengusaha kepada Syamsul hanyalah beberapa puluh ubin saja yang letaknya di pinggir sungai tempat orang-orang mendulang emas. Perbukitan itu dipisahkan oleh sungai yang membelah bukit itu. Tempat yang sangat strategis untuk penggalian emas.

Syamsul bisa saja menerima semua tawaran yang diberikan dan hidup mewah bergelimang uang. Bagaimana tidak, tanah yang tidak terlalu luas itu dihargai lima ratus juta ditambah sebuah jabatan kepala divisi unit penambangan. Tapi Syamsul tidak seperti kebanyakan orang. Dia tidak gampang tergiur segala iming-iming yang diberikan. Kecintaan pada tanah kelahiranya sudah tak bisa dipisahkan dari jiwanya.

Walaupun sempat tergiur akan tawaran dari beberapa pengusaha untuk memindahtangankan lahan dari kakek buyutnya, dan sempat memikirkan keuntungan yang akan dia dapatkan namun ia tetap tidak mengabaikan penawaran itu. Hal yang sempat menggoyahkan pendirian Syamsul adalah ingatannya akan beban hidup yang selama ini dia pikul. Selama ini cukup berat beban yang ia pikul, kerap kali ia mendapat sindirian dari teman-teman sekampusnya, sebab Syamsul bukanlah orang kaya yang memiliki pekerjaan dan perekonomian yang mapan.

Akan tetapi, Syamsul kerap terkenang masa kecilnya. Ketika ia masih kecil, saat ia bermain-main di sungai, berkumpul bersama ibu-ibu yang mendulang emas, tertawa dan kadang berteriak riang ketika menemukan emas seukuran pasir. Dengan riang akan melompat-lompat girang atau menepuk-nepuk air sungai, sehingga cipratan airnya mengenai anak-anak lain. Kenangan-kenangan itulah yang kembali menguatkan pendirian Syamsul.

Perbukitan ini dengan segala kekayaan alam, dengan pohon-pohon yang rimbun merupakan surga bagi penduduk kampungnya, anugerah Tuhan yang harus di jaga kelestarianya. Maka tak seorangpun boleh merusak dan menjarah kekayaan perbukitan ini, apalagi menjual ke orang asing yang jelas-jelas akan menguras habis kekayaan bangsa. Penjajah!!!

Pagi ini, Syamsul pergi memeriksa lahan miliknya. Seseorang di balik telepon kembali mengancam akan mengahabisi nyawa Syamsul. Namun tanpa gentar Syamsul justru balik menantang.

“Saya tidak takut dengan ancaman, saya juga bisa bermain kasar pada Anda!” ancam Syamsul kepada orang di balik telepon. Syamsul mengalihkan pandanganya ke langit yang mulai menghitam, mendung. Tak lama berselang hujan lebat membasahinya. Hujan kali ini turut andil mengembalikan kenangan masa kecilnya. Hujan bagi orang-orang kampung halaman adalah harapan yang dinanti-nanti. Ketika hujan deras mulai mereda, anak-anak akan berbondong ke sungai. Membawa nampan bambu untuk mendulang emas. Dengan harapan yang hujan datang menghanyutkan pasir tambang yang mengandung emas di sepanjang aliran sungai.

Lamunan Syamsul segera buyar dikagetkan kedatangan seseorang. tiba-tiba orang itu menyerang Syamsul dengan membabi buta. Syamsul murka.

“Dasar kau antek Amerika. Penjajah, jangan kau curi tanah kami. Mati kau! Mati kau antek Amerika!!!”

Syamsul melawan, namun apa daya, lelaki kerempeng melawan lima lelaki berbadan besar dan bersenjata tajam, sudah tentu ia pun terkapar. Rusuknya terluka parah, tubuhnya rebah tak berdaya di pinggir sungai. Mata Syamsul membawa bayangan masa kecilnya yang begitu indah, pandanganya mulai kabur bersama gerimis. Darah terus mengalir bersama dengan air sungai. Bibirnya menggigil, nafasnya mulai terengah, Perlahan-lahan badannya kaku terbujur.

Comments

comments

Tags: geologi, gombong, karst, Kebumen, perbukitan Categories: Cerpen
share TWEET PIN IT SHARE share share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.