Bukit yang Tenggelam; Bagian I

Bukit yang Tenggelam. Matahari jam dua belas siang memanaskan wajahnya. Lelaki yang sedari tadi berjalan dengan kaki telanjang di pinggir sawah. Beberapa kali ia berhenti untuk sekedar memandang perbukitan yang sebentar lagi akan lenyap. Wajahnya tampak geram. Lelaki itu menatap sekitar perbukitan yang membentang.

Kalau dilihat dari jauh, perbukitan itu membentang sangat indah. Para ahli geologi menyebutnya perbukitan kubah seribu yang membentang di wilyah pantai selatan. Lelaki itu mendaki tumpukan batu bangunan, melayangkan pandangan ke arah jalan untuk memastikan perbukitan yang indah ini kosong tak ada orang lain.

Ahhhh, mereka sudah lama pergi meninggalkan perbukitan ini. Rumput-rumput mulai mengering karena terlindas roda besar menandakan kendaraan berat yang mengangkut material bangunan sudah berlalu. Sudah tidak ada aktivitas warga, ini sudah hari ke tiga tempat ini begitu sepi. Tak ada canda tawa anak-anak yang berlarian. Sungai-sungai yang membelah bukitpun sepi, tak ada lagi ibu-ibu yang mendulang emas di antara pasir-pasir sungai.

Kening lelaki itu tampak mengerut, bukan karena menahan terik matahari siang. Ia tampak menghela nafas lantaran teringat percakapan telepon dengan seseorang yang tidak ia kenal. Seseorang yang mengancam akan menghabisi hidupnya. Pada awalnya ia tak merasa curiga, dan mengira bahwa teror itu adalah perbuatan orang usil yang kurang kerjaan.

Namun ketika beberapa kali telepon ancaman itu kembali, barulah dirinya merasa benar-benar diancam. Semua kekhawatirannya diperkuat ketika orang dalam telepon itu menyarankannya untuk segera menandatangani surat penjualan tanah. Ia sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan seseorang yang akan menghabisi hidupnya.

Lelaki itu mengarahkan pandangan ke lorong gua-gua buatan yang dibuat warga. Lorong-lorong yang akan mengantarkan para penambang pada surganya tanah kampung halaman. Bayangan penambang emas tradisional tampak samar seiring dalamnya gua-gua galian mereka. Bukit yang hijau asri dengan hutan yang masih terjaga kesuburannya mungkin tak lama lagi akan menjadi freeport.

Lalu ia teringat kejadian satu bulan yang lalu, ketika seseorang mengaku sebagai ajudan bupati mendatangi rumahnya bersama dengan seorang pengusaha asing dan beberapa orang berperawakan tinggi dan besar. Orang-orang itu tampak seperti pengawal yang siap tempur di medan perang.

“Pak Syamsul, sebentar lagi di perbukitan ini akan di bangun pabrik semen. Semua lahan dan tanah akan ditebus pemerintah demi kelancaran pembangunan pabrik semen.” kata seorang yang mengaku sebagai ajudan bupati itu menjelaskan kepada Syamsul.

Syamsul hanya menelan ludah. Terasa getir dan tetap berusaha menahan marah dihatinya. Beberapa bulan sebelum Syamsul didatangi oleh ajudan bupati, terlebih dahulu datang orang asing berkebangsaan Amerika di kawasan ini. Orang asing itu hanya melihat aktivitas warga yang sedang menambang emas. Syamsul sudah mulai curiga dengan kedatangan warga asing yang hampir setiap hari ditemani beberapa pribumi.

Pendirian pabrik semen adalah dalih semata. Tujuan dari ini semua adalah menjadikan kawasan ini freeport pertama di Pulau Jawa dan yang kedua di Indonesia. Siapa yang tidak tergiur dengan kekayaan yang begitu melimpah. Pasalnya menurut para ahli geologi perbukitan kubah seribu ini adalah wilayah yang mengandung logam mulia berupa emas. Teori ini benar adanya, faktanya warga masyarakat perbukitan Kwarasan Kebumen mulai menambang emas sejak tiga puluh tahun yang lalu.

Pada awalnya penambangan ini hanya dilakukan di sungai-sungai. Akan tetapi, lama kelamaan warga mulai menggali tanah dan membuat lorong-lorong gua. Meski demikian, aktivitas penambangan warga ini tetap diimbangi dengan kegiatan pelestarian lingkungan, sehingga ekosistem masih terjaga.

“Untuk itulah Pak Syamsul, pemerintah akan menebus semua lahan di perbukitan dan di sekitar perbukitan ini demi kelancaran pembangunan pabrik semen.”

“Kami akan memberikan kompensasi yang pantas untuk bapak,” kata orang itu sembari menyodorkan beberapa surat untuk ditandatangani Syamsul.

“Kalau boleh, saya ingin melihat surat-surat dari bupati mengenai pembebasan lahan di perbukitan dan sekitarnya,” kata Syamsul menimpali.

Seketika itu orang yang mengaku sebagai ajudan bupati itu wajahnya menjadi merah padam. Dia terkejut dengan permintaan Syamsul. Tentu saja dia tidak memiliki surat-surat yang diminta oleh Syamsul. Syamsul percaya dia adalah suruhan pengusaha asing yang memaksa untuk menjual tanahnya. Orang yang mengaku sebagai ajudan bupati itu kemudian pergi dengan muka masam.

bersambung:……..

 

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga