Mengais Kebahagiaan: Sebuah Ringkasan Diskusi Filsafat

Kebahagiaan. Secara natural, kita hidup untuk bahagia. Sekalipun dalam doktrin agama mengatakan kita tidak diciptakan kecuali untuk beribadah, nyatanya jika kita tarik lebih lanjut, kita beribadah juga agar bahagia.

Begini. Siapa yang berani menyimpulkan bahwa Allah butuh ibadah kita? tidak bukan? Justru kita yang butuh ibadah. Kenapa? Karena ibadah dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi seumpama semua manusia itu dijauhkan dari sifat keji dan munkar? Aman dan sentosa bukan? Ujungnya adalah terciptanya umat yang tentram dan bahagia.

Pada tahap ini mungkin ada yang berpikiran bahwa kalau ibadah adalah untuk bahagia, bagaimana jika kita sudah merasa bahagia tanpa beribadah-beragama? Jawabnya kita masih butuh ibadah! Karena tanpa ibadah kebahagiaan kita tidak bernilai. Semu. Agama atau ibadah adalah ikrar kita, beramal adalah wujudnya.

Persamaanya, meskipun kamu, misalnya, rajin memberi sesuatu, mengingatkan makan, atau mengirimi kata-kata manis tetap saja itu tidak berarti apa-apa jika kamu belum ikrar menikahinya, atau paling tidak memacarinya. Sehingga ibadah tetap saja penting seberapapun kamu sudah baik budinya. Beragama sama halnya menyatakan cinta, ialah yang membuat banyak hal bernilai beda. Dan begitulah hubungan dialektis antara ibadah-amal-bahagia. Semua harus sejalan.

Soal kebahagiaan beberapa filsuf memiliki cara pandangnya masing-masing.

Pandangan paling umum tentang kebahagiaan adalah Hedonisme. Hedonisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa hidup adalah untuk kesenangan. Untuk berbahagia. Seperti apa kesenangan yang dimaksud? Kenapa kesenangan sejati begitu sulit digapai manusia? Begini penjelasan ringkasnya:

Ada beberapa masalah yang menutupi sifat bahagia pada manusia. Yang pertama adalah adalah masalah pencarian itu sendiri. Manusia akan menghadapi paradoks atau ketimpangan ketika hendak mencari kebahagiaan. Semakin kebahagiaan itu dicari, maka semakin susah ditemukan.

Alasanya karena kebahagiaan sejatinya tak pernah meninggalkan kita, sebagaimana Tuhan yang juga selalu bersama kita. Maka jika hari ini kita berusaha mencari Tuhan—seperti halnya kebahagiaan—niscaya kita sulit untuk menemukan. Simpelnya bahagia itu ada dalam dirimu.

Masalah kedua adalah masalah prediksi. Manusia begitu kesulitan mematenkan kebahagiaan agar langgeng dalam dirinya karena persoalan prediksi. Untuk mencari kebahagiaan, kita harus bisa memprediksi apa yang akan membuat kita bahagia, namun hal itu tidak mudah, mengapa?

Yang pertama kita memiliki daya adaptasi begitu canggih (Habituation). Misal kita menganggap bahwa hidup kita akan hancur dan tak pernah akan bertemu bahagia saat berpisah dengan kekasih. Nyatanya kita keliru, beberapa bulan kemudian kita kembali bisa menertawai polah lucu ponakan kita. Kita kembali berselera mengusili teman untuk sekedar menertawainya. Ternyata kita kembali bisa bahagia. Pun sebaliknya, kita menganggap mendapat kekasih adalah bahagia, dan setelah berjuang untuk mendapatkannya, kita bahkan bosan setelah tak beberapa lama. Kenapa? Daya adaptasi kita tadi.

Kedua starting point dan kondisi kekinian yang berbeda-beda. Orang yang saben harinya bekerja serabutan akan mengira bahagia jika sore hari bisa bertemu nasi dan keluarga. Sementara sebagian orang menuntut lebih. Nasi sama sekali bukan penyebab bahagia baginya. Sebabnya starting point yang berbeda tadi. Pun dengan kondisi kekinian yang amat fluktuatif. Orang lapar menganggap makan adalah kebagahagiaanya. Orang mengantuk berpikir tidurlah yang bikin bahagia, dan seterusnya. Maka bahagia menjadi begitu sulit diprediksi.

Teori hedonisme

Hedonisme berkembang setelah manusia kebingungan menjawab sebenarnya untuk apa manusia itu hidup? Pertanyaan ini jauh sebelum Islam datang ke bumi, untuk itu para filosof merumuskan suatu konsep bahwa kebahagiaan atau hedone-lah yang menjadi alasan kenapa manusia hidup.

Dalam pandangan hedonisme hidup adalah untuk kesenangan. Dan kesenangan sejati adalah kesenagan yang menimbulkan kebaikan. Untuk mengukur sesuatu itu baik atau tidak, para hedonis mengandalkan kemampuan akal sebagai filter. Dengan akal kita bisa mengukur mana yang baik mana yang tidak. Dan yang baiklah yang akan mendatangkan kebahagiaan. Simpelnya perbuatan baiklah yang membikin bahagia. Kenapa? Karena “yang baik” akan menimbulkan atraxia atau ketenangan jiwa.

Jadi tidaklah suatu perbuatan yang akan membuat bahagia jika tidak menimbulkan ketenangan jiwa.

Variasi paham hedonisme yang dikembangkan oleh Epicurus, Aristippus, dan kawan-kawannya itu adalah hedonisme ultilitirianisme yang dikenalkan Jhons S. Mill. Menurut Mill kebahagiaan didapat dari perbuatan yang baik. Dan “Yang baik” adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Semakin banyak kamu bisa berfaedah bagi orang lain maka akan semakin bahagia. Begitu doktrin ultilitarianisme.

Teori Eudaimonisme

Peletak falsafah ini adalah Socrates. Menurut Socrates kebahagiaan dapat diperoleh dengan keutamaan (Arate) dan keutamaan dapat diraih dengan pengetahuan. Dengan pengetahuan yang baik dia akan memiliki moral yang baik. Pengetahuan dan moral baik akan menghasilkan perlikau yang baik. Dan itulah kebahagiaan menurut Socrates.

Plato melengkapi anggapan di atas. Bagi Plato bahagia itu soal memenuhi tiga unsur jiwa. Yakni akal, ruh, dan nafsu. Jika ketiga-tiganya terpenuhi maka kamu akan bahagia. Namun Plato memberi catatan bahwa yang harus menjadi jendral dari ketiga unsur jiwa tersebut adalah akal. Kekuasaan akal lah yang membikin kita utama. Jika ruh yang berkuasa, kita tak ubahnya zombie. Jika nafsu yang berkuasa kita serupa hewan.

Penutup falsafah ini adalah Aristoteles. Baginya sumber kebahagiaan adalah akal. Akal yang membuat dua pola kehidupan manusia. Yang pertama adalah theoria, merupakan perenungan mendalam atas realitas. Berpikir. Bagi Aristoteles kegiatan ini adalah kegiatan yang paling luhur dan membahagiakan. Yang kedua adalah praxis. Praxis menjelaskan kebahagiaan dalarn relasi antar manusia. Praxis diwujudkan melalui tindakan-tindakan dalam sebuah komunitas (keluarga, masyarakat, negara) untuk sebuah pencapaian kebahagiaan bersama.

Sedikit berbeda adalah pencarian kebahagiaan menurut Zeno. Bagi dia, manusia itu tidak bisa mengontrol segala sesuatu yang terjadi atas hidupnya. Memilih lahir dari keluraga seperti apa, di mana, bagaimana rupa kita, dan suku apa, merupakan kemustahilan. Yang dapat diupayakan adalah mengontrol sikap kita atas kenyataan hidup kita. sehingga Zeno beranggapan bahagia itu soal pengendalian diri.

Jika kita mampu mengendalikan diri, dengan mengkesampingkan keinginan dan menyesuaikan diri pada rasa sakit tentu kita akan bahagia. Sebebarapun penderitaan yang datang, jika kita kebal kita tetap akan bahagia, kira-kira begitu doktrin Zeno.

Teori Eksistensial

Tokohnya adalah Nietzsche. Filosof asal Jerman ini berpikir bahwa bahagia itu justru harus menuruti semua keinginan. Tidak ada manusia yang hidup tanpa keinginan. Dan satu-satunya jalan ya menurutinya, untuk bahagia ya menuruti SEMUA keinginan. Pertanyaanya mampukah kita memenuhi semua keinginan kita? Jika bisa kamu digaransi akan bahagia oleh Nietzsche.

Kebahagiaan dalam kacamata filosof muslim

Salah satu tokoh yang menyinggung soal kebahagiaan adalah Ibn Miskawaih. Menurutnya untuk bisa bahagia kita harus memenuhi semua kebutuhan unsur diri. Adapun unsur itu adalah Kebahagiaan fisik, Kebahagiaan mental, Kebahagiaan intelektual, Kebahagian moral, Kebahagiaan spiritual.

Menurut Ibn Miskawaih unsur-unsur tadi harus dipenuhi kebutuhannya secara berurutan. Akan tetapi yang paling utama adalah unsur spiritual. Jika itu terpenuhi, mustahil manusia tidak menggapai bahagia. Bahagia menurutnya adalah perkara mendekatkan diri pada Sang Kuasa. Semakin dekat semakin bahagialah kita.

Demikianlah teoria bahagia. Silahkan memilih jalan mana yang hendak kamu tempuh untuk berbahagia. Pesannya, bahagiamu jangan kau bangun di atas penderitaan dan konflik manusia lain. Salam.

One Response

  1. 22/11/2016

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga