Cerita dari Ostrali: Catatan Diskusi HMI Ibnu Sina

Reportase Diskusi HMI Ibnu Sina

Reportase Diskusi HMI Ibnu Sina

Selepas Isya, smartphone saya berdering. Foto Fatia muncul di aplikasi Line, rupanya dia yang telpon. “Mas, buruan ke Kedai Suluk pembicaranya sudah datang” katanya di sebrang telpon sana. Hari itu saya janji ikut diskusi, tapi hampir lupa. Untung Fatia cekatan mengingatkan.

Setelah sampai di lokasi, rupanya diskusi sudah dimulai. Di kursi duduk melingkar begejil-begejil komisariat macam Anang, Ilen, Miftah, Gilang dan Shidiq. Di meja terhidang segelas kopi hitam gayo. Saya heran, orangnya banyak kok kopinya cuma segelas. Oh, mungkin ini buat pantes-pantes aja. Masak ke kedai gak pesan apapun.

Diskusi HMI Ibnu Sina

Pesan kopi cuma satu. Yang lainnya bawa minum sendiri-sendiri.

Fatia duduk di samping pembicara, namanya Rizky Nur Aziz, orang Bojonegoro. Sudah dua tahun kuliah dan kerja di Australia. Asyik ya, kuliah sambil kerja, di ostrali lagi. Beda sama saya yang cuma kuliah sambil ngekos. Uhuk.

Dia pergi ke negeri Mba Julia Gilard selepas lulus SMA sekitar tahun 2014. Dia memang punya mimpi keluar negeri, kuliah, kerja, dan kalau bisa beranak pinak di sana. Sekarang dia tinggal di Sydney, Australia. Eh, btw kalian tau Australia dimana gak? Yak, tul. Di sebarang Kabupaten Kebumen. Dekat kok, kalo di peta.

Aziz berbagi kisah kehidupan selama di sana, tentang orang-orangnya, tentang budaya dan ekonomi ostrali. Di sana serba teratur, buang sampah gak bisa sembarangan.  Beda banget sama kita di sini, jangankan buang sampah, buang anak aja bisa sembarangan.

Soal lingkungan mereka juga sangat peduli. Di sana, nebang satu pohon bisa jadi polemik satu kota. La di sini? satu pohon mah ga ada apa-apanya, Gunung Slamet mau dibotakin sama konglomerat aja kita ya masih selow-selow aja.

Soal urusan kerja, kata Aziz, ostrali recomended banget lah. Kalau kamu kerja di sana, dibayarnya pakai dollar. Iyalah, masa pakai rupiah. Untuk satu jam kerja bayarannya 11 dollar. Kalau dirupiahkan mungkin di angka, berapa ya? Emm kamu hitung sendiri saja deh.

Sementara untuk urusan makan, dengan menu standar bisa 100 ribu sekali makan. Makanya, uang 5-6 juta rupiah itu enggak cukup buat sebulan di sana. Ya, Tuhan,,, padahal kalo di sini, uang sebanyak itu kalau dibelikan micin satu komisariat bisa gurih  semua, pikirku.

Aziz memotivasi kami untuk berani keluar negeri. Dia nyaranin kalau gak berani sendiri, bisa rame-rame satu komisariat. Dari sekarang diniatin dengan bikin pasport dan nabung, habis itu travelling deh ke Ostrali. Poto sama kangguru atau main boomerang sama orang Aborigin asli. Iya sih gampang, tapi kalau satu komisariat ke Ostrali, trus betah di sana, gak balik lagi lagi kan repot.

Tapi untuk traveler kelas beginner baiknya memang jangan ke Ostrali dulu. Ke Singapura aja yang dekat. Lagipula, tiket ke Negeri Singa itu cuma 300 ribu sekali jalan. Bandingkan sama tiket pulang saya ke Kalimantan yang cukup untuk beli hape Xiaomi. Singapura itu kecil, gak mungkin kesasar. Kalau kehabisan ongkos pulangnya bisa berenang ke Batam, mampir ke rumahnya Yusri.

Nah, tunggu apalagi? Ayo ke singapura. Mulailah dengan belajar berenang dulu.

Sebenarnya banyak yang diceritain sama Aziz. Tapi tidak mungkin ditulis semua, capek ngetiknya. Tapi hikmah ngobrol-ngobrol malam itu memberi banyak mamfaat, minimal untuk saya pribadi. Saya jadi kepingin keluar negeri, bosen keluar rumah terus.

Sekitar jam 23.00 malam, diskusi usai. Aziz pamit pulang ke rumah temannya. Kami kemudian melanjutkan diskusi ringan, ngobrol ngalor-ngidul. Sekitar 23.30, waktu Indonesia bagian barat tentunya, Sendi Dipantara dan Anop Susilo datang. Setelah mereka duduk dan memesan kopi, Miftah menutup diskusi. Kami pulang.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga