Mencintai Indonesia Dimanapun Berada

sang saka merah putih

Berkibarlah tinggi wahai merah putih

Selamat menjelang 17 Agustus, tanggal bersejarah bagi Rakyat Indonesia. Tanggal dimana Teks Proklamasi dan Sang Saka Merah Putih menghiasi Cakrawala Indonesia menuju kehidupan yang baru. Tanggal memorabilia bagi kita semua untuk kembali bertanya “Sudahkah kita benar-benar merdeka seratus persen?” Sebuah slogan singkat dari Tan Malaka, seorang bapak bangsa yang berjuang dengan gerakan bawah tanah dan sempat hampir terhapus dari sejarah.

72 tahun Indonesia merdeka patut dirayakan dengan segenap rasa syukur karena kita masih diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa dalam menghadapi ujian kehidupan berbangsa dan bernegara. Kasus korupsi E-KTP, penyiraman air keras terhadap Komisioner KPK, kebijakan kontroversial Full Day School, dan dibakarnya seorang terduga pencuri amplifier masjid dan masih banyak lagi potret permasalahan bangsa yang menunjukkan kualitas negara kita setelah 72 tahun lamanya.

Sebagai seseorang yang lahir, bernafas, dan hidup di bumi pertiwi Indonesia sudah sepatutnya kita mencintai dan menjaga negeri ini dengan sebaik mungkin. Setidaknya ikhlaskan sebaris Doa dalam ibadahmu untuk Indonesia yang lebih baik di tahun 2017 dan tahun tahun berikutnya. Karena pasti dua tahun ke depan suhu politik Indonesia akan lebih memanas, maka kita harus bersiap dari sekarang untuk tetap meng-adem-ademi bangsa Indonesia.

Berbicara tentang keikhlasan mencintai Indonesia, kita harus tahu bahwa di belahan bumi yang lain ada saudara kita yang sangat ikhlas mencintai Indonesia. Mempelajari tentang Indonesia, dan berbahasa Indonesia walau sedikit sekali perjumpaan mereka atau bahkan ada yang sama sekali tidak pernah menghirup wangi aroma rerumputan negeri ini.

Mereka adalah saudara kita sebangsa dan setanah air yang terlahir di negeri orang, sebuah keniscayaan yang terjadi karena sejak masa silam pemerintah kita belum mampu mewujudkan sila kelima Pancasila: Keadilan yang sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sehingga banyak dari saudara-saudara kita yang mengadu nasib di negeri orang, bahkan hingga beranak pinak disana. Mereka merasa bahwa di sanalah jalan rizkinya. Namun percayalah di lubuk hati terdalam mereka akan selalu terpatri bahwa hanyalah Indonesia satu-satunya kampung halaman.

Sebuah ironi dan sebuah kebanggaan bahwa dengan tanpa menjalani hidup di Indonesia. Dengan ikhlas memberi tahu anak–anaknya bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia, mengenalkan lagu dan bendera kebangsaan Indonesia, mengajari mereka bahasa Indonesia. Bahkan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Indonesia yang tersedia di berbagai negara favorit tujuan pengiriman TKI yang dikelola oleh KBRI. Barangkali sekolah tersebut adalah sebuah kesadaran dan permintaan maaf pemerintah atas ketidakmampuannya memenuhi pemerataan ekonomi dan ketersediaan lapangan pekerjaan untuk seluruh anak cucu bangsa Indonesia.

Sebagaimana yang dialami oleh saudara laki-laki saya yang bernama Ibrahim. Dia dilahirkan di Jeddah 23 tahun yang lalu dari kedua orang tua yang berasal dari Indonesia. Fasih berbahasa arab tidak lantas membuatnya jumawa berkata bahwa dia adalah orang Saudi, justru dengan lantangnya dia mengatakan “saya adalah orang Indonesia”. Walaupun dia sendiri ragu apakah namanya ada di catatan kependudukan di daerahnya, Bangkalan Madura. Karena hanya satu kali dia pernah pulang ke Indonesia, itupun ketika masih kanak-kanak.

Kecintaanya terhadap Indonesia sudah dipupuk sedari kecil, setidaknya atmosfir keindonesiaan yang terwujud dalam suasana pembelajaran di SIJ (Sekolah Indonesia Jeddah) membuat Ibrahim muda dan kawan-kawan diaspora yang lain bisa merasakan miniatur kehidupan Indonesia. Mulai dari seragam, kurikulum, dan buku pembelajaran disesuaikan dengan sekolah di Indonesia pada umumnya. Bahkan tenaga kependidikannya semua direkrut dari Indonesia. Upacara bendera dan Pramuka merupakan aktifitas yang paling bisa dirasakan oleh para siswa untuk membentuk kesadaran cinta tanah air yang nun jauh di sana.

Tidak jauh dari SIJ, terdapat pula pusat pengembangan kajian Islam untuk diaspora Indonesia bernama MIJ (Masjid Indonesia Jeddah) yang dikelola oleh PCINU Saudi. Di masjid inilah Ibrahim dan kawan-kawan bersinggungan dengan wawasan keislaman ala NU yang moderat. Mengikuti Madrasah Diniyah setiap sore dan kajian-kajian keislaman bersama PCI Ansor Saudi menumbuhkan perspektif lain tentang keislaman dan kebangsaan yang berjalan beriringan, tentang bagaimana menjadi seorang Muslim dengan pola pikir yang “Tawassuth, Tawazun, Tasammuh”.

Setidaknya dua hal tersebut yang membuat diri Ibrahim merasa dekat dan menjadi bagian dari Indonesia. Rasa cintanya terhadap Indonesia adalah seperti rasa cintanya kepada Nabi dan Tuhan. “Tanpa perlu bertemu, tanpa perlu bertegur sapa, aku tetap cinta” begitulah kelakar Ibrahim dalam pesan Whatsapp sebagai cara saya dalam melakukan wawancara personal untuk tulisan ini.

Apa yang terjadi kepada Ibrahim mungkin malah menjadi kebalikan bagi beberapa saudara muslim kita yang secara kasat mata memiliki KTP Indonesia namun selalu berujar bahwa NKRI adalah negara “Thoghut” yang wajib diperangi. Kerinduan terhadap negeri yang “Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur” membuat mereka merencanakan sebuah jalan pintas untuk mewujudkan impian tersebut. Yang bahkan gerakan pada masa Rasulullah sendiri tidak sesederhana apa yang mereka pikirkan.

Maka 72 tahun Indonesia merdeka merupakan momen yang tepat untuk kembali merangkul saudara-saudara kita untuk lebih mencintai NKRI dan Pancasila sebagai bagian dari permufakatan Para Pendiri bangsa ini. Marilah kita bergerak bersama untuk membangun rumah Indonesia ini agar menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi seluruh anak cucu bangsa. Seperti yang selalu dikatakan oleh Cak Nun di setiap forum Maiyah bahwa Indonesia adalah bagian dari diri kita, mari kita bershodaqoh untuk Indonesia.

Akhir kata, untaian Do’a dan harapan saya agar Indonesia bisa lebih baik, Tata kelola pemerintahan yang baik, dan pemerataan ekonomi sehingga kita bisa mengembalikan saudara-saudara kita ke pangkuan ibu pertiwi. Sudah cukup kita dikenal sebagai negara pengekspor tenaga kerja. Seharusnya pemerintah bisa memperhatikan hal ini dengan lebih baik. Karena sesungguhnya hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan emas di negeri sendiri. Itu sudah pasti dan harus terlaksana.

Wallahulmuwafiq Ila Aqwamitthariq

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga