Cinta yang Tak dipikirkan

Cinta yang Tak Dipikirkan Tak Layak Dijalani

03/06/2017 172 0 0

Cinta yang Tak Dipikirkan Tak Layak Dijalani. Hampir seluruh penduduk bumi bersepakat bahwa cinta adalah sesuatu, yang karena keagungannya, berdiri di atas akal pikiran. Konsekuensi dari kesimpulan tersebut adalah banyak di antara kita yang menganggap cinta berdiri terpisah dari akal. Kita menyerahkan sepenuhnya cinta pada kerja rasa dan menafikkan pikiran kita.

Sehingga banyak hal-hal diluar nalar justru dikerjakan atas nama cinta. Semakin besar cinta, semakin tak masuk akal akibatnya. Membunuh karena cemburucinta, menggadaikan masa depan karena (cinta) pacar, menelantarkan kuliah karena (cinta) gebetan, memukuli orang karena (cinta) tokohnya, dan lain sebagainya.

Dan untuk kesemua keteledoran tersebut kita memilih bersepakat dengan apologia paling memuakkan: sedang dimabuk cinta. Ketimbang memilih menjadi waras karena cinta.

Saya, sebagaimana jomblo lain di luar sana, tentu tak anti pada cinta. Betapapun saya pernah kecewa musabab cinta, itu takkan melunturkan pendambaan saya akan cinta. Tentu karena keagungannya.

Pada dunia tasawuf, cinta adalah medium pendekatan pada Tuhan yang paling tinggi levelnya. Oh bukan, saya tidak ngaku-ngaku sufi. Sholat aja males kok. Itu hanya untuk menggambarkan bagaimana cinta seharusnya mengantarkan manusia pada kebenaran-kebenaran. Pada kebaikan-kebaikan. Bukan malah sebaliknya.

Lalu apatah yang salah dari cinta kita?
Kita tak pernah benar-benar serius menjalani cinta.
Sehingga mengaburkan batas cinta-benci-nafsu dan sebagainya. Cinta kita adalah cinta yang tak pernah dipikirkan. Kita terlampau polos menyerahkan jalan cinta pada ketidaksiapan-ketidaksiapan.

Pacaran misalnya, sangat sedikit–kalau tidak mau dibilang tidak ada–orang pacaran yang memikirkan secara serius tentang pacarannya. Sehingga pacaran, yang seharusnya adalah ikhtiar memadukan dua cinta untuk menemukan hakekat kesatuan, menjadi kering makna.

Sekedar main-main saja. Menghabiskan waktu dengan berbalas pesan, mentlaktir makan, atau saling bertandang ke kos-kosan. Tidak lebih. Jika nasib mujur, pernikahan menjadi pelabuhan akhirnya. Jika tidak? Yang sisa tinggal kedukaan-kedukaannya.

Ohya, sampai di sini, saya kira akan banyak orang yang memprotes saya sebagai orang yang pro maksiat. Sebelum dugaan itu kelewat liar, saya akan menegaskan begini: Secara konsep pacaran serupa dengan anjuran ta’aruf dalam Islam. Soal istilah saja. Yang membedakan adalah tentang batasan dan keseriusan. Itupun perbedaan yang tidak mustahil untuk disamai (pacaran bisa juga cepat, tepat, dan serius menuju pernikahan).

Maka wahai para jamaah pacaran yang dicemburui Allah, seriuslah memikirkan percintaanmu. Rumuskan tujuan, batasan, dan aturan pacaran kalian. Buatlah masterplan yang rinci, batasan yang jelas, dan, jika perlu, AD/ART pacaran kalian. Ini semua demi terwujudnya generasi pacaran yang berkarakter dan visioner.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana intelektual organik bisa dilahirkan dari halaqoh-halaqoh bernama pacaran, seandainya terma-terma seperti liberalisme, humanisme, anarkisme, kapitalisme atawa sosialisme jadi materi kencan.

Seandainya pun gagal dalam percintaanmu, niscaya banyak pelajaran yang bisa kamu petik. Paling tidak, kenangan-kenangan yang kalian ciptakan sedikit menambah wawasan. Lebih dari itu, “dokumen” selama pacaran akan memudahkanmu melakukan evaluasi sebelum memutuskan untuk jatuh cinta lagi.

Comments

comments

Tags: cinta, esensiana, Jomblo, Malem Minggu, PHP Categories: Malem Minggu Esensiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.