Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana

Renungan untuk calon sarjana

Sepertihalnya sarjana, beruang juga bisa murung

Renungan ini saya tulis untuk mereka yang faham dan percaya, bahwa kuliah hanyalah satu tempat singgah menghabiskan luang waktu yang tersisa. Sekedar bersuka ria selagi usia masih muda; gaudeamus igitur iuvenusdum sumus.

Makin sering saya kuliah maka semakin buntu jalan pikiran ini. Otak ini menjadi semakin picik dan busuk, karena otak ini serasa disumbat tumpukan diktat sakral yang selalu ditenteng oleh dosenku; yaitu dewa kesucian yang tidak pernah salah. Semua ucapannya bagaikan kitab sakti yang tidak terbantahkan.

Dosenku adalah mahaguru yang tahu segalanya dan saya adalah manusia tolol dan penurut. Diktat yang telah usang terus dijejalkan sampai mulutku penuh dan mau muntah. Sampai ketika saya merasakan kejenuhan intelektual, kemudian teringat refleksi kritis A.S. Neil (1883-1973). Beliau mengatakan;

 “Saya percaya bahwa memaksakan apapun dengan kekuasaan adalah salah. Seorang anak seharusnya tidak melakukan apapun sampai ia mampu berpendapat—pendapatnya sendiri—bahwa itulah yang harus dilakukan.”

Bayangkan, suasana belajar yang menyebalkan itu harus saya jalani selama kurang lebih 1.770 hari atau sekitar lima tahun. Apakah selama lima tahun yang telah saya jalani sudah bisa menjamin menjadi manusia sesungguhnya? Saya malah merasa sebaliknya, belajar di kampus justru membodohkan, karena dosenku anti-dialogi, selalu memberikan instruksi dan peraturan ketat. Sampai-sampai lidah ini terasa kaku, karena selama lima tahun tidak boleh berbicara, apalagi bernada membangkang dan mengkritik.

Ternyata sikap dosen yang anti-dialogis itu telah sukses menghantarkan saya menjadi sarjana tolol, lugu dan tidak tahu diri. Saya tidak pernah diberi kesempatan untuk belajar mempertanyakan sesuatu yang membuat saya ragu akan entitas kebenaran.

Sebenarnya belajar itu apa?

Sepertinya dosenku belum pernah berkenalan dengan pemikiran almarhum Heidegger (1889-1976). Bagi Heidegger, “Belajar berarti membuat segala sesuatu yang kita jawab menjadi hakikat-hakikat yang selalu menunjukkan dirinya sendiri kepada kita setiap saat. Mengajar lebih sulit lagi, karena apa yang dituntut dari mengajar adalah membiarkan orang belajar.

Setelah melakukan refleksi kritis saya baru sadar setelah keluar dari gedung perkuliahan, ternyata gedung yang selama ini saya tempati adalah gudang mitos. Karena di dalamnya, perbedaan mitos dan realitas menjadi kabur. Sangat ironis memang. Benar-benar membosakan. Sebagaimana telah diekspresikan oleh Ivan Illich (1926-2002), bahwa; “Sistem sekolah saat ini menjalankan tiga fungsi umum gereja—institusi keagamaan–sepanjang sejarahnya. Yakni menjadi gudang mitos masyarakat, pelembagaan kontradiksi dalam mitos tersebut, dan lokus ritual yang mereproduksi serta menyelubungi perbedaan antara mitos dan realitas”.

Kini rasanya saya bisa bernafas untuk menghirup udara bebas, karena telah keluar dari penjara yang selama ini memasung kebebasanku untuk berekspresi dan berkoar-koar tentang wacana kiri, idealisme dan aktivitas politik subversif. Manusia-manusia garang penjual diktat telah hilang dari aktivitas keseharianku. Mimpi buruk kuliah telah musnah seiring penobatan saya sebagai sarjana, kemudian menjadi pengisi data statistik para penganggur dan menambah beban negara.

Saya telah keluar dari perkampungan para birokrat akademisi yang formalistik. Aku muak dengan gelar sarjana yang sering digunakan orang untuk mengejar pangkat, jabatan dan popularitas. Tetapi biarlah gelar sarjanaku itu menempel sebagai hiasan semu seorang mahasiswa untuk sekedar menghibur dan menipu diri. Dasar tolol.

Selama berdialektika di organisasi saya berkenalan dengan pemikiran filosof barat, yaitu Friedrich Nietzsche (1844-1990). Nietzsche pernah berfikir “Tuhan telah mati” dan keyakinanya, bahwa karena itu kita harus menciptakan manusia baru seorang “Adimansia”(Ubermensch). Kalau anda masih mempunyai akidah segeralah beribadah, agar hidupmu mendapatkan berkah. Nietzsche melalui perenungannya sebenarnya telah memberikan peringatan kepada kita agar manusia tidak hanya pasrah dan berdo’a, tetapi manusia sebenarnya juga mempunyai kekuatan dan kehendak untuk menentukan eksistensi dirinya.

Selanjutnya patut kita pertanyakan, apakah sarjana itu menjamin bahwa  mereka mempunyai kesadaran penuh untuk membela manusia-manusia tertindas? Atau justru para sarjana nantinya bangga dengan sepatu mengkilap, berjas dan berdasi kemudian berjalan-jalan dikantor menenteng seberkas data kemiskinan yang akan dijual kepemodal?

Dan mungkin juga ada yang mempunyai karir akademik sukses dengan sederet gelar panjang disandangnya, tetapi mata hatinya buta melihat ketimpangan sosial. Mereka semua hanya akan menjadi manusia naif. Refleksi saya ini sejalan dengan pernyataan Tan Malaka sebagaimana disitir oleh Franz Magnis-Suseno; “Dalam negara ini akan terdapat tugu peringatan manusia najis, penghianat negara, penjual rakyat, kusta masyarakat. Puluhan, ya ratusan nama dan gelar manusia najis yang dituliskan disemua sisi tugu raya ini. Yang termasuk golongan manusia najis nomor satu ialah mereka yang langsung membantu penjajah, penindas, penghisap dan pembunuh rakyat Indonesia”.

Semoga aku bukan bagian dari sarjana najis yang akan menjadi kusta masyarakat itu.

Sebagai perenungan terakhir untuk menenangkan jiwa yang gelisah dan terasing, Kahlil Gibran Sang Penyair termasyhur dari Libanon Utara melukiskan;

Kehidupan adalah sebuah pulau yang memiliki batu-batu harapan, yang memiliki batu-batu impian, yang memiliki bunga-bunga kesepian, yang memiliki musim semi kehausan—ditengah lautan kesunyian dan pengasingan.”

Dan perlu diketahui renungan saya ini tidak menghilangkan rasa hormat saya pada mereka, para dosen dan guru saya.

(Catatan ini diambil dari Buku Panduan Pelatihan Basis PMII yang disusun oleh Nur Sayyid Santoso Kristeva dan telah disesuaikan oleh redaksi esensiana.com)

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga