Di Altar Pernikahan: Kita Semua Sebaiknya jadi Feminis (4)

18/03/2018 253 0 0

Seorang kenalan orang Nigeria sekali bertanya kepada saya, ia cemas bahwa pria akan diintimidasi oleh saya.

Saya tidak cemas -itu tidak pernah terjadi kepada saya, karena seorang pria akan mengintimidasi saya, jenis demikian yang mana saya tidak akan tertarik.

Saya diganggu oleh ini, karena saya perempuan. Saya diharapkan untuk menikah. Saya  berharap untuk membuat pilihan hidup saya sendiri di dalam pikiran saya bahwa pernikahan adalah sesuatu yang paling penting.

Perkawinan dapat menjadi sesuatu yang baik, sumber kebahagiaan, cinta dan dukungan menguntungkan. Tapi mengapa kita mengajar perempuan untuk menikah, tapi tidak mengajar hal yang sama terhadap pria?

Saya tahu seorang perempuan Nigeria memutuskan untuk menjual rumah, ia tak ingin mengintimidasi seorang pria yang mungkin ingin menikahinya.

Saya kenal perempuan yang belum menikah di Nigeria, ketika ia pergi ke konferensi, memakai ia cincin kawin, karena ia ingin koleganya –menurutnya- “menghormatinya”.

Yang paling menyedihkan dalam hal ini adalah cincin kawin akan secara otomatis membuat ia merasa dihormati, sementara tidak melingkarkannya akan membuat ia dengan mudah dipinggirkan -dan itulah tempat kerja modern.

Saya tahu seorang wanita muda dimana ia mendapat banyak tekanan -dari keluarganya, temannya, juga tempat kerja- menikah menjadi pendorong mereka untuk membuat pilihan mengerikan.

Masyarakat kita mengajar perempuan pada umur tertentu yang belum menikah untuk melihat itu sebagai sebuah kegagalan individual. Sementara seorang pria pada umur tertentu yang belum menikah tidak terlalu mengambil perhatian.

Sangat mudah untuk mengatakan -tapi perempuan tidak dapat mengatakannya pada kasus ini. Kenyataanya lebih sulit, lebih kompleks. Kita semua makhluk sosial. Kita menyerap ide dari sosialisasi kita.

Bahasa yang kita gunakan mengilustrasikannya. Bahasa perkawinan sering sebagai bahasa kepemilikan, bukan bahasa sebuah hubungan manusia.

Kita menggunakan kata hormat untuk sesuatu yang perempuan tunjukan ke pria, tetapi sering tidak berlaku untuk lelaki yang tampilkan terhadap wanita. Tetapi pria dan wanita akan berkata: “Saya melakukannya untuk kedamaian di dalam rumah tangga saya.”

Ketika lelaki mengatakannya, itu biasanya mengenai suatu hal yang mereka sebaiknya lakukan. Sesuatu yang mereka katakan kepada kawan mereka di dalam kejengkelan, sesuatu yang secara terakhir membuktikan maskulinitas mereka -“Oh istriku berkata saya tidak bisa pergi keluar setiap malam, jadi sekarang untuk kedamaian rumah tangga, saya hanya pergi di akhir pekan.”

Ketika perempuan berkata, ”Saya melakukannya untuk kedamaian rumah tangga saya,” itu biasanya karena mereka menyerah dalam karir, tujuannya, dan mimpi mereka.

Kita mengajar perempuan dalam sebuah hubungan untuk berkompromi apa yang perempuan lebih suka untuk lakukan. Kita merawat perempuan untuk melihat lawan mereka -bukan sebagai untuk pencapaian kerja yang bagi saya menjadi sesuatu yang positif- tapi untuk menarik perhatian lawan jenis.

Kita mengajari perempuan bahwa mereka tidak bisa menjadi makhluk seksual seperti yang laki-laki lakukan. Jika kita memilki anak laki-laki, kita tidak memikirkan untuk mencari tahu pacarnya, tapi pacar anak perempuan kita? Tuhan melarangnya. (Kita tentu mengharapkan mereka membawa pulang pria sempurna untuk kawin saat waktu sudah tepat.)

Kita menertibkan perempuan. Kita menghargai perempuan untuk keperawanannya tetapi kita tidak menghargai laki-laki untuk keperjakaannya (itu yang membuat saya heran bagaimana dengan pasti diketahui, karena hilangnya perawan adalah proses yang melibatkan dua orang yang berbeda gender.)

Akhir-akhir ini perempuan muda di perkosa di sebuah perguruan tinggi di Nigeria, dan respon yang muncul bagi kaum muda Nigeria, baik pria dan wanita sepert ini: ya pemerkosaan adalah salah tapi apa yang sedang si gadis lakukan di sebuah ruangan dengan empat pria?

Mari kita, jika bisa lupakan kebejadan mengerikan dari respon itu. Orang Nigeria tersebut telah dididik untuk berfikir bahwa perempuan salah. Mereka telah dibesarkan untuk mengharapkan sedikit sekali laki-laki bahwa ide dari pria biadab dengan tanpa kontrol dapat diterima.

Kita mengajari penghinaan perempuan. Tutup pahamu. Jaga dirimu. Kita membuat mereka merasa meski dilahirkan sebagai perempuan, mereka adalah suatu kesalahan. Dan si gadis tumbuh menjadi perempuan yang tak dapat mengatakan keinginan mereka. Yang membungkam mulut mereka. Yang tak dapat mengatakan sejujur-jujurnya apa yang mereka pikirkan. Yang telah merubah pura-pura menjadi semacam bentuk seni.

Saya tahu perempuan yang membenci pekerjaan rumah, tapi ia pura-pura menyukainya, karena ia diajarkan untuk menjadi istri yang baik. Ia harus menjadi -dalam bahasa orang Nigeria- rumahan. Dan ia menikah. Dan keluarga suaminya mulai berisik bahwa ia berubah. Sebenarnya, ia tidak berubah, ia lelah menjadi apa yang ia tidak kehendaki.

Masalah gender adalah bahwa ia menentukan bagaimana kita sebaiknya menjadi dari pada mengenali bagaimana diri kita. Bayangkan betapa lebih bahagia kita, betapa lebih bebas untuk menjadi individu diri kita sendiri. Jika kita tidak punya beban ekspektasi gender.

Bocah laki-laki dan bocah perempuan tidak bisa dipungkiri berbeda secara biologis, tetapi sosialisasi melebih-lebihkan perbedaaan itu. Dan kemudian mulailah proses mengisis dirinya. Memasak ambil contoh, hari ini perempuan secara umum lebih suka mengerjakan pekerjaan domestik dari pada pria -memasak dan bebersih. Mengapa seperti itu?

Hal demikian terjadi karena perempuan dilahirkan dengan sifat bawaan memasak karena ribuan tahun mereka telah disosialisasi dengan melihat memasak sebagai peran mereka? Saya akan mengatakan  bahwa mungkin perempuan dilahirkan dengan sifat bawaan memasak sampai saya ingat bahwa mayoritas dari makanan terkenal di dunia -dibuat pria dan ia diberi gelar chef- adalah pria.

Saya telah melihat nenek, perempuan brilian, dan takjub apa yang akan ia lakukan jika ia memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki selama masa mudanya. Hari ini, banyak kesempatan untuk perempuan daripada saat nenek saya. Karena perubahan dalam kebijakan dan hukum dimana itu  menjadi sangat penting.

Tetapi apa yang terjadi lebih soal attitude kita dan mindset kita.

Bagaimana jka dalam membesarkan anak, kita fokus terhadap kemampuan bukan soal gender? Bagaimana jika kita fokus terhadap minat bukan gender?

Saya mengetahui sebuah keluarga yang memiliki seorang putra dan putri, selisih satu tahun, keduanya pandai di sekolah. Ketika si bocah laki-laki lapar, orangtuanya bakal berkata kepada si bocah perempuan, pergi dan masak indomie untuk kakakmu. Si gadis kecil tidak suka memasak indomie, tapi ia perempuan dan ia harus mengerjakannya. Bagaimana jika sedari awal kedua orang tua mereka mengajari kedua anak mereka untuk memasak indomie?

Memasak, adalah berguna dan kemampuan hidup untuk laki-laki miliki -saya tidak pernah berpikir itu akan mencipta kesadaran untuk menginggalkan hal penting, kemampuan untuk memberi makan dirinya sendiri dan suatu saat orang lain.

Saya tahu seorang perempuan memiliki gelar sama dan pekerjaan sama dengan suaminya. Ketika mereka kembali dari kerja, ia mengerjakan sebagian besar pekerjaan domestik, yang begitu pula untuk banyak pernikahan, tetapi apa yang mengagetkan saya adalah ketika suami mengganti popok bayi, istri mengatakan terima kasih kepadanya. Apa ia tidak melihat jika itu suatu hal yang lumrah dan alamiah, bahwa ia sebaiknya membantu mengurus anak-anaknya?

Saya sedang mencoba untuk tidak mempelajari banyak pelajaran gender, ia masuk sembari saya tumbuh. Tetapi, saya terkadang merasa rentan dimuka ekspektasi gender.

Waktu pertama saya mengajar kelas menulis di sekolah pasca sarjana, saya cemas. bukan mengenai materi ajar, saya telah mempersiapkan dengan baik dan saya mengajar apa yang saya nikmati. Melainkan saya cemas soal apa yang harus dipakai. Saya ingin dianggap serius.

Saya tahu karena saya perempuan, saya secara otomatis harus membuktikan siapa saya. Saya cemas jika saya terlihat terlalu feminin, saya akan tidak dianggap secara serius. Saya sungguh ingin memoleskan pencerah aksen bibir dan rok perempuan, tapi saya memutuskan tidak. Saya memakai pakaian serius, sangat kelelakian, dan berpakaian buruk.

Kebenaran menyedihkan yang terjadi adalah saat penampilan, kita memulai menggunakan pria sebagai standar, sebagai norma. Kebanyakan dari kita berpikir semakin tidak feminin penampilan seseorang perempuan, semakin ia dianggap serius. Seorang pria pergi ke pertemuan usaha tidak peduli mengenai tanggapan dengan apa yang ia kenakan, tetapi perempuan demikian peduli.

Saya berharap saya tidak mengenakan pakaian buruk hari itu. Kemudian saya merasa percaya diri sekarang untuk merasa menjadi diri saya sendiri. Mahasiwa saya akan diuntungkan dari apa yang saya ajar. Karena saya lebih nyaman dan lebih penuh dan sebenar-benarnya diri saya.

Saya telah memilih untuk tak lagi apologetis untuk femininitas saya. Dan saya ingin dihormati dengan segala keperempuanan saya. Karena saya patut. Saya suka politik dan sejarah dan gembira ketika mempunyai argumen baik mengenai ide. Saya juga memiliki keperempuanan. Saya senang senang dengan keperempuanan, saya suka  hak tinggi dan mencoba gincu. Tetapi saya sering memakai pakaian yang kelaki-lakian, tidak suka atau tidak paham. Saya memakainya karena saya menyukainya dan saya merasa nyaman. Mata lelaki sebagai pembentuk pilihan hidup saya, kebanyakan insidental.

 

Selanjutnya di Minggu depan,

Gender tidak mudah untuk dibicarakan ….

Comments

comments

Tags: Chimamanda, Feminis, Translate Categories: Translasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.