Di Depan Kasir: Kita Semua Sebaiknya jadi Feminis (3)

11/03/2018 273 0 0

Saya punya teman yang lain, juga perempuan Amerika, yang memainkan peran penting di periklanan. Ia salah satu perempuan dari dua di timnya. Suatu kali, pada pertemuan, ia mengatakan, ia merasa diremehkan oleh bosnya, yang tidak peduli dengan pendapatnya dan menghargai sesuatu yang sama ketika itu datang dari mulut lelaki.

Ia ingin berbicara, untuk menentang bosnya. Tapi ia tidak bisa. Malahan, setelah pertemuan itu, ia pergi ke kamar mandi dan menangis, dan memangil saya utuk mendengar curhatnya. Ia tidak ingin berbicara karena ia tidak ingin terlihat agresif, ia membiarkan kebenciannya mendidih.

Apa yang mengganggu saya dan dia dan teman perempuan Amerika lainnya, yang saya punya, adalah bagiamana cara mereka untuk disukai. Bagaimana mereka telah dirawat untuk percaya bahwa mereka disukai, lebih disukai adalah lebih penting, dan disukai ini melatih melakukan sesuatu. Dan hal spesifik itu tidak termasuk menunjukan kemarahan atau menjadi agresif atau tidak setuju dengan terlalu nyaring.

Kita terlalu menghabiskan banyak waktu mengajari perempuan untuk cemas soal apa yang laki-laki pikirkan terhadap mereka. Tapi, tidak sebaliknya. Kita tidak mengajari anak laki-laki untuk peduli terhadap hal tadi. Kita menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memberi tahu perempuan bahwa mereka tidak boleh marah atau agresif. Itu cukup buruk, tapi di lingkungan sekitar menghargai dan membolehkan laki-laki untuk alasan yang sama.

Di seluruh dunia, banyak artikel majalah dan buku memberi tahu apa yang harus perempuan lakukan, apa yang boleh dan tidak boleh, untuk menarik atau menyenangkan laki-laki. Ada lebih sedikit arahan untuk laki-laki dalam menyenangkan perempuan.

Saya mengajar kelas menulis di Lagos dan salah satu peserta, gadis muda, memberi tahu bahwa seorang teman telah memberi tahu untuk tidak mendengar “obrolan feminis” saya; ia akan menyerap ide yang akan merusak pernikahannya. Ini sebuah ancaman -destruksi dari pernikahan, kemungkinan tidak menikah selamanya- bahwa di dalam masyarakat kita lebih suka melawan perempuan dari pada melawan laki-laki.

Gender ada di mana-mana di seluruh dunia dan yang saya lakukan hari ini untuk menyatakan bahwa kita harus memulai untuk bermimpi tentang rencana sebuah dunia yang berbeda. Dunia yang lebih fair. Dunia yang lebih gembira bagi pria dan wanita, yang mana sebenar-benarnya diri mereka. Dan bagaimana ini dimulai: kita harus merawat putri-putri kita dengan berbeda, kita harus membesarkan putra-putra kita dengan berbeda pula.

Kita mengerjakan tindakan merugikan yang hebat terhadap anak laki-laki dalam bagaimana kita membesarkan mereka. Kita melumpuhkan kemanusiawian bocah laki-laki. Kita mendefinisikan maskulinitas dalam jalan yang sangat sempit. Maskulinitas adalah sulit, kurungan kecil dan kita memasukan bocah laki-laki di dalamnya.

Kita mengajar bocah laki-laki untuk takut akan kelemahan, atau kerentanan. Kita mengajari mereka untuk menutupi diri mereka sendiri, karena mereka harus menjadi, di dalam kata orang Nigeria -seorang pria yang keras.

Di sekolah menengah, remaja putra dan remaja putri pergi kencan, keduanya remaja dengan uang saku tipis. Akan tetapi si pacar lelaki diharap selalu membayar tagihan untuk menunjukan maskulinitasnya. (Dan kita terkejut si bocah laki-laki memakai duit orang tuanya.)

Bagaimana jika kedua gadis dan bujang dididik untuk tidak menghubungkan maskulinitas dengan uang? Bagaimana jika attitude mereka “bukan lelaki yang harus membayar” tapi lebih kepada “siapa yang lebih punya sebaiknya yang bayar”. Tentu, karena keuntungan sejarah, sebagian pria yang akan memiliki lebih hari ini. Tetapi jika kita mulai membesarkan anak dengan berbeda, lima puluh tahun kemudian, ratusan tahun kemudian, laki-laki tidak akan memiliki tekanan untuk membuktikan maskulinitas mereka dengan materi.

Tapi semakin jauh hal buruk kita lakukan terhadap pria -dengan membuat mereka harus menjadi keras- adalah kita meninggalkan mereka dengan ego yang rawan. Pria keras merasa terpaksa untuk menjadi, egonya melemah.

Dan kita juga melakukan tindakan merugikan terhadap perempuan, kita merawatnya untuk melayani ego pria yang rapuh. Kita mengajar gadis-gadis untuk untuk menyusutkan diri mereka, untuk membuat diri mereka mengecil.

Kita mengatakan terhadap perempuan: kamu boleh punya ambisi, tapi jangan terlalu banyak. Kamu sebaiknya menjadi sukses, tapi jangan terlalu sukses, jika demikian kamu akan mengancam pria. Jika kamu lebih mapan secara ekonomi dalam sebuah hubungan dengan lelaki. Berpura-puralah kamu tidak sesukses itu, khususnya dimuka publik. Atau kamu akan mengebiri pacarmu.

Tapi bagaimana jika pertanyaannya: mengapa seorang perempuan sukses harus menjadi ancaman untuk lelaki? Bagaimana jika kita memutuskan untuk mendisposisi kata itu -dan saya tidak tahu jika ada kata dalam bahasa Inggris yang saya tidak tahu selain mengebiri (emasculation).

 

Selanjutnya di Minggu depan,

Seorang kenalan orang Nigeria sekali bertanya kepada saya, ia cemas bahwa ….

Comments

comments

Tags: Chimamanda, Feminis, Terjemahan Categories: Translasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.