Di Masyarakat: Kita Semua Sebaiknya jadi Feminis (5)

25/03/2018 185 0 0

Gender tidak mudah untuk dibicarakan. Itu membuat masyarakat tidak nyaman, terkadang malah menjengkelkan. Pria dan wanita menolak untuk berbicara tentang gender, atau dengan cepat menghilangkan masalah gender. Karena berpikir bakal merubah status quo dan itu tidak mengenakkan.

Sebagian orang bertanya ”Mengapa kata feminis? Mengapa tidak berkata bahwa Anda adalah orang yang percaya terhadap hak asasi, atau sesuatu yang mirip dengannya? Lantaran itu akan menjadi kebohongan.

Feminisme, tentu bagian dari hak asasi secara umum tetapi untuk memilih menggunakan ekspresi samar-samar dengan istilah hak asasi adalah untuk mengingkari masalah gender secara spesifik dan khusus. Ia akan menjadi jalan kepura-puraan bahwa bukan perempuan yang berabad-abad dieksklusi. Itu akan menjadi jalan untuk mengingkari bahwa masalah gender  yakni target perempuan. Masalah itu bukan soal menjadi manusia, akan tetapi secara spesifik menjadi manusia betina. Selama berabad-abad, dunia dibagi menjadi dua kelompok dan kemudian melanjutkan pengakuan itu.

Sebagain pria merasa terancam dengan ide feminisme. Itu terjadi, saya fikir berasal dari kecemasan yang muncul oleh bagaimana bocah laki-laki terbawa, bagaimana kesadaran mereka dari kelayakan diri terkikis jika secara tidak “alamiah” untuk bertanggungjawab sebagai pria.

Laki-laki lain mungkin merespon dengan berkata: Oke, ini menarik, tetapi saya tidak berpikir demikian. Saya tidak pernah memikirkan gender.

Mungkin tidak.

Dan itu menjadi bagian masalah. Banyak pria tidak berpikir aktif tentang gender atau memperhatikan gender. Banyak pria berkata, seperti yang Louis lakukan bahwa segalanya buruk di masa lalu tetapi baik-baik saja sekarang. Dan banyak pria tidak melakukan apa-apa untuk merubahnya.

Jika kamu seorang pria dan kamu berkunjung ke resto dan pelayan hanya memberi salam kepadamu, apa kamu akan bertanya, “Mengapa Anda tidak memberi salam kepadanya (dia perempuan)?”, laki-laki harus berbicara di dalam segala penghilangan kejadian kecil seperti ini.

Karena gender tidak nyaman dibicarakan, ada banyak cara sangat mudah untuk menutup pembicaraan.

Sebagian orang akan membawa evolusi manusia dan monyet, bagaimana monyet betina tunduk kepada monyet jantan. Poinnya adalah kita bukan monyet, monyet hanya hidup di pepohonan dan memakan cacing tanah. Kita tidak demikian.

Sebagian orang berkata: Oke, pria miskin juga memiliki waktu yang sulit, dan mereka menjalaninya.

Tapi itu bukan yang dibicarakan. Gender dan kelas berbeda. Pria miskin masih punya privilege sebagai pria, meski mereka tidak memiliki privilege materi. Saya belajar banyak soal sistem penindasan dan bagaimana mereka dapat dibutakan satu sama lain dengan membicarakannya kepada pria kulit hitam.

Suatu waktu, saya berbicara gender dan seorang pria berucap kepada saya, “Mengapa kamu harus menjadi dirimu sebagai perempuan? Mengapa tidak menjadi dirimu sebagai manusia?” Jenis pertanyaan ini adalah jalan pembungkaman pengalaman spesifik seseorang. Tentu, saya seorang manusia, tapi ada hal khusus yang dapat terjadi kepada saya di dunia karena saya seorang perempuan. Pria yang sama, akan berbicara mengenai pengalamannya sebagai seorang pria kulit hitam. (Sebaiknya saya mungkin merespon: Mengapa tidak pengalamanmu sebagai pria atau manusia? Mengapa seorang pria kulit hitam?)

Jadi, percakapan tadi mengenai gender. Sebagian orang akan berkata, tetapi perempuan memiliki kekuatan sesungguhnya: “kekuatan bawah”. (Ini ekspresi orang Nigeria untuk perempuan yang menggunakan seksualitasnya untuk mendapat materi dari lelaki). Tetapi kekuatan bawah bukanlah sumber segala kekuatan, karena perempuan dengan kekuatan bawah sejatinya lemah, ia hanya memiliki jalur untuk mendapat kekuatan orang lain. Dan apa yang terjadi jika si pria sedang dalam perasaan yang buruk atau sakit atau tiba-tiba impoten?

Beberapa orang akan berkata seorang perempuan adalah subordinat pria karena kebudayaan kita. Tetapi budaya secara konstan berubah. Saya punya dua kemenakan cantik berusia lima belas. Jika mereka dilahrikan seratus tahun lalu, mereka akan diculik dan dibunuh lantaran ratusan tahun lalu, budaya Igbo mempertimbangkan kelahiran bayi kembar sebagai sebuah pertanda buruk. Hari ini praktik tersebut, tak terbayangkan untuk seluruh masyarakat Igbo.

Apa poin budaya? Budaya berfungsi utnuk meyakinkan preservasi dan keterlanjutan penduduk. Di dalam keluarga saya, saya seorang anak yang paling tertarik dengan cerita siapa kami, keturunan, dan tradisi.

Saudara lelaki saya tidak tertarik laiknya saya. Tapi saya tidak dapat mengikuti tradisi, privilege pria Igbo, dan hanya anggota keluarga laki-laki yang dapat menghadiri pertemuan keluarga besar dalam mengambil suatu keputusan. Meski saya orang yang paling tertarik dalam hal tadi, saya tidak bisa ikut berembug. Saya tidak mempunyai suara formal lantaran saya perempuan.

Budaya tidak menciptakan manusia, manusia yang menciptakan budaya. Jika itu benar bahwa kemanusiaan untuk perempuan bukanlah budaya kita, kita dapat dan wajib membuatnya di dalam budaya kita.

Saya sering memikirkan Okoloma. Semoga dia dan lainnya yang meninggal dalam kecelakaan Sosoliso beristirahat dengan tenang.  Ia akan selalu dikenang oleh kami yang menyayanginya. Dan ia benar, hari itu, beberapa tahun lalu, saat ia memanggil saya feminis. Saya seorang feminis.

Dan ketika beberapa tahun lalu, saya melihat kata di kamus, ia berbunyi: Feminis adalah seseorang yang percaya di dalam kesetaraan sosial, politik, dan ekonomi untuk setiap sex.

Nenek hebat saya, dari cerita yang saya dengar merupakan seorang feminis. Ia lari dari rumah pria yang tidak ingin dikawininya dan kawin dengan pria yang dikehendakinya. Ia menolak, protes, dan berbicara ketika tanah dan aksesnya dirampas lantaran ia perempuan. Ia tidak tahu kata feminis. Akan tetapi, tidak berarti dia bukan dari salah satunya. Lebih dari kita, sebaiknya mengklaim ulang kata itu.

Feminis terbaik yang saya ketahui adalah saudaraku Kene, ia baik, sedap dipandang, dan pria muda yang sangat maskulin. Definisi saya pribadi feminis adalah orang baik laki-laki atau perempuan yang mengatakan, ya ada masalah dengan gender sebagaimana hari ini dan kita harus menyelesaikannya, kita harus melakukan yang terbaik. Seluruh dari kita, wanita dan pria harus mengerjakan yang terbaik.

Teks ini diterjemahkan dari essay Chimamanda Ngozi Adichie dengan judul We Should All Be Feminist. Essay tersebut berawal dari materi Adichie pada konferensi tahunan yang fokus mengkaji Afrika pada Desember 2012 di TEDxEuston. Adichie dikenal berkat salah satu magnum opusnya Purple Hibiscus, bagi saya novel tersebut kental dengan aroma poskolonial yang memasung kehidupan perempuan.

Comments

comments

Tags: Chimamanda, Feminis, Translate Categories: Translasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.