Dilema Sarjana Pertanian: Kerja di Bank Dinyinyiri, Jadi Agronomist Ditelan Teknologi

28/07/2018 737 0 1

Dari sela kaca jendela resort, matahari pagi menyemburat, membangunkan Mawar (nama samaran) yang baru saja lelap bersama pasangan usai seharian berjalan-jalan mengelilingi pantai Seminyak. Lalu, Mawar mengawali pagi itu dengan mengecek layar ponsel, membalas beberapa pesan dari karib, dan tiba-tiba, muncul notifikasi di layar selebar lima setengah inchi: “Tanaman tomat kamu memerlukan penyiraman untuk hasil yang optimal, apakah kamu ingin melakukannya sekarang?” Kemudian Mawar menekan pilihan “Yes”. Lahan yang jaraknya 1.200 kilometer dari tempatnya berlibur terkucuri air dari nozzle yang dipasang di sekitar tanaman.

Kira-kira begitulah, cara orang bertani di masa depan. Kamu tak perlu mendatangi lahan, menyiangi, mencangkuli, -sama sekali tak perlu. Cukup membuka ponsel dan bertani hanya dengan jari-jarimu. Imajinasi itu tak semata angan-angan, sebabnya hari ini memang sedang dikembangkan teknologi untuk mewujudkannya.

Dua hari ini saya bertemu dengan salah satu pengembangnya. Tanibox namanya. Memang masih menjadi perusahaan rintisan, tapi bau-baunya ini akan menjadi tren ke depan. Sebuah tren yang bikin para sarjana pertanian panas dingin. Lha bagaimana tidak, posisi tawarnya sebagai petani, pilih tanding dengan ragam ilmu taninya, akan rontok melawan algoritma aplikasi je.

Sepertinya, memang satu satunya yang tetap di dunia ini adalah perubahan.  Semua hal yang semula dianggap sudah final, tetap saja akan berubah sejauh manusia masih punya waktu untuk galau. Resah. Ya, dari perasaan-perasaan seperti itulah perubahan terjadi. Perubahan yang membawa cara kerja lama menjadi tak relevan.

Apalagi hari ini kita semua hidup di era disrupsi, era di mana perubahan jadi menggejala kemana-mana dengan begitu cepatnya. Lanskap transportasi berubah, cara belanja berubah, gebetan berubah, apa saja berubah. Termasuk pertanian.

Jika dulu sarjana pertanian memiliki peran strategis sebagai perencana, pengawas, maupun pelaksana tata usaha tani, hari ini semua itu bisa dikerjakan Tanibox hanya dengan tekologi yang mengawinkan pertanian dengan internet segalanya (baca: IoT). Praktis, semua peran yang saya pelajari semasa kuliah bisa digantikan oleh Tanibox dengan tingkat kesalahan yang jauh lebih kecil dan efisiensi tinggi jika dibanding saya—juga ribuan sarjana lainnya—yang masih terdampak mood, baper, dan lupa.

Di sisi lain, perusahaan seperti Tanibox adalah jawaban dari kecemasan kita terhadap jumlah petani yang kian susut. Juga lahanya yang kian surut. Perlu diketahui, rata-rata petani kita hari ini adalah mereka yang sudah berusia di atas lima puluh tahun. Sementara anak-anak mudanya lebih memilih menenteng tripod untuk membikin video Tik Tok, alih-alih menentang pacul, membantu ayahnya di sawah.

Lahan kita juga begitu, kian waktu kian mengecil seiring pembangunan bandara, jalan tol, Meikarta dan lain sebagainya.

Tanibox dengan segala impresi berbau teknologi mutakhirnya, tentu dapat menarik minat anak muda pada pertanian, selain memang karena benar-benar akan memudahkannya. Jadi, kamu tak perlu repot-repot mempelajari analisa pertumbuhan tanaman selama satu semester, agronomi tiga semester, bioteknologi satu semester, dan sembilan puluhan SKS lainya. Semua orang bisa jadi petani! Di sisi lain, penggunaan lahan pertanian juga bisa makin efisien. Ntaps!

Bayangkan sensor yang dipasang pada lahan akan mendeteksi semua unsur pendukung pertumbuhan. Mulai dari suhu hingga nutrisi dan langsung mengirimkan datanya secara real time kepada kamu melalui perangkat gadget, sejauh hape-mu masih nangkep sinyal. Tak hanya itu, kamu pun dapat melakukan beberapa tindakan yang dianggap perlu, seperti menyiram atau memupuk, dari layar hape tadi. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan ? ha?

Lebih lanjut, Tanibox menjanjikan dukungan penuh untuk proses pra produksi hinga pasca panennya. Produk yang kamu hasilkan bahkan bisa dilacak histori transaksinya. Mampuslah tengkulak dikoyak teknologi!

Dengan semua fakta itu, pantas jika para sarjana pertanian mesti rajin-rajin beribadah. Banyak dzikir, juga mikir, karena kalau tidak, posisinya makin sulit. Kerja di bank dinyinyiri, kerja jadi petani tergilas teknologi. Hmmmmmm ….

Comments

comments

Tags: Dilema, pertanian, Sarjana, Tanibox, TIPS Categories: Malem Minggu Esensiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts