The House of the Spirits

Dongeng “Anak Setan” dari Gunung

16/12/2017 198 0 0

 

Pada bulan Desember selalu riuh ramai, bukan soal lagu ERK yang tepat secara konteks waktu, melainkan soal Soe Hok Gie, ia mati lahir bulan ini. Dosen muda itu mati, menghirup gas yang tidak semestinya, usahanya untuk tetap “sehat” menghantarkannnya menuju senja. Dalam kehidupan mahasiswa, namanya seperti hantu, selalu muncul, ia produktif dalam menulis kritik dan upayanya menentang, memberontak dan nekad. Tak heran, bukunya acapkali diburu untuk dibaca oleh mahasiswa dimana ia punyai gelora yang membuncah dan menjompak-jompak dalam mendefinisikan dirinya sendiri.

 “Dia seorang pria muda, baru 27 tahun, tanpa posisi, dan keturunan Tiong Hoa. Tetapi, di Indonesia, ia orang pertama yang menulis secara terbuka di muka umum tentang penahanan ribuan tapol tanpa pengadilan dan kamp pengasingan, pun soal keputusasaan istri-istri mereka serta takdir anak-anak mereka yang diboikot pemerintah. Saudara tuanya cukup sering meyatakan nila-nilai humanisme universal, tapi tidak dengan Gie, dan beberapa yang lain yang seangkatan dengannya yang memiliki keberanian untuk meletakkan nilai-nilai itu dirumah,”

kenang Ben Anderson dalam obituarinya In Memoriam: Soe Hok Gie.

Arief Budiman, salah satu orang yang menandatangani Manikebu, adalah kakak Gie sendiri, ia pun turut mengenang adiknya, seperti termaktub dalam Catatan Seorang Demonstran.  “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan selama ini. Saya menulis, melakukan kritik terhadap banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kririk saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa yang sebenarnya saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian,” tulis Arief.

Berondongan keluh kesah Gie tadi, ia katakan pada Arief, lalu, ia pergi bersama kawan-kawannya dari Stasiun Gambir menuju Mahameru, ia tak pulang, ia tak mengatakan apa-apa lagi, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang ia buat, tak ia jawab.

****

Pada Perang Dunia Dua, anggaplah Jerman dan Jepang hanyalah anak-anak kecil yang riangnya membuncah kala bermain-main kembang api, tatkala sang Bapak (Amerika Serikat) marah, segala macam permainan harus dihentikan. Perang adalah kontestasi industri mesin pembunuh dan kekuatan ekonomi, nyawa manusia hanya daun-daun kering yang berguguran, atau bahkan elemen kelipatan persekutuan terkecil dalam ilmu hitung. Perang dunia usai, memunculkan produk sejarah baru, negara-negara baru perlahan bermunculan.

The House of the Spirits

hak memilih memang milik rakyat, tapi kekuasan adalah tugas para pemegang bayonet, popor senapan dan moncong meriam

Dalam The House of the Spirits, sebuah film adapatasi dari novel berjudul sama karya Isabel Allende, muncul dua tokoh anak setan, Pedro Segundo dan Blanca Trueba. Memang, bukan berlatar di gunung, melainkan di bukit Tres Marias. Pedro adalah sosok revolusioner pemimpin partai rakyat sekaligus buruh dari usah pertanian keluarga Trueba, sementara Blanca adalah ibu dari anak Pedro, Alba. Blanca Trueba sendiri adalah anak dari Esteban Trueba, pentolan partai konservatif dan ayah dari Blanca sendiri. Pedro adalah buronan Esteban, sementara putrinya adalah buronan militer. Bukan melulu soal percintaan lintas kelas, film ini semacam alegori, soal Salvador Allende, kerabat sang penulis. Salvador adalah presiden kiri pertama di Amerika Latin yang digulingkan oleh Pinochet atas sokongan CIA.

Dalam film ini ditegaskan bahwa hak memilih memang milik rakyat, tapi kekuasan adalah tugas para pemegang bayonet, popor senapan dan moncong meriam.

Pesan penting yang lain adalah bagaimana partai penguasa bila ingin langgeng, harus dekat dengan para pemegang komando perintah. Dan hal ini juga pernah terjadi dalam politik yang melibatkan PKI dan Soekarno.

Selama Soekarno meningkatkan perjuangan melawan Belanda untuk membebaskan Irian Barat, hal ini menjadi gambaran dominan. Tetapi kini posisi partai meningkat kuat dan kaum komunis memperoleh kembali hal-hal yang hilang selama akhir 1950-an. Sebenarnya Seokarno dan AD sangat membutuhkan dukungan kaum komunis. Mereka memerlukan dukungan PKI untuk memperoleh persenjataan dari Moskow. Ini bukan masalah senjata ringan atau sejumlah bazooka seperti yang disumbangkan kepada berbagai gerakan pembebasan, tetapi persenjataan yang paling canggih. Kemudian Indonesia  menjadi negara yang mendapat bantuan militer terbesar dari Uni Soviet (Peter Kasenda, Partai Komunis Indonesia).

Kenang-kenangan pemebebasan dan bergabungnya Irian Barat dengan Indonesia, menjadi salah satu pencapaian terbesar Soekarno sebagai presiden, tentu ini tidak terlepaskan atas keringat peluh D.N. Aidit. Tapi ini tidak berlaku dalam konfrontasi Indonesia dengan Malaysia, yang pada akhirnya menggulingkan sang proklamator. Dan kembali PKI harus menyurati Kremlin pada waktu itu.

“Menariknya, permintaan Indonesia kepada Kremlin untuk memperoleh lebih banyak persenjataan ditolak. PKI malahan mendapat dampratan keras dan Moskow mencari kawan-kawan lain di Jakarta. Misalnya, mulai melirik AD dan Murba dimana tokoh seperti Nasution dan Adam Malik dipandang memiliki peran kunci,” lanjut Kasenda.

Pada medio pertengahan 60-an, nampaknya Adam Malik bukan lagi pengagum garis keras Tan Malaka, yang pada awal revolusi sangat diidolakanya.

Zen Rahmad Sugito, orang penting di panditfootball.com dan tirto.id pernah menulis tulisan yang sangat mencerahkan soal keluarga Aidit, dalam Wangsa Aidit. Esainya sangat gamblang tentang kehidupan para keturunan marga Aidit. Salah satunya Ilham Aidit.

Empat orang tentara dari Divisi Siliwangi mendatangi kediaman manusia, keempatnya hendak mencari “anak setan (anak Aidit)” lengkap dengan senjata, pembantaian urung dilaksanakan saat keempatnya melihat air muka tanpa noda.

Anak kecil yang hampir di-dor yang kini telah berputri dua itu bernama Ilham. Lengkapnya Ilham Aidit. Ia adalah anak keempat pasangan D.N. Aidit dengan –Sutanti . Ilham lahir kembar bersama adiknya, Irfan, pada 18 Mei 1959 di Moskow. Ketika pecah pageblug 1965, Ilham, Irfan plus abangnya, Iwan sempat dititipkan ibunya pada seorang saudaranya di Bandung. Saudara ibunya itulah yang dikisahkan menghadapai empat tentara Siliwangi yang hendak menghabisi Ilham.  Tak lama kemudian, Iwan, Ilham, dan Irfan dipelihara oleh DR. Moeliono hingga dewasa.

Ketika kuliah di ITB, Ilham memilih aktif di kegiatan pecinta alam. Ia tergabung dalam kelompok pecinta alam bergengsi, Wanadri. Pilihan Ilham aktif di kegiatan pecinta alam merupakan konsekuensi logis pilihannya untuk menjauhi kegiatan yang berbau politik. Beban sebagai anak D.N. Aidit tidak memungkinkannya mengambil banyak pilihan. Semuanya serba terbatas. Segalanya serba dibatasi. Itupun Ilham masih sering menerima terror dan makian.

****

Pada awal tahun 80-an, Presiden Suharto mengeluarkan kebijakan soal ABRI masuk desa, sebuah keputusan yang sangat politis, semacam memastikan dan membersihkan apakah ada oposisi atau tidak, apakah ada pengkritik yang membahayakan rezim. Suharto, sang mantan perwira tinggi, tentu hafal diluar kepala, dimana wilayah yang menjadi basis-basis pendukung PKI, pun dengan berbagai macam pemberontakkan semasa Soekarno berkuasa.

Setelah memasuki Reformasi,  aroma-aroma ABRI masuk desa dimodifikasi dalam bentuk KKN TMMD, berbagai macam perguruan tinggi berjabat tangan dengan militer dalam program ini. Meski, pada faktanya hampir semua kota yang memiliki PTN/PTS sudah diduduki oleh militer. Di dalam kota banyak terdapat komplek lembaga baju loreng dan perumahan dinas.

Kebijakan terkait TMMD diatur dalam UU TNI No 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, TMMD adalah implementasi dari OPSM atau operasi militer selain perang dijelaskan dalam Pasal 7 ayat (2), yang salah satunya adalah membantu tugas pemerintahan di daerah. Tentu, ini politis, militer mengawasi seluk-beluk kehidupan sipil secara langsung dalam berbagai bentuk kegiatan, misal dalam gerakan pembuatan jamban yang menggandeng dengan pemangku kepentingan yang lain.

Niat baik patut diterima, namun tidak salah juga untuk ditelaah. Melihat kondisi geografis dan sosiologis masyarakat di daerah, tentu ini politis. Bukan melulu soal kesehatan, kebiasaan masyarakat desa yang terbiasa pindah kakus jika kakus itu sudah penuh, kebiasaan ini dapat memunculkan degradasi kesuburan tanah. Dan fakta ini berkaitan dengan ekses yang lebih jauh.

****

“Dia tidak merasa nyaman ketika berurusan dengan otoritas, secara naluri memandang kekuasaan sebagai musuh terakhir dari moralitas. Pada diri saya, saya sangat terkejut mengetahui bahwa ia pendaki gunung yang sangat antusias. Kemudian pada suatu hari, saya bertanya kepada Gie secara langsung. Ia mengatakan bahwa itu bagian dari latih diri, namun hanya di puncak gunung ia merasa benar-benar bersih, mungkin ia berada di dalam tradisi pada akhirnya, dengan cara Gie sendiri,”  tukas Ben anderson dalam In Memoriam: Soe Hok Gie.

ia tak pulang, ia tak mengatakan apa-apa lagi, ia adalah salah satu pelopor Mapala UI, dan Mapala UI adalah kelompok pecinta alam tertua di dalam negeri. Pun dengan Wanadri yang identik dengan Mapala UI.

Selamat ulang tahun untuk Gie dan Selamat menikmati hari tua untuk Ilham Aidit a.k.a Ilham Alam Putera.

Comments

comments

Tags: Ilham Aidit, Soe Hok Gie, The House of the Spirits Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.