Yang Harus Kamu Tahu dari Pengetahuan

10/09/2017 173 0 0

Yang harus kamu tahu dari pengetahuan

Mas boleh ajarin saya menulis?

Saya sudah sering mendapat pertanyaan semacam itu. Saking seringnya, bahkan saya sudah kesulitan untuk menentukan pertanyaan semacam itu lahir dari kesadaran si penanya atau hanya basa-basi semata. Ya, karena seringkali, sesaat setelah pertanyaan mendapat jawaban, pengetahuan tentang menulis dari saya, yang tentu saja sekedarnya, tidak merubah apa-apa dalam dirinya. Sederhananya, dia tidak menulis. Atau paling tidak ya mencoba menulis lah.

Permasalahannya kemudian, kasusnya tidak hanya tentang pertanyaan bagaimana cara menulis. Kasus serupa juga muncul di hampir semua pengetahuan kita.

Kita tahu bahwa, misalnya, membaca buku itu baik. Tapi kita begitu sungkan membaca. Kita tahu bahwa berbohong itu jelek, tapi seringkali kita “iseng” melakukannya. Kita tahu bersedekah itu baik, tapi begitu berat melakukannya. Kita tahu menipu itu dosa, tapi seringkali kita melanggarnya. Kita tahu bahwa menikung pacar temen itu ga sopan, tapi, tapi kan…

Ya begitulah pengetahuan kita selama ini. Ditumpuk kian meninggi, tapi tidak menimbulkan efek apa-apa pada hidup kita. ya sekedar CTW. Cukup tauw aja!

Pun dengan cara kita memandang pendidikan: mencari pengetahuan. Sialnya pendidikan kita memberikan begitu banyak pengetahuan yang berjarak pada kesadaran. Memberi tahu bahwa membantu menyebrangkan nenek-nenek di jalan sebagai salah satu indikator moral Pancasila, lalu pulang dengan mobil jemputan yang semena-mena menekan klakson pada pejalan kaki. Apalagi yang jalannya pelan.

Boleh jadi, kita lulus dengan predikat suma cumlaude pada materi kuliah ekonomi koperasi, menyandang status aktivis anti kemapanan, tapi enggan masuk koperasi. Ya karena tadi itu, pengetahuan kita berjarak dengan kesadaran untuk menjalankan pengetahuan yang kita punya.

Padahal, pengetahuan, sebanyak apapun dicari, tidak memberikan apa-apa. Sejauh pengetahuan tersebut tak pernah diaplikasikan. Sebaliknya, sekecil apapun pengetahuan, jika itu dimaknai penuh lalu dijalankan sungguh-sungguh, sepertinya lebih memiliki dampak. Ya paling tidak, pengalaman, sekalipun itu berupa kegagalan.

Tentang bagaimana dahsyatnya pengetahuan yang dibarengi dengan kesadaran untuk menjalankannya secara sungguh-sungguh kita bisa belajar dari KH. Ahmad Dahlan. Tentu tanpa mengurangi rasa hormat saya pada adik sepermondokan beliau, KH. Hasyim Asyari dengan jam’iyah Nunya.

Sekarang, kembali pada Muhammadiyah.

Tokoh pendiri Muhammadiyah tersebut “hanya” mengamalkan satu ayat dalam surat al-Imron, lalu mengelaborasinya dengan surat al-Maun, dan jadilah organisasi keislaman yang memiliki jumlah masa nomer dua di Indonesia. Dari sisi kemajuan organisasi, Muhammadiyah, bahkan bisa jadi yang pertama.

Ahmad Dahlan terilhami ayat 104 al-Imron yang pada intinya, tentang pentingnya keberadaan segolongan umat (bisa dimaknai sebagai organisasi) yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah yang munkar. Kemudian organisasi tersebut dijiwai oleh surat al-Ma’un yang titik beratnya pada kegiatan sosial sebagai manifestasi kesalehan spritual umat beragama. Lalu jadilah amal usaha Muhammadiyah berupa PKU, kampus, sekolah, rumah sakit, lembaga zakat, dan macam-macamnya itu.

Tentu saja, Muhammadiyah dalam perkembangannya, terus tumbuh bersama internalisasi ayat-ayat lain, juga mungkin filosofi, sehingga menjadikannya organisasi yang kuat. Namun kita tak bisa pungkiri, bahwa penghayatan surat al-Imron ayat 104 sebagai sumber inspirasi awal tidaklah bisa diabaiakan begitu saja. Sekaligus membuktikan bahwa pengetahuan, tentang satu ayat Alquran saja, jika diimbangi dengan kesadaran untuk menjalankan pengetahuan itu maka hasilnya bisa luar biasa.

Pada praktik yang sama, kita juga bisa melakukannya pada pengetahuan tentang hal-hal yang sederhana tadi. Tahu tentang membaca itu baik, menulis itu positif, menolong itu mulia, dan sebagainya. Kesemuanya itu, jika kita mau menjalankannya niscaya jadi lebih berguna. Semoga.

Baca tulisan-tulisan lain dari fajar di esensiana:

  1. Soal Rohingya, FPI ini Menyakralkan Apa? Agama atau Ilusi atas Agama

  2. Soal Rohingya, Waraskah Mengutuk Kebencian dengan Kebencian?

  3. Pagar Mangkok Lebih Kuat Daripada Pagar Tembok: Sebuah Oleh-oleh Piknik dari Desa

 

Comments

comments

Tags: esensi pengetahuan, kesadaran pengetahuan Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.