Yang Harus Kamu Tahu dari Pengetahuan

Yang harus kamu tahu dari pengetahuan

Mas boleh ajarin saya menulis?

Saya sudah sering mendapat pertanyaan semacam itu. Saking seringnya, bahkan saya sudah kesulitan untuk menentukan pertanyaan semacam itu lahir dari kesadaran si penanya atau hanya basa-basi semata. Ya, karena seringkali, sesaat setelah pertanyaan mendapat jawaban, pengetahuan tentang menulis dari saya, yang tentu saja sekedarnya, tidak merubah apa-apa dalam dirinya. Sederhananya, dia tidak menulis. Atau paling tidak ya mencoba menulis lah.

Permasalahannya kemudian, kasusnya tidak hanya tentang pertanyaan bagaimana cara menulis. Kasus serupa juga muncul di hampir semua pengetahuan kita.

Kita tahu bahwa, misalnya, membaca buku itu baik. Tapi kita begitu sungkan membaca. Kita tahu bahwa berbohong itu jelek, tapi seringkali kita “iseng” melakukannya. Kita tahu bersedekah itu baik, tapi begitu berat melakukannya. Kita tahu menipu itu dosa, tapi seringkali kita melanggarnya. Kita tahu bahwa menikung pacar temen itu ga sopan, tapi, tapi kan…

Ya begitulah pengetahuan kita selama ini. Ditumpuk kian meninggi, tapi tidak menimbulkan efek apa-apa pada hidup kita. ya sekedar CTW. Cukup tauw aja!

Pun dengan cara kita memandang pendidikan: mencari pengetahuan. Sialnya pendidikan kita memberikan begitu banyak pengetahuan yang berjarak pada kesadaran. Memberi tahu bahwa membantu menyebrangkan nenek-nenek di jalan sebagai salah satu indikator moral Pancasila, lalu pulang dengan mobil jemputan yang semena-mena menekan klakson pada pejalan kaki. Apalagi yang jalannya pelan.

Boleh jadi, kita lulus dengan predikat suma cumlaude pada materi kuliah ekonomi koperasi, menyandang status aktivis anti kemapanan, tapi enggan masuk koperasi. Ya karena tadi itu, pengetahuan kita berjarak dengan kesadaran untuk menjalankan pengetahuan yang kita punya.

Padahal, pengetahuan, sebanyak apapun dicari, tidak memberikan apa-apa. Sejauh pengetahuan tersebut tak pernah diaplikasikan. Sebaliknya, sekecil apapun pengetahuan, jika itu dimaknai penuh lalu dijalankan sungguh-sungguh, sepertinya lebih memiliki dampak. Ya paling tidak, pengalaman, sekalipun itu berupa kegagalan.

Tentang bagaimana dahsyatnya pengetahuan yang dibarengi dengan kesadaran untuk menjalankannya secara sungguh-sungguh kita bisa belajar dari KH. Ahmad Dahlan. Tentu tanpa mengurangi rasa hormat saya pada adik sepermondokan beliau, KH. Hasyim Asyari dengan jam’iyah Nunya.

Sekarang, kembali pada Muhammadiyah.

Tokoh pendiri Muhammadiyah tersebut “hanya” mengamalkan satu ayat dalam surat al-Imron, lalu mengelaborasinya dengan surat al-Maun, dan jadilah organisasi keislaman yang memiliki jumlah masa nomer dua di Indonesia. Dari sisi kemajuan organisasi, Muhammadiyah, bahkan bisa jadi yang pertama.

Ahmad Dahlan terilhami ayat 104 al-Imron yang pada intinya, tentang pentingnya keberadaan segolongan umat (bisa dimaknai sebagai organisasi) yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah yang munkar. Kemudian organisasi tersebut dijiwai oleh surat al-Ma’un yang titik beratnya pada kegiatan sosial sebagai manifestasi kesalehan spritual umat beragama. Lalu jadilah amal usaha Muhammadiyah berupa PKU, kampus, sekolah, rumah sakit, lembaga zakat, dan macam-macamnya itu.

Tentu saja, Muhammadiyah dalam perkembangannya, terus tumbuh bersama internalisasi ayat-ayat lain, juga mungkin filosofi, sehingga menjadikannya organisasi yang kuat. Namun kita tak bisa pungkiri, bahwa penghayatan surat al-Imron ayat 104 sebagai sumber inspirasi awal tidaklah bisa diabaiakan begitu saja. Sekaligus membuktikan bahwa pengetahuan, tentang satu ayat Alquran saja, jika diimbangi dengan kesadaran untuk menjalankan pengetahuan itu maka hasilnya bisa luar biasa.

Pada praktik yang sama, kita juga bisa melakukannya pada pengetahuan tentang hal-hal yang sederhana tadi. Tahu tentang membaca itu baik, menulis itu positif, menolong itu mulia, dan sebagainya. Kesemuanya itu, jika kita mau menjalankannya niscaya jadi lebih berguna. Semoga.

Baca tulisan-tulisan lain dari fajar di esensiana:

  1. Soal Rohingya, FPI ini Menyakralkan Apa? Agama atau Ilusi atas Agama

  2. Soal Rohingya, Waraskah Mengutuk Kebencian dengan Kebencian?

  3. Pagar Mangkok Lebih Kuat Daripada Pagar Tembok: Sebuah Oleh-oleh Piknik dari Desa

 

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga