esensiana.com

Indonesia, saya pikir, adalah sebuah negara yang diperjuangkan oleh begitu banyak manusia. Saking banyaknya, di belakang deretan nama pahlawan, ada berjuta-juta makam tak bernama turut berkontribusi memerdekakan bangsa ini. Salah satu yang mengambil porsi besar dalam perjuangan bangsa adalah mereka para penulis buku, para pemamah buku. Dari merekalah semangat perjuangan menjadi lebih menggelora dan terorganisir. Sehingga tak berlebihan kalau kita menyebut sejarah Indonesia adalah sejarah literasi, sejarah pergolakan ilmu pikir dan buku-buku.

Sepenggal kisah bukti misalnya, pernah satu ketika Soekarno bertukar buku dengan Musso, sebelum akhirnya mereka dipisahkan oleh konflik berdarah Madiun. Kala itu Soekarno begitu terharu saat Musso menemui dirinya di Istana Jogjakarta, sesaat sebelum berpisah Soekarno memberikan buku karangannya yang ia beri judul Sarinah. Musso menerimanya sambil berjanji akan membalas dengan buku pula.

Tak lama setelah itu, Musso memang menulis sebuah buku yang ia namai Djalan Baroe, lewat Djalan Baroe itulah Musso melakukan agitasi perlawanan pada penguasa yang tak sejalan dengan ideologinya hingga melahirkan konflik di Madiun. Dari situ kemudian Musso Musso terbunuh.

Pada contoh lain, Tan Malaka menghadirkan jalan serupa. Ia adalah pahlawan yang menjadi abadi dengan buku-bukunya. Perjuangannya menjadi begitu powerful  meski saat itu ia tak masuk dalam lingkaran kekuasaan. Yang paling syahdu adalah kenyataan bahwa ia berhasil menyelesaikan karyanya bahkan saat kondisinya kian tak memungkinkan bagi orang kebanyakan. Bukunya yang berjudul dari penjara ke penjara adalah bukti ia tetap melawan meski dibalik jeruji besi. Atau sebuah kritik monumentalnya akan mental dan nalar orang Indonesia saat itu, MADILOG, yang selesaikan ditengah peperangan dengan Jepang.

Lain lagi dengan laku sahaja Bung Hatta, Bapak Proklamasi dus Bapak Koperasi ini pernah berujar “Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja; sebab dengan buku pikiranku tetap bebas”. Buku-bukunya menjadi kitab sakti yang dirujuk oleh berbagai kalangan hingga kini. Atau Sjahrir yang kita kenal sebagai The Smilling Diplomat, Ia juga seorang penulis lagi penikmat buku.

Maka pada itu, tanpa satupun maksud untuk mengkesampingkan perjuangan pahlawan lain, buku-buku nyata membuat kita merdeka. Persenggamaan antara pemikiran dinamis dengan laku juang mu’taqidlah yang mengantarkan kita menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Yang lebih hebat antara Soekarno, Hatta, Musso, Sjahrir, Tan Malaka dan lain sebagainya kerap berselisih pandang. Hanya saja mereka menyelesaikannya dengan cara elegan, menulis buku, membuat kerja-kerja literasi. Tak seperti kita yang gampang misuh melawan ide dengan kepal, menolak gagasan dengan pelototan mata. Mestinya Kitab dibalas kitab.

Sebab itulah kita musti mewadahi gagasan kita semua. esensiana.com adalah sebuah tempat bagi bertemunya gagasan dielektis itu. Tidak ada jawab dari segala keterbelakangan literasi kita kecuali menulis dan berperang ide. Di ruang seperti itulah konflik menjadi mencerdaskan, tembok kejumudan bisa dibongkar, dan keangkuhan bisa dilawan.

esensiana.com jua kritik atas pandangan dangkal yang kerap menjebak manusia dalam sekat-sekat sektarian, suku, agama, ras, dan segala perbedaan yang memang seharusnya ada. Di sisi lain ia juga informasi mengenai berbagai hal yang dekat dengan keseharian kita. esensiana.com dikonsep untuk menampung segala kerja literasi Anda, kami terbuka pada kritik, masukan, serta ide Anda. Silahkan berkontribusi dengan menuliskan pandangan Anda mengenai berbagai hal dan itu adalah awal benih jariyah ditebar.

Menulislah kawan sebab tulisan itu peluru. Salam LITERASI! Salam ESENSI!