Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah

Sisi Baik Perempuan Jahiliyah

Jangan kaget, kala itu, bahkan jauh sebelum kelahiran Nabi wanita di sana sudah banyak yang berkerudung.

Salah satu yang menjadi sorotan terkait standar moral yang kemudian menempatkan masyarakat zaman jahiliyah (sebelum kedatangan ajaran Nabi Muhammad) adalah posisi perempuan. Oleh sementara orang, pada zaman jahiliyah, perempuan selalu dianggap rendah, hanya objek pemuas birahi, bahkan bila perlu, bisa dikubur hidup-hidup.

Di sini perlu dirinci tentang fakta lain seputar perempuan di zaman jahiliyah. Terutama pandangan gebyah uyah yang kelewat menggeneralisir tindakan kriminil, juga bejat, pada masyarakat jahiliyah pada perempuan. Seolah semua anggota masyarakat kala itu larut dalam kebejatan, kekejaman, dan kebodohan.

Pandangan yang demikian, selain ahistoris juga dapat membawa perspektif yang sesat terhadap keluarga Rasullah SAW. Naudzibillah. Kita seringkali mendapati pertanyaan konyol seperti, apakah Ibu dan Ayah Nabi diterima oleh Allah SWT atau tidak? Dan disadari atau tidak, pertanyaan tersebut muncul dari generalisasi terhadap akhlak masyarakat sebelum kedatangan Nabi Muhammad, yang digambarkan semuanya bejat itu.

Padahal perlu kita ingat, bahwa Nabi Muhammad berasal dari keturunan Nabi Ibrahim, yang dalam catatan sejarawan, turun temurun memberikan generasi berintegritas dan taat.

Selain pemabuk, penjudi, dan enteng saja membunuh orang, masyarakat jahiliyah juga digambarkan sebagai kelompok masyarakat yang memandang rendah harkat seorang perempuan. Bahkan keluarga yang dikarunia anak perempuan tak perlu tangisan untuk langsung menguburkannya hidup-hidup.

Tulisan ini tidak akan membantah praktek kekejaman, perjudian, ataupun mengubur anak perempuan hidup-hidup. Benar bahwa sejarah mencatat praktek semacam itu ada. Tapi itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat, terutama dari suku dan kasta bawah. Adapun penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian kecil penduduk Mekah itu tidak bisa digeneralisir sebagai perilaku umum.

Pada ilustrasi yang lebih gampang, kita tidak bisa melihat Purwokerto dari Gang Sadar semata lalu membuat penilaian bahwa Purwokerto adalah kota pelacuran. Atau Jogja dengan Sarkemnya. Penilaian seperti itu, selain tidak presisi, juga memungkinkan timbul persepsi keliru sebagai disinggung tadi: soal apakah keluarga Nabi diterima Allah?

Sebagai bukti bahwa perempuan pada masa jahiliyah juga dapat memperoleh derajat tinggi adalah kisah tentang Salma binti ‘Amr dari Bani an-Najjar yang baru bersedia menikah dengan Hasyim, Ayah Abdul Muththalib (kakek Nabi), setelah syarat untuk menempatkan hak perceraian dalam wewenangnya sebagai istri dan saat melahirkan ia harus berada di tengah keluarganya di Madinah, dipenuhi.

Shafiyuddin al-Mubarkfuri, cendikiawan dari Universitas Salafiyah India, menulis dalam sirahnya bahwa: “Hubungan pria dan istrinya dalam kalangan jahiliyah cukup terhormat dan beradab. Wanita di kalangan mereka memiliki cukup kebebasan berpendapat dan wewenang. Mereka demikian terhormat sehingga bisa timbul perang/pertumpahan darah demi membela keluarga.”

Pendapat demikian juga senada dengan kisah Khaulah binti Tsa’labah, seorang perempuan yang diskusinya dengan Nabi Muhammad diabadikan dalam Alquran.

“ Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan wanita yang memajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar tanya jawab antara antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. Al-Mujadilah (58): 1].

Hind binti ‘Utbah, ibu Mu’awiyah dan istri dari Abu Sofyan, pernah mengecam suaminya karena sikap mlempemnya dalam menghadapi kaum muslimin ketika Nabi memasuki kota Mekkah dengan gemilang.

Atau pada kisah yang lebih epic, sahabat Nabi, Umar bin Khaththab, yang dikenal dengan ketegasannya itu, pernah mengeluhkan keberanian perempuan-perempuan Madinah pada suami mereka. Diriwayatkan juga tentang kisah seorang gadis yang mendatangi Rasulallah untuk melaporkan ayahnya yang akan mengawinkannya dengan pria yang tidak disukainya, lalu Rasulallah membenarkan sikap si gadis tersebut.

Demikian adalah secuil kisah lain tentang perempuan zaman jahiliyah yang tak semuanya dianggap rendah dan bisa dibunuh sesuka hati mau. Sepadan dengan kisah KDRT masa kini yang tidak bisa dijadikan sebagai: potret kehidupan modern tak ramah perempuan.

Baca tulisan-tulisan lain seputar Islam dan Sunnah Nabi Muhammad di esensiana:

  1. Ulama yang Diceramahi Anjing
  2. Pelajaran dari Guru Jalaluddin Rumi: Membeli Ciu dan Ajaran Tauhid
  3. Pantaskah Ulama Mazhab Dipertentangkan dengan Imam Hadist

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Perbedaan Islam
Islam Nabi, Islamku, Islammu, dan Islam Kita
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Terkuaknya Saracen
Terkuaknya Saracen dan Perintah Islam dalam Berhati-hati Menyikapi Berita
Kisah Rumi
Pelajaran dari Guru Jalaluddin Rumi: Membeli Ciu dan Ajaran Tauhid
Hadratusyeikh
Hadratusyeikh Bukan Gelar Pesanan