Feminisme, Agama, dan Kegalauanya

 

Sebelum membaca tulisan ini perlulah saya peringatkan bahwa alur tulisan ini memakai alur maju mundur, itu kalau tak mau disebut alur mobrak-mabrik. Jadi telatenlah

Perkembangan dunia modern dewasa ini telah menghasilkan generasi peranakan sapi yang meminggirkan agama dan nilai budaya lokal. Lha bagaimana tidak, sejak kecil bayi-bayi lucu kita sudah dicekoki susu sapi dan dididik layaknya sapi. Anak kecil, sebagaimana sapi, dibiarkan bebas dari tali agama. Hal ini merupakan ancaman nyata bagi keberlangsungan mentalitas manusia. Hari ini kita sadari betul bahwa agama hanya dipandang sebagai ritual semata. Maka tidak salah jika manusia mulai terseret pada pemikiran-pemikiran sapi yang tidak mengenal agama itu.

Manusia kini, dengan segala tuntutan hidupnya, memang kerap menginginkan fleksibilitas. Kebutuhan manusia akan fleksibilitas ternyata diterapkan pula secara serampangan dalam hal beragama. Seperti kaum feminis yang memprotes peranannnya dalam ranah publik dan berkeinginan merombak tatanan nilai keagamaan yang dirasa tidak mendukung tuntutan mereka. Meskipun secara de jure dan de facto mereka beragama. Dalih mereka satu, kesetaraan gender.

Kemunculan kaum feminis nyatanya cukup kuat untuk memberikan goncangan baik tatanan akademik maupun dunia politik. Hal ini terbukti dengan antusiasme para akademisi, juga para politikus untuk mengkaji ulang teori kesetaraan gender. Namun, dengan diketengahkannya kembali isu gender, pemahaman keliru tentang gender juga terus menggejala. Adanya kajian-kajian teori memang menjadi laboratorium bagi penyelesaian problem di masyarakat. Tetapi tidak sedikit pula yang terseret dalam kegagalan berpikir sehingga teori yang semestinya mencerahkan justru menjadi masalah baru.

Bak gayung bersambut, dunia politik juga turut latah memaknai isu gender. Betul adanya bahwa pemerintah itu mestilah netral alias tidak memaksakan keberpihakannya terhadap kepentingan aliansi tertentu. Alih-alih menempatkan wanita pada derajat yang agung, sistem di negara kita justru menempatkan wanita pada sub-ordinat yang secara halus menyindir. Lewat RUU KKG bab 3 pasal 4 ayat (2) wanita hanya memiliki besaran minimal 30% dalam keikutsertaannya di lembaga pemerintahan. Sekilas redaksi minimal tersebut membuat wanita terangkat derajatnya. Tetapi jika dicermati, batas minimal 30% menyiratkan wanita itu rendah daya saingnya, makanya dikit betul standarnya.

Feminisme dan Agama

Dalam kitab injil perjanjian lama atau taurat disebutkan bahwa hawa tercipta dari tulang rusuk adam yang termaktub dalam kejadian 2: 21-22 (penciptaan alam semesta). Inilah keyakinan fundamental kaum yahudi dan nasrani. Perlulah saya lampirkan ayat tersebut sebab beberapa waktu lalu saya menjumpai di sosmed kok banyak generasi muda muslim tidak menyadari ayat injil ini sehingga memperlakukannya selayaknya hadist Nabi.

Maka didatangkan tuhan allah atas adam tidur yang lelap, lalu tertidurlah ia. Maka diambil allah sebilah tulang rusuknya dan ditutupinya pula tempat itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkannya dari dalam adam itu, tuhan menciptakan seorang perempuan, lalu dibawanya kepada adam”. ( kejadian 2: 21-22 )

Nah…dalam islam sendiri bagaimana? benarkan wanita diciptakan dari tulang rusuk pria?

Disebutkan dalam Q.S. An-Nissa:1

“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu (adam) dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya ”

Jumhur mufassirin sepakat bahwa penciptaan hawa memang dari tulang rusuk adam. Namun ada pula yang menafsirkan kata “dari padanya” mengacu pada unsur serupa, yakni tanah, yang darinya pula Adam diciptakan. Lagipula hadits yang menyatakan wanita terbuat dari tulang rusuk pria tidak sampai mencapai predikat shahih, hanya hasan lighairihi.

Ada dua versi dalam penyampaian hadis penciptaan wanita, yang pertama menggunakan مِنْ ضِلَعٍ (dari tulang rusuk) yang diambil dari kitab hadis-hadis yang meriwayatkan tentang para nabi, bab penciptaan adam dan keturunannya (bukhari no.3084) dengan hadis penguat kitab menyusui, bab wasiat untuk memperhatikan wanita (muslim no 2670). Sedang versi yang kedua menggunakan كَالضِّلَعِ (seperti tulang rusuk) kitab nikah, bab bersikap lembut dengan wanita (bukhari no 4786) dikuatkan oleh hadis kitab menyusui, bab wasiat untuk memperhatikan wanita (muslim no 2669).

Lalu apakah betul semua wanita tercipta dari tulang rusuk pria pasangannya? Khusus hawa barangkali iya. sedang wanita setelahnya? omong kosong! Hal senada persis pada penciptaan Isya As yang tanpa peranan laki-laki. Itu kasuistik. Laki-laki setelahnya mestilah melalui proses reproduksi konvensional.

Kesetaraan gender sebenarnya bukanlah barang baru yang sama sekali bebas kepentingan. Ribuan tahun lalu Nabi Muhammad telah berhasil mewujudkannya sehingga outputnya perbudakan wanita terhapuskan. Yang dilakukan kaum feminis hari ini bolehlah kita sebut kebablasan dan cenderung reaksioner. Kaum feminis radikal justru mengusik pembagian hak dan tanggung jawab seksual serta reproduksi wanita dan laki-laki yang dianggap tidak adil. Karena perempuan sering dianggap sebagai alat pemuas laki-laki. Akhirnya tanpa rasa malu mereka berani mendeklarasikan bahwa wanita dapat hidup dan memenuhi kebutuhannya tanpa laki-laki.

Sungguhpun betul jika kaum feminis ini memperjuangkan wanita sebagai korban dari dominasi laki-laki dan perbudakan, dalam institusi keluarga misalnya, mereka mestilah tau batas. Sayangnya mereka mengekspresikan kemarahan dan kekecewaan dengan cara yang keluar batas. Ibarat berjalan memakai sendal di aspal saat terik, yang dilakukan ketika sendalnya putus bukanlah mengikatnya agar bisa dipakai kembali tapi justru dibuang dan resikonya kaki melepuh. Begitulah kaum feminis radikal bereaksi atas realitas. Terkesan over acting.

Saya kok jadi curiga, perempuan-perempuan yang mencak-mencak mengartikan kesetaraan gender sebagai kesamaan porsi dengan laki-laki itu belum tau rasanya mbenerin genting saat hujan petir melanda.

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga