Feminist Postmodernist

Apa itu Feminist Postmodernist dan relasinya dengan gender ketiga?

10/08/2017 185 0 0

Feminist Postmodernist dan relasinya dengan gender ketiga

Bukan rokok, itu pistol

Apakah ini bukan sesuatu hal yang paradox dan ambivalen jika mas-mas berkumis tipis, pula om om berjenggot lebat vokal menyuarakan isu gender? Umumnya gender kan jadi diskursus utama kelompok feminis. Sementara kita telah sama bersepakat bahwa perempuan dan lelaki terlalu berbeda. Perempuan mengutamakan perasaan atas otoritas ketubuhannya dalam menopang kehidupannya dan lelaki mengandalkan rasio akal dalam bertindak. Begitu kan?

Konon hari ini kita telah sampai pada gelombang feminis yang ketiga atau post feminism. Dunia pun sudah memasuki era baru, di mana generasi Z tengah bersiap memasuki dan mengokupasi dunia menggantikan generasi sebelumnya, si X, si millenial dan Baby Boomers.

Era, generasi dan zaman sudah berganti, tapi kenapa dunia tetap patriarcal dan tiap jengkalnya menjadi sarang dominasi laki-laki.

Apakah laki-laki tidak mengerti, dan oleh karenanya, perlu juga belajar gender? Apakah hal demikian bukan malah jadi ajang pengukuhan dominasi laki-laki? Yang bisa dengan arogansi berbicara soal gender dan perempuan, seolah mereka mampu menghegemoni bahkan sampai ranah teori “kebesaran” wanita.

Berbicara soal gender sangatlah luas, rumit bahkan sophisticated. Gender itu ada di setiap deru kehidupan kita, tidak hanya soal selangkangan dan ranjang. Gender ada dalam dinamika relasi hawa, adam dan wadam. Mulai dari cara mereka kencing sampai menjadi bread maker.

Untuk itu, tidak hanya perempuan yang perlu belajar gender, laki-laki pun wajib untuk belajar narasi yang satu ini. Gender bisa membantu meringankan kita memandang dunia, soal  bagaimana dunia bekerja, bagaimana gender dipergunakan untuk menggulirkan dan melanggengkan pakem serta ekonomi.

Belajar gender hari ini tidak hanya berpaku pada konstruksi gender secara umum. Soal apa yang harus dikerjakan laki-laki dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan. Belajar gender hari ini juga tidak hanya soal konsep perempuan dan laki-laki tradisional dengan tugas pokoknya.

Gender tidak melulu soal bagaimana cara mengadvokasi perempuan dari perbedaan upah berbanding dengan jam kerja, bukan hanya soal bagaimana perempuan harus turut serta dan diikutsertakan dalam perumusan kebijakan publik. Itu sudah kuno, sudah recehan.

Gender mengajarkan kita bahwa dunia ini tidak sesempit hitam dan putih. Melainkan ada sesuatu di luar sana yang seharusnya tidak boleh luput dari pandangan.

Beberapa tahun kebelakang tenar yang namanya Feminist Postmodernist yang tidak hanya menyasar seksisme laki-laki dan perempuan saja akan tetapi lebih melebar dan menyinggung soal SARA, moralitas, kelas,  budaya, etika, dan “Gender ketiga”.

Gender ketiga tidak melulu perihal seksisme terhadap peran laki-laki dan perempuan dalam dunia materi, tapi gender ketiga inilah yang membahas perihal apa yang berada diantara perempuan dan laki-laki. Dalam ilmu Soshum dan kaitannya dengan gender ketiga ini diikuti dengan munculnya LGBTI dan Queer teori.

Sebenarnya apa yang diomongkan oleh gender ini? Sederhana saja, gender berbicara bahwa setiap manusia apapun latar belakang budayanya, apapun jenis kelaminnya, apapun orientasi seksualnya, apapun kelas sosialnya, ia berhak memiliki ranah privat yang orang lain tidak boleh tahu. Ia berhak memiliki pengalaman yang ia kehendaki dan ia anggap berharga. Ia berhak memiliki otoritas atas tubuh dan dirinya sendiri. Tidak boleh ada stereotype, tidak boleh ada eksploitasi, tidak boleh ada justifikasi dan tidak boleh ada persekusi.

Belajar gender adalah soal ketidakadilan dan ketidakadilan tidak memandang jenis kelamin. Banyak laki-laki yang dirugikan dari dunia yang patriarcal, karena kelas mereka yang medioker, bahkan lumpen dan proletariat.

Belajar gender bertujuan sangat sederhana untuk memupuk dan memelihara kemanusiaan kita. Dan semua itu bisa dimulai dengan hal yang paling sederhana. Setidaknya belajar gender bisa dimulai dengan bagaimana kita berkomunikasi dan membangun relasi yang lebih sehat dan tidak cenderung mengarah abusive relationship.

Catat, tidak semua laki-laki misoginis dan tidak sedikit perempuan yang misoginis.

 

Comments

comments

Tags: feminisme, gender, gender ketiga, postmodern feminism Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.