FKUB dan Konflik Antar Agama yang Mengatasnamakan Tunggal Ika

FKUB dan Konflik Antar Agama. Ibarat negeri yang dipancang di tanah para dewa, berpondasi Allah, bersemen budaya gospel, berpagar mitos. Indonesia. Inilah negeri terkaya akan kebudayaan yang membangun setiap detail bangunannya menjadi satu kesatuan bernama nusantara. Betul adanya negeri ini berdiri di atas sekian banyak perbedaan etnis, ras, agama. Maka tak payah jika pelajar sekolah tak katam menghapal semua budaya negeri ini.

Para pendiri nusantara telah menggadang-gadang sebuah bangsa yang besar. Sadar akan cita-cita tersebut sadar pula akan perbedaan. Manusia dan perbedaan memang kawan karib yang mustahil dipisahkan. Di atas perbedaan itu pulalah sebuah kerajaan besar, majapahit pernah berdiri di bumi nusantara. Kerajaan yang memiliki jampi-jampi ajaib “bhineka tunggal ika”. Mantra inilah yang menjadi pondasi kerajaan tersebut hingga mencapai wilayah kekuasaan hingga ke semenanjung malaya.  Mantra ini pulalah yang menjadikan perbedaan itu layaknya sapu lidi. Tanpa tali pengikatnya kumpulan lidi akan beralih fungsi bukan lagi sebagai sapu tetapi hanya seonggok sampah.

Bak bahtera rumah tangga pasti akan ada masa dimana ada badai menyeruduk, petir mengamuk. Goncangan bagi Indonesia bukanlah sebuah drama baru tetapi sudah terjadi sejak bangsa ini masih seumur jagung bau kencur. Dan nyatanya angka 71 belum mampu menjadikan indonesia menjadi negara tentram damai.

Egoisme kelompok yang masih mendominasi kerap kali menyulut emosi hingga datang ambisi berpisah dari koloni. Dunia menyadari indonesia rawan akan gesekan sosial. Hal ini dimanfaatkan pihak lain untuk mengadu domba kemudian menunggangi polemik yang terjadi sehingga makin memberatkan penyelesaian masalah.

Hari ini bisa kita saksikan sendiri, bagaimana Bhineka Tunggal Ika bisa dijadikan senjata untuk menyerang kelompok lain. Dengan dalil demi Bhineka Tunggal Ika masing-masing kelompok menuntut lawanya dipenjara. Argumennya agar Indonesia damai dan sejahtera.

Dari istilah devide et impera sampai proxy war, kesemuanya itu dalam rangka memecah persatuan NKRI. Apalagi di tengah polemik yang akir-akhir ini terjadi, masyakat Islam lagi seneng jalan-jalan ke Jakarta. Saya sebenernya rada nano-nano waktu ada pemberitaan paduka Rizieq Shihab. Kalo saya memposisikan diri sebage nonis, nona manis, saya mesti bertanya2 apa ya yang akan dilakukan umat muslim dengan kasus yang menimpa belio (compare Ahok) ??

Dengan segala permasalahan yang terjadi saya ingin tahu Forum Kerukunan Umat Beragama atau karib kita sebut FKUB dimana ya, apa sudah ganti domisili?

Sepertinya peran FKUB memang masih jauh dari kata sempurna. Banyaknya gesekan antar umat beragama menjadi salah satu sinyal kurang efektifnya kinerja FKUB menangani permasalahan. Kinerja FKUB belum menyentuh masyarakat secara luas, paling banter dengan tokoh agama dan akademisi. Jika Jokowi melakukan safari politik maka FKUB perlu melakukan blusukan ke masyarakat.

Menjemput masalah dengan mendatangi daerah-daerah rawan konflik menjadi salah satu langkah pencerahan bagi masyarakat. Lebih dari pada itu masyarakat dituntut teliti untuk mentakhrij segala isu-isu dan problem yang terjadi sebagai wujud  kewaspadaan terhadap pihak-pihak yang mencoba intervensi permasalahan bangsa.

Perbedaan memang menjadi alasan logis pemicu perdebatan tetapi bukan alasan perpecahan. Jas merah. Sebuah kritik sejarah untuk membangunkan rakyat tentang bagaimana bau amis darah memicu adrenalin si buntung menancapkan bambu runcing tepat di jantung si parasit duit.

Sumpah pemuda merupakan ijtihad dengan elemen pemikiran visioner menjadi mahar penyatuan nusantara. Melalui ikrar ini pula seluruh rakyat berjuang bersama menekan egoisme kelompok, bersatu padu menggelorakan perjuangan. Ribuan bahkan mungkin jutaan nyawa melayang mengejar upah mahal berupa kebebasan. Sumpah ini tidak dimiliki uni soviet maka tak salah negeri itu hanya tinggal sejarah.

Dan akan sangat rancu jika kelak rakyat Indonesia menceritakan kepada anak cucunya “dahulu ada negara besar bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Comments(2)

  1. 21/02/2017
  2. Kangtoer
    01/03/2017

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga