Sedikit Usul pada Pak Menteri Tentang Potret Pendidikan Kita

Full day school

Sekolah adalah tempat yang tepat untuk membiasakan overtime. Lembur di industri kapitalis gitu.

Begini, menurut saya enaknya sekolah itu ya pas masih TK,  mentok-mentoknya sampai kelas lima SD lah. Naik kelas enam dan seterusnya sekolah mulai mengerikan karena harus ada ulangan hingga Ujian Nasional yang horornya minta ampun itu.

Saya masih inget pertama kali ikut Ujian Nasional (UN), megang pensil saja sampai gemetaran. Tapi alhamdulilah, berkat rahmat Tuhan yang maha kuasa, saya bisa melewati ujian dan berhasil  lulus dengan nilai memuaskan. Secara, saya memang agak cerdas sih.

Masuk jenjang selanjutnya yaitu masa SMP, keadaan tak lebih baik. Malah tambah mengerikan saja. Saat ulangan mendadak misalnya, itu rasanya persis kalau ketemu gebetan di depan kantin. Dredeg ora karuan. Belum lagi kalau yang ngajar killer, duh lihat guru sudah kaya lihat hantu. Seisi kelas mendadak sepi nyenyet seperti makam angker di malam jum’at. Tapi syukurnya, masa itu terlewati juga. Dengan nilai memuaskan lagi.

Saat kemudian menginjak masa putih abu –abu. Saya pun tau bahwa kisah sekolah ternyata tak seindah FTV di SCTV yang satu untuk semua itu. Dimana isinya soal kisah cinta dan sayang-sayangan. Saya justru melihat teman saya banyak yang tertekan dengan metode pendidikannya.

Sekolah juga dengan enteng mengklasifikasi anak bodoh atau pintar hanya karena tidak menguasai satau bidang pelajaran, misal matematika. Melihat ketidakadilan, bersama kawan seperjuangan mulai melakukan gerakan intifadah kecil-kecilan.

Salah satu bentuk perlawanan kami adalah melalui tulisan dan puisi yang kami upload lewat harian Facebook. Tentu saja kami terinspirasi dari Wiji Thukul yang juga melawan dengan puisi. Untuk menghindari pencidukan, maka kalimat dan deret bait dari karya kami dibuat dengan gaya satir, humor, dan sesekali sarkas.

Kami juga gencar melakukan agitasi dan proganda, terutama saat pelajaran ilmu sosial semisal Pendidikan Kewarganegaraan. Diskusi juga kami galakkan di pojokan kantin dan warteg sembari makan iwak asin dan teh manis hasil hutangan. Saat itu, yang ada dalam pikiran kami adalah pokoknya berjuang. Soal berhasil apa tidak urusan belakangan.

Namun gerakan intifadah harus berakhir, karena sistem sekolah telah memisahkan kami. Saat naik kelas, asrama kami dipisah. Kehilangan kawan satu komplotan tentu menganggu aktivitas gerakan. Padahal saat itu ghirah aktivisme saya sedang membuncah mengubun-ubun. Ingin rasanya saya motoran keliling sekolah seperti Che Guevara di Amerika latin sana. Tapi ya bagaimana lagi, motornya enggak ada.

Beberapa tahun setelah saya lulus, kemudian kuliah, wajah pendidikan masih menunjukan raut yang sama. Padahal setiap ganti mentri ganti pula kurikulumnya. Tapi hasilnya, orang sekolah jangankan bikin pintar, bodohnya saja belum. Sekolah juga tidak membuat orang suka baca buku apalagi ilmu pengetahuan.

Wajah pendidikan hari ini,  sering menimbulkan polemik yang tidak berkesudahan. Yang terkiwari : Full Day School.

Maka sebagai mantan pengamat pendidikan, juga pimpinan pembrontakan, yang bahkan kariernya sudah dimulai sejak SMA, kalau saya boleh usul,  sekolah itu hambok dibikin yang menyenangkan. Dimana peserta didik bisa menjadikan sekolah seperti taman  bermain dan belajar untuk menggali potensi diri. Dulu, Ki Hajar Dewantara pernah membuat sekolah, namanya, Taman Siswa. Dari namanya saja sudah terbayang bahwa itu sekolah adalah sebuah tempat menyenangkan, taman sih.

Jadi, buatlah sekolah itu menjadi tempat senyaman mungkin. Soal caranya seperti apa, biarkan Pak Mentri yang mikir. Dia kan pintar, juga dibayar untuk itu. Karena yang ada selama ini,  sistem pendidikan membuat sekolah menjadi angker layaknya kuburan jaman Belanda. Maka jangan heran kalau di sekolah sering terjadi kesurupan. Bagi saya itu bukan karena sekolahnya yang angker tapi sistemnya yang bikin siswa dan setan yang menggoda siswa sama-sama tertekan. Akhirnya karena gak kuat, hantunya merasuk ke dalam tubuh siswa untuk konsolidasi melakukan perlawanan. Siapa tau kan?

Kalau sistemnya menyenangkan, jangankan sistem Full Day School (FDS), sekolah mau dibuat kaya kontrakan atau kos- kosan sekalipun siswa dan orang tua tidak ada yang protes. Mata pelajaran ditambah juga tidak masalah, misal belajar terbang, belajar sabar, dan belajar pura-pura bahagia, dan seterusnya. Bila sistemnya seperti ini, saya yakin nanti orang bawaannya pingin ke sekolah terus.

Jadi begitu Pak Mentri saran dari saya. Atas dibacanya tulisan ini saya ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Mohon maaf apabila ada kekurangan. Billahitaufiq wal hidayah, wassalamualaikum warrahamutullahi wabarakatuh.

Oh ya, bila kepingin diskusi dan sharing bisa pakai Wasap ya pak. Chat aja jangan sungkan, saya bukan pengurus PBNU kok.

 

Penulis: Tubagus Sendi Dipantara.  Sekum HMI Ibnu Sina, lelaki baik kesayangan mama.

Comments(3)

  1. 21/08/2017
    • 24/08/2017
  2. 21/08/2017

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah