Gaya-gayaan di Kampus Islami UMP

Tadi saya melihat sesuatu yang baru di kantin UMP. Bukan soal konsep atau menu kantin yang berubah, melainkan papan nama kantin yang baru. Setelah diperhatikan lebih jauh ada yang menarik dari papan nama tersebut. Pasalnya kantin UMP ditulis menyatu dengan banner merk yang sudah dikenal sebagai brand produk Beer kenamaan, Greensands.

Sebenarnya sih papan nama itu sudah nempel lama katanya. Tapi berhubung saya jarang ke kantin jadi saya baru melihatnya. Maklum untuk mahasiswa pas-pasan macam saya, ke kantin kampus adalah hal yang tabuh. Kantin yang kena pajak pertambahan nilai selangit itu membuat kopi bukan bikin melek tapi malah bikin bokek.

Melihat greensands nampang dan dijual di kantin mungkin bagi yang tidak mengikuti sepak terjang UMP dalam memberangus kebatilan akan merasa biasa saja. Yah, menyandingkan nama kantin, sebagaimana warung, dengan merk produk minuman berkarbonasi memang harusnya biasa aja. Nothing special.Tetapi jika mengingat UMP adalah kampus Islami yang menjaga betul statuta halal-haram suatu produk tentu menjadi kontraproduktif. Situ boleh mengatakan greensands itu zero alkohol, tetapi siapa yang meyakini kehalalan produk yang pernah ditolak sertifikasi halalnya oleh MUI? Betul, MUI menolak pengajuan sertifikasi halal greensands.

Pro-kontra tentang boleh tidaknya umat muslim meneguk greensand nyatanya sudah masyhur di dunia maya. Sebagian berpendapat bahwa greensand itu halal, sebab dalam kemasannya jelas tertulis minuman berkarbonasi 0% alkohol. Tak lupa, mereka yang pro juga menukil sebuah hadist untuk memperkuat argumennya.

“Tiap-tiap yang memabukkan itu khamr, dan setiap khamr itu haram” (Shahih Bukhari), sedang, masih menurut mereka, minum greensand itu tidak memabukkan, paling banter ya kembung lah kalo kebanyakan. Sehingga keharaman greensand menjadi tidak masuk akal. Begitulah cara logika mereka bekerja.

Sementara pihak lain menyatakan bahwa greensand tetap saja harus dihindari lantaran diragukan kehalalannya. Argumentasi yang disodorkan; bisa jadi detector alkohol yang dimiliki BPPOM kita memiliki limit yang kurang detail sehingga tidak mampu membaca kadar alkohol dibawah 1%. Tetapi alasan terkuatnya adalah karena merk itu tak bisa mencantumkan label halal yang bahkan sudah harus tertera di kerudung agar tak ketinggalan trand syar’i masa kini. Lagian greensands kan dilahirkan dari rahim yang sama dengan produk beralkohol seperti Bir Bintang, Heineken dan yang lain. Jadi sangat dekat dengan produk haram!

Saya sendiri tak ambil pusing dengan debat halal haramnya greensands. Kenyataan bahwa greensands awalnya adalah produk shandy beralkohol rendah itu betul. Tetapi karena tak diminati konsumen, Greensands kemudian bermetamorfosa menjadi minuman berkarbonasi saja. Tapi apa lacur, status sebagai minuman beralkohol sudah disematkan. Dan tidak mungkin bisa dicabut begitu saja. Maka sekalipun greensands mengganti isi kemasannya dengan dawet pun akan tetap dianggap jual beer.

Birokrat yang melunak

Saya tidak mengikuti rapat senat ataupun rapat pimpinan untuk meloloskan mantan merk beer menjadi sponsor banner kantin. Oleh karena itu tulisan ini hanya bersifat dugaan mentah semata. No offense. Munculnya mantan brand beer di kampus islami tentu menuai banyak reaksi—jujur walau itu muncul dari sedikit orang yang teliti—dari civitas akademika kampus, terutama mahasiswa. Tapi terlepas dari pro kontra itu sepertinya birokrat telah melunak pada hal-hal semacam itu. Sebelumnya UMP begitu ketat mengatur donatur yang hendak bekerja sama dengan kegiatan kemahasiswaan. Untuk merk rokok misalnya, ia dilarang keras untuk masuk kampus.

Jangankan rokok yang memang haram. Hawong bendera organisasi yang sudah resmi diakui negara saja kadang dilarang berkibar di dalam kampus. Itu semua, setau saya, karena kampus memang sangat berhati-hati ketika memutuskan hal-hal yang sensitif apalagi syubhat.

Jujur saya tidak percaya kalo kampus yang memiliki ratusan karyawan ini tidak memiliki mekanisme pengawasan memadai sehingga kecolongan dengan management kantin.

Atau bisa juga standard ketat kampus akan sponsor kalah dengan itikad kampus untuk memfasilitasi kebutuhan mahasiswanya? Mungkin saja kan, kampus hendak mengijabah keinginan mahasiswanya yang juga butuh ruang eksistensi. Ah tidak bisa dibayangkan, betapa maskulinnya saya saat membaca salah satu karya maha agung Tereliye, Hujan,  di kantin berkonsep modern-art sambil sesekali menyeruput greensands bukan?

Sssssrrrrrpppttttt aahhhhh……!!

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga