Geger RSI dan Kedewasaan Organisasi

RSIJujur saya tersenyum geli ketika membuka beranda facebook kemarin. Saya ditandai oleh kawan saya, Bayu Prayoga, di sebuah postingannya. Dalam statusnya, kawan saya itu membagi artikel tentang

ontran-ontran rumah sakit islam yang dewasa ini sedang menjadi rebutan. Ho’o itu adalah RSI Banyumas. Sebuah rumah sakit Islam di pinggiran barat Kota Satria. Sebenarnya sejak membaca langsung pengen komentar tapi karena satu dua hal saya baru sempat menulisnya sekarang. heuheu.

Pada artikel itu, diberitakan lewat banom-banomnya, antara NU dan Muhammadiyah sama-sama kekeh dengan keinginannya. Versi Muhammadiyah, NU menylewengkan fakta sejarah. Bahwa memang dari sononya RSI adalah, sebagaimana PKU, milik Muhammadiyah. Sedangkan pandangan berbeda datang dari kaum NU. Menurut Nahdhiyin, Muhammadiyahlah yang mencaplok kepemilikan RSI. Kenyataanya, menurut Nahdhiyin, RSI adalah milik masyarakat Banyumas dan tidak bisa diklaim oleh  suatu organisasi apapun.

Yang membuat saya geli adalah klaim bahwa kedua organisasi, NU dan Muhammadiyah, sama-sama mengaku sedang memperjuangkan kepentingan umat.  Lha ini kalau dasarnya umat kenapa pada ribut. Wong umat juga tidak meributkan itu kok. Kecuali kalau RSI mau ditutup dan umat menolak, lalu mereka memperjuangkan lah…

Baca: Bangsa yang belum selesai dengan dirinya

Organisasi idealnya mengembalikan segala keputusan pada tujuan pendiriannya. Jika tujuannya adalah kemaslahatan umat, maka itu harus dipegang teguh. Meski, pada prakteknya, memperjuangkan umat lebih banyak dukanya dariada sukanya. Tapi namanya juga berjuang yang memang begitu.

Tampaknya, selain keikhlasan, berjuang juga butuh kedewasaan. Sepeninggal para pendirinya friksi antara Muhammadiyah dan NU makin menguat saja. Di teras nasional kita bisa melihat perbedaan penentuan awal puasa sebagai tandanya. Belum kalau kita mencoba menkonfrontir persoalan amaliyah. Makin ruwetlah urusan. Lagi-lagi kesemua itu adalah demi umat.

Pada titik ini, barangkali teori Eric Erikson yang menyatakan bahwa di setiap tahapan kedewasaan menawarkan potensi kemajuan sekaligus potensi kemunduran, menjadi relevan. Kerap kali usia yang terus melaju tak berjalan paralel dengan kedewasaan. Kenyataannya setelah hampir satu abad berdampingan, Muhammadiyah dan NU kerap mengalami benturan. Dan pada setiap benturan, baik pemikiran maupun kepemilikan, kita sama-sama berharap semoga berakhir dengan sikap dewasa. Semoga…

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga