Berbahayakah Perempuan yang Belajar Gender?

gender adalah

Laki laki atau perempuan semua sama. Yang membedakan kan cuma ketakwaannya aja.

Gender bagi saya adalah suatu wacana yang sangat menarik, karena di kehidupan sehari-hari banyak hal yang berkaitan dengan gender. Setelah tertarik dengan wacana tersebut, mulai rajinlah saya memburu buku, artikel, atau literatur lain yang berbau gender. Sampai kemudian saya mulai berfikir bahwa keadilan sesungguhnya bukan miliki salah satu jenis kelamin, melainkan semua jenis kelamin tanpa kecuali.

Begini, saya pernah mendengar cerita tentang kehidupan di dalam sebuah transportasi umum yang jadi favorit kaum pekerja Ibu kota. Karena tarifnya murah meriah tentu saja. Moda transportasi yang saya maksud adalah KRL. Walaupun saya belum pernah naik KRL, tetapi dari kisah-kisah yang diceritakan teman juga saudara-saudara saya tentang KRL, saya menemukan ironi.

Bagi saya KRL merupakan potret dari ketidakpahaman banyak orang tentang gender dan kelindan relasi laki-laki perempuan.

Ada cerita dari seorang teman bahwa banyak orang di KRL yang tidak bijak. Cerita punya cerita, banyak perempuan di KRL, yang naik gerbong campuran, menggunakan legitimasi “jenis kelamin” agar dapat tempat duduk. Mereka merasa perempuan, maka mereka berhak duduk. Begitu kira-kira anggapan yang ada di sebagian penumpang perempuan.

Menggunakan “jenis kelamin” untuk mendapatkan sesuatu bagi saya bukanlah hal yang bijak. Tak cukup welaskah ketika ada seorang laki-laki dengan wajah lesu kelelahan ingin duduk tapi harus mengalah karena jenis kelaminya? Tersisih oleh para perempuan yang menggunakan legitimasi “jenis kelamin” untuk mendapatkan tempat duduk.

Begitu juga dengan perempuan yang letih bekerja dan harus naik KRL, butuh kesadaran dan pikiran yang bijak dari para lelaki yang masih kuat berdiri untuk mempersilakan perempuan duduk. Atau penumpang perempuan lain yang masih merasa kuat lahir batin berdiri di KRL untuk mempersilakan perempuan yang lelah, letih dan lesu itu untuk mengambil tempat duduknya. Itu! Tanpa tendensi kelamin.

Kemudian, ketika gerbong wanita diisi penuh oleh orang-orang hamil, dan terpaksa perempuan hamil masuk ke gerbong campuran, butuh kesadaran dari mereka yang tak sedang kepayahan untuk mempersilakan duduk. Bukan karena dia perempuan, tapi karena dia sedang mengandung.

Dari kisah-kisah ini, perlulah kita membuka wawasan untuk tidak lagi menggunakan jenis kelamin dalam memperlakukan orang. Tetapi gunakanlah sisi kemanusiaan kita dalam memandang hal-hal sebagaimana diceritakan kawan saya itu.

Mempelajari gender bagi saya tidak cukup hanya sekedar dipelajari saja lewat buku-buku, artikel, jurnal dan lain-lain, tetapi harus juga diterapkan. Meskipun pernah saya tersentil dengan pernyataan kalau perempuan yang belajar gender itu akan menjadi berbahaya.

Bagi saya, belajar gender adalah suatu usaha mendidik diri saya sendiri untuk bisa memanusiakan manusia lainnya. Perempuan belajar gender bukan agar dihargai sebagai perempuan, tetapi agar bisa berlaku adil, baik pada laki-laki maupun perempuan. banyak orang yang mengira bahwa, istilah gender identik dengan perempuan. padahal, pendapat tersebut tidak benar.

Gender merupakan strategi global yang berupaya untuk meningkatkan kepedulian akan aspirasi, kepentingan dan peranaan perempuan dan laki-laki tanpa mengesampingkan harkat, kodrat, dan martabat perempuan dan laki-laki dalam segala bidang. Begitu urai Om Nugroho pada 2008 silam.

Contohnya, ketika kakak laki-laki saya pulang dari luar kota setelah kepayahan bekerja, wajahnya nampak lesu dan lelah, maka saya akan membuatkannya secangkir teh kesukaannya dan menyiapkan air hangat untuknya. Saya lakukan itu bukan karena saya perempuan yang tugasnya mengurusi laki-laki. Saya lakukan itu karena tau dia sangat lelah setelah bekerja dan saya masih memiliki energi lebih untuk membuatkannya teh dan menyiapkan mandi air hangatnya. Toh, ketika saya ingin bepergian sendirian, dengan penuh kesadaran, kakak saya bersedia mengantarkan saya, entah diminta ataupun tidak.

Saya juga kadang terusik dengan cerita para cewek yang menganggap kalau pacar mereka harus stand by menjemput dan mengantar mereka kesana kemari. Bagi saya, bangga dengan hal itu justru menunjukkan sisi kelemahan diri sendiri. Diantar-jemput setiap akan pergi ke mana pun, bagi saya menggambarkan betapa tidak mandirinya kita sebagai perempuan.

Kalau alasannya karena tidak memiliki kendaraan sendiri, di zaman yang sudah semakin maju seperti sekarang, banyak kok angkot, ojek konvensional, ojek online, KRL, bus dan lain-lain yang bisa kita gunakan untuk bepergian. Jangan jadikan alasan tidak memiliki kendaraan pribadi sebagai legitimasi memperbudak mereka para cowok. Lalu, bila ingin bepergian malam hari dan khawatir rawan kejahatan ketika naik kendaraan umum, para cowo mestinya sadar untuk membantu para cewe yang tidak memiliki kendaraan pribadi ini.

Berbagai kenyataan yang lalu lalang dalam hidup ini, sedikit demi sedikit membuka mata saya untuk berlaku adil pada kedua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. beban laki-laki bagi saya tidak pernah terlihat mudah ketika budaya patriarki dipatenkan di negeri ini, dimana mereka harus bekerja mencari nafkah agar disebut “laki-laki”.

Kemudian hal yang tidak mudah pula bagi perempuan ketika keadaan ekonomi keluarga sedang tidak baik tapi dilarang bekerja untuk membantu ekonomi keluarga karena budaya patriarki mengharuskan wanita di rumah saja. Akibatnya, banyak suami istri kemudian berpisah, dan anak kehilangan kasih sayang dari salah satunya. Atau, ketika perempuan telah mampu bekerja dan laki-laki tak memiliki pendapatan yang lebih banyak dari perempuan, banyak perempuan yang merasa telah mampu menghidupi diri sendiri kemudian berpisah.

Dan tulisan ini bukan untuk membela salah satu jenis kelamin. Ini hanya sebagai upaya penyadaran agar sebagai perempuan maupun laki-laki, dapat berlaku adil tanpa memandang jenis kelamin. Sebagai ikhtiar memanusiakan manusia.

Penulis: Rizky Amalia [co Founder Rumah Gender]

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga