Generasi milenial: sosok anti-produktif akhir zaman?

Generasi Melenial

Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Bray, café itu wifinya kenceng lho, tempatnya oke dan pokoknya instagramable lah”. Itu adalah ungkapan lazim kalangan remaja masa kini. Cafe, wifi, instagram, shopping, travelling, dan kata sepersusuannya adalah kamus khas generasi milenial, nama lain dari remaja itu.

Apa sih generasi milenial itu? Oke, disini saya tidak membuka kuliah umum, hanya sharing opini saja. Generasi millenial adalah istilah yang identik dengan anak muda masa kini, generasi kekinian. Itu lho yang kalau di sosmed ketawanya pakai “wkwkwk”. Tau kan?, nahitu.

Berdasarkan kitab negara kertagama karangan empu Ahmad Faisal yang tidak pernah saya baca, generasi milenial merujuk pada generasi yang lahir di era 80-an sampai 90-an. Istilah lain untuk generasi ini adalah generasi Y, detailnya kamu googling sendirilah. Dan menariknya, kenapa namanya millenial?

Oh mungkin terinspirasi dari dari Panji manusia millenium, sinetron layar kaca yang beken pada era 2000an. Sehingga anak-anak yang gemar nonton sinentron itu disebut generasi millennial. Coba kalau anak-anak tempo dulu nontonnya Awkarin, mungkin namanya generasi awkward. Oke, ini teori utak-atik gathuk. Lupakan.

Terlepas kenapa namanya millenial, tapi istilah ini asosiasinya kekinian, kece, keren, dan doyan jualan ember, upss . Tapi kece dan keren itu kata kita, yang millennial. Bagi masyarakat, khususnya gen X, generasi milenial dianggap gerombolan remaja yang tidak produktif akhir zaman!.

Ya wajar aja sih wong kebanyakan kerjaannya nongki-nongki di cafe, wifi-an, selfa-selfi, main snapgram sambil yang-yangan di pojokan. Bahkan keren tidaknya seseorang, bagi millennial, ditentukan dari jumlah follower twitter dan Instagram. Kalau followernya lebih banyak daripada followingnya, keren sekali.
Pertanyaanya, buat apasih cari follower? Mau jadi nabi?.

Sebagai anak muda, tantangan dari tahun ke tahun sebenarnya masih sama, yaitu produktivitas. Memang, usia remaja adalah masa mencari jati diri, saya pikir semua sepakat dan tahu soal itu. Tapi proses pencarian itu hendaknya tetap produktif, syukur-syukur kreatif. Ya minimal kaya Defrian lah, muda, tamvan, sholeh dan jago bela diri.

perkembangan teknologi makin hari semakin menjadi, tapi sialnya tidak diimbangi persiapan. Alhasil, alih-alih produktif fungsi teknologi hanya sebatas euforia belaka. Bahkan, adanya koneksi internet justru mencerabut interaksi sosial di dunia nyata. Generasi millenial lebih senang berinteraksi di dunia Lunamaya.

Sebenarnya mengebyah-uyah generasi millenial tidak produktif, itu keliru juga. Karena helm anti kecelakaan, aplikasi Al-Quran, situs e-commerce serta berbagai start-up pada faktanya digarap oleh generasi millennial. Munculnya kedai atau cafe dengan konsep unik, dimana pengunjung tidak hanya sekadar makan tapi bisa juga diskusi, baca buku, dan tentu saja selfi pada faktanya adalah karya generasi millenial.

Itu hanya segelintir contoh betapa hebatnya generasi millenial, jika produktif tentu saja.

Peradaban itu seumpama arus sungai yang deras. Hanya orang punya persiapan yang bisa bertahan dan mendapat mamfaat, tapi bagi yang kurang persiapan tentu saja ikut hanyut terbawa arus. Generasi millennial yang produktif berkarya adalah contoh generasi yang siap mengahdapi laju peredaban, sementara yang kebanyakan nongki-nongki adalah tipe yang tidak siap. Alhasil mudah terbawa arus tanpa karya apapun.

Jadi gaes, mengapa masih saja dengan mengidentikan generasi millenial dengan generasi selfie, generasi follower, generasi nyinyir dan generasi kontra produktif lain? Ayolah gaes, sudahi semua ini. Yuk gabung pada generasi milenial, yakni generasi gila produktif yang membawa manfaat bagi manusia di dunia, syukur –syukur di akhirat juga. Biar varokah hidupmu, gaess. []

Oleh: Ahmad Agus Faisal [Lelaki ringkas fikir, kaya logika. Bisa disapa di ig: @aafaisaldr,twitter: @faisalahmaddr]

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga