“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif

guru merdeka belajar

suasana pertemuan komunitas guru merdeka belajar

Mengajar dan belajar adalah sebuah paket yang tidak bisa ditawar-tawar

Agaknya cara pandang demikian yang coba dilakukan oleh sekelompok guru dari berbagai sekolah dan komunitas di Banyumas. Minggu (22/10/17), mereka menggelar sebuah pertemuan yang dinamai dengan Mudik. Merupakan akronim dari istilah temu pendidik.

Kegiatan temu pendidik, merupakan ajang bagi para guru untuk saling berbagi ilmu, tips, dan informasi terkait dunia pendidikan dan anak-anak. Di wadah bernama mudiklah mereka para guru yang terbiasa mengajar baik di kelas maupun forum lain menempatkan diri sebagai orang yang belajar dalam arti sebenarnya: duduk dan mendengar, melihat dan mencatat. Semua itu dilakukan dengan seksama oleh orang yang sehari-hari—di ruang kelas—didengar dan dicatat materinya.

Perihal definisi guru, mereka yang tergabung dalam Komunitas Guru Merdeka Belajar ini memiliki definisinya sendiri. Adalah Pak Daru Kuswanto, seorang guru di SMKN 2 Purwokerto yang meredefenisi arti kata guru tersebut. Baginya guru adalah siapa saja orang yang mau berbagi. Baik ilmu, pengetahuan, maupun keterampilan. Sama sekali tidak terbatas pada sekat profesi dan formalitas. Lebih dari itu, belajar, bagi mereka, adalah proses peningkatan kapasitas yang bisa dilakukan dengan siapa saja, di mana saja, serta kapan saja.

Mereka meyakini bahwa tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga harus terus belajar. Disitulah Komunitas Guru Merdeka Belajar memainkan peran pentingnya.

Pada pertemuan yang digelar di TBM Pustaka Warga kemarin, puluhan anggota komunitas dan guru duduk bersama untuk saling mendengar dan menginspirasi. Mereka bercerita tentang aktivitas dan gagasan masing-masing. Tentang hambatan dan dorongan yang silih berganti menemani perjuangan dalam mendidik maupun mengorganisir komunitas. Dalam forum tersebut berbagai komunitas yang hadir berupaya menyatukan tekad dan niat baik yang sejak awal mereka pelihara.

Hadir sebagai pemantik forum yang bertempat di TBM Pustaka Warga tersebut, Daru Kuswanto (guru  SMK2, Purwokerto); Heri Kristanto (pemrakarsa TBM PUSTAKA WARGA, Purwokerto); Cici Suwandi (Komunitas  Kelas Inspirasi, Purwokerto) dan ; Ayu Puji (Kampung Literasi Wadas Kelir, Purwokerto). Keempatnya adalah perwakilan komunitas Guru Merdeka Belajar yang mewakili Banyumas dalam pertemuan temu pendidik nasional yang dihelat di Jakarta beberapa waktu lalu.

Usai paparan pengalaman mengikuti kegiatan temu pendidik nasional, para peserta kemudian merespon dengan memberikan selayang pandang latar belakang masing-masing.

Pak Slamet yang menginspirasi dari lereng Slamet

Tak memiliki latar belakang sebagai pendidik, tak menghalangi  Slamet Riyanto sekeluarga untuk menghibahkan diri sebagai pendidik bagi anak-anak desa di lerang Gunung Slamet. Tepatnya di desa Limpakuwus. Berangkat dari hobi berinteraksi dengan anak kecil, Mas Mame, begitu ia kerap dipanggil, kini memiliki 216 anak didik yang tergabung dalam wadah bernama Oemah Sinau. Karena banyaknya anak yang ingin bergabung, kini Oemah Sinau terbagi dalam empat sektor (sebutan untuk merujuk titik belajar Oemah Sinau).

“ Anak-anak adalah guru besar saya”. Begitu Pak Slamet melanjutkan kisahnya. Baginya anak-anak justru memberikan banyak pelajaran, tentang ketulusan dan pemaknaan hidup. “ Pernah suatu ketika, saat hujan lebat ada anak yang memaksa datang ke untuk ikut belajar. Padahal kondisi anak tersebut sedang panas badannya. Saya saya mau antar pulang, anak itu menolak dan mengatakan ingin ikut belajar. Katanya mendengar suara saya sudah membuat dia merasa lebih baik” kisah Pak Slamet sambil berkaca-kaca. Air matanya tampak mulai menetes menceritakan antusiasme anak didiknya untuk belajar.

Mas Roif, dari malas sekolah hingga jadi relawan di sekolah

Lahir dan besar di lingkungan pedesaan, di sekitar dataran tinggi Dieng membuat Roif malas berinteraksi dengan sekolahan. Sejak kecil ia berkeyakinan bahwa sekolah, sebagai tempat belajar formal, tidak banyak memberi manfaat bagi kehidupan anak desa seperti dirinya. Rutinitas mencari rumput dan kayu bakar sama sekali tak membutuhkan teori ilmiah. Kira-kira begitulah yang menjadi awal keyakinannya.

Namun semua mulai berubah saat mahasiswa IAIN ini mengenal Sekolah Alam Pakis di daerah Gunung Lurah. Di sekolah tersebut, anak didik tidak hanya mempelajari pelajaran teoritis di ruang kelas. Tapi juga diajak untuk mengenal lingkungan sekitar dengan belajar di alam sebagai lingkungan tempat mereka tinggal. Belajar mencangkul dan menanam.

Pelan-pelan simpatinya pada sekolah tumbuh seiring dengan paradigma pendidikan baru yang ia temukan di Sekolah Alam Pakis. Kini, ia pun bergabung menjadi relawan di sekolah alam tersebut.  “Pendidikan Indonesia itu terlalu banyak meniru sistem dari mana-mana sehingga justru lupa dengan jati dirinya sendiri”. Dari itu, Roif, dengan sekolah alamnya, bertekad memberikan pendidikan alternatif yang berwawasan kearifan lokal.

Mba Ummy yang membawa konsep sedekah gaya baru

Banyaknya tunawisma yang tidur di emperan toko di sekitar Purwokerto membuat Mba Ummy yang semula berjualan brownies dengan berkeliling merasa tersentuh. Sejak saat itulah wanita berkacamata ini mulai menyedekahkan semua hasil penjualan browniesnya di setiap hari Jum’at untuk para tunawisma yang ada di pinggir-pinggir jalan.

Seiring dengan banyaknya tunawisma yang membutuhkan bantuan, konsep sedekah ditambah menjadi hari Kamis dan Jum’at. Hingga kini Lelang Brownies Sedekah sudah berjalan hampir dua tahun. Yang inspiratif berikutnya dari Lelang Brownies Sedekah adalah komitmen Mba Ummy dan relawan-relawannya untuk mengajari para tunawisma sholat dan ibadah lain.

Rizhome dan Lingkar Kajian Banyumas yang serius mengawal riset bidang pendidikan

Bergerak di bidang riset dan kajian membuat Rizhome dan LKB menjadi komunitas yang cukup strategis. Selain penelitian, LKB dan Rizhome juga melakukan kerja-kerja advokasi dengan diskusi ilmiah ataupun pengawalan kebijakan pemerintah daerah. Mereka juga telah menerbitkan buku dari hasil-hasil riset tentang pendidikan yang mereka lakukan.

Menggalang jejaring kerelawanan melalui Bhineka Ceria

Menyadari waktu luang berlebih sebagai mahasiswa membuat sekelompok mahasiswa membuka jejaring relawan mengajar lewat wadah bernama Bhineka Ceria.  Mereka mengembangkan pola pembelajaran berbasis kesadaran lingkungan. Pendekatan non formal yang mereka lakukan terbukti lebih disukai oleh anak-anak, karena mereka bisa belajar sambil bermain dan berinteraksi dengan lingkungannya. Kini Bhineka Ceria memiliki 70 mahasiswa yang tergabung dalam jaringan relawannya.

Membuka peluang kolaborasi kebaikan

Melihat kenyataan akan banyaknya orang baik yang memiliki niat baik pada ruang lingkup yang sama membuat forum bersepakat membangun kerja kolaboratif. Untuk saling mengisi, mendukung, dan melengakapi. Mereka yang selama ini mengambil jalan sunyi dengan berjuang ditengah akar rumput berupaya menyatukan potensi agar pengaruh positif yang ditimbulkannya dapat lebih luas. Mereka meyakini sesuatu yang dibangun dengan jiwa akan tumbuh dengan sendirinya. Untuk itu mereka menyatukan tekad.

Sebagi tindak lanjut dari pertemuan awal, mereka berencana membuat forum lanjutan dengan agenda mendiskusikan upaya mengorganisir dan merawat jejaring kerelawanan. Sebuah hal yang selama ini kerap menjadi tantangan dalam mengelola sebuah komunitas non profit.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga