Hadratusyeikh Bukan Gelar Pesanan

hasyim asyari

Tatkala umurku habis tanpa pengetahuan dan karya, lantas apa makna hidupku ini. (begitu pitutur Mbah Hasyim).

Belum hilang dari ingatan, bagaimana publik tanah air digemparkan dengan kasus ijazah palsu. Dua hari lalu, berita pemalsuan dokumen serupa terungkap di Tambora, Jakarta. Seolah pendidikan kita sedang dirundung polemik dan tekanan untuk suatu tujuan tertentu. Penjatuhan citra? Mungkin. Tapi walaupun begitu tetap pendidikan adalah suatu hal yang penting. Dalam Islam (berhubung ini masuk rubrik nyunah) pun demikian, malah diwajibkan untuk mencari ilmu. Dalam suatu hadits shahih disebutkan: “tholabul Ilmi Faridhotun Ala kulli Muslimin wal Muslimat”.

Tetapi kali ini saya belum akan membahas tentang pendidikan yang njelimet. Hehee. Saya justru tertarik untuk mengedepankan pembahasan mengenai gelar masa lalu. Tepatnya gelar Hadratusyekh yang kita sama-sama tahu melekat pada nama Kyai Hasyim Asyari, sang kreator NU.

Hadratusyech yang artinya “Maha Guru” menjadi gelar yang diberikan khususnya untuk orang yang benar-benar pantas mendapatkannya. Gelar ini berarti satu tingkat  di atas gelar Syeikh. Dan memang akan susah membahas gelas Hadratussyeikh tanpa paham gelar syeikhnya.

Istilah Syeikh di Timur Tengah, merujuk pada orang yang sudah lanjut usianya. Namun, saat ini berkembang menjadi gelar untuk pemimpin, bangsawan atau para tetua. Hal yang sama terjadi dalam tradisi di Teluk Persia. Istilah merujuk pada pemimpin, baik pejabat tinggi, manager, pemimpin lokal maupun perusahaan. Agak berbeda di Afrika, gelar ini biasanya digunakan untuk penguasa yang beragama Islam, di keluarga kerajaan Ethiopia dan para bangsawan muslim disuku-suku di Afrika seperti ; Tigray, Wollo dandan Eritrea.  Termasuk para penguasa Bela Shangul.

Sedangkan di Indonesia biasanya merujuk pada seorang ulama dengan keilmuan agama Islam yang tinggi, mulai dari perilaku, perbuatan dan sikap. Bisa juga ulama besar, baik yang ahli fikih, ahli hadits atau ahli tasawuf, tarekat atau sufi.

Kata Syekh, bisa ditulis ; Syekh, Syeh, Shaikh, Shaykh, Sheikh, dan sejenisnya. Secara bahasa harfiah arti Syekh adalah pemimpin, tetua, kepala suku atau ahli agama Islam. Secara definisi, gelar Syech mirip dengan sebutan Kyai atau Ustadz. Guru-guru di Arab atau Mesir biasa disebut Syech. Rektor Al-Universitas Al-Azhar, misalnya yang mendapatkan gelar Syech Al Azhar.

Di Indonesia, gelar Syech tidak merujuk pada akademik seperti profesor. Namun lebih kepada ulama besar yang memiliki kedalaman ilmu agama Islam. Baik dari segi fiqih, tasawuf maupun spiritualnya, menguasai syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Dalam Lintasannya merujuk pada kewalian dan mistisme Islam.

Adapun nama-nama tokoh besar atau yang populer yang kita kenal memperoleh gelar syekh misalnya; Syeikh Siti Jenar, Habib Syeikh Abdul Qodir Assegaf, Syeikh Jangkung, Syeikh Ahmad Mutamakkin, Syekh Abdul Qodir Jailani, Syekh Maulana Ja’far Shadiq, dan masih banyak lagi lainnya.

Diluar jalur pemberian dari manusia  atau masyarakat luas, gelar Syech bisa berasal dari Allah langsung melalui kasyaf atau mimpi. Mirip wahyu bila merujuk pada Nabi atau Rasul. Orang yang   mendapatkan gelar syekh melalui jalur mimpi atau petunjuk dari Allah biasanya tidak mau menceritakannya.

Mereka lebih suka diam dan untuk dirinya sendiri. Terkadang, gelar syekh yang diberikan secara langsung dari Allah itu diceritakan hanya kepada orang-orang tertentu untuk menghindari fitnah. Sebab, bila disebarluaskan, tidak jarang orang menyebutnya gila atau stres.

Sementara gelar Hadratussyekh diberikan dengan verifikasi mendalam. Tidak bisa  nyogok atau bikin ijazah palsu untuk itu. Dan ada begitu banyak ulama, baik dari dalam dan luar negeri, mempersembahkan gelar Hadratusyech kepada beliau Hadrutusyech KH. Muhammad Hasyim Asyari. Hal ini karena kepakaran beliau di berbagai bidang ilmu Islam. Juga karena beliau adalah seorang ulama yang secara gigih dan tegas mempertahankan ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

Gelar hadratussyekh tersebut disandang beliau sejak dari Mekkah. Karena selain KH Hasyim Asyari selain menguasai berbagai disiplin keilmuan Islam secara mendalam, juga hafal kitab-kitab babon hadits dari Kutubus Sittah yang meliputi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Bukhori Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah.

Jadi sama sekali tidak lucu, kalau ada anak muda jaman sekarang yang membantah amalan Nahdliyin (yang notabene warisan dari Kh Hasyim Asyari) dengan satu dua hadist hasil ngaji dari google. Lah yang dibantah hafal ribuan hadist kok. Biar makin ngeh coba baca ini sini sih: Kembali pada Al Quran dan Hadist, Ajakan Simpel yang Tidak Simpel

Dalam hal bermadzhab, beliau memandang sebagai masalah yang fundamental, guna memahami maksud sebenarnya yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Sebab tanpa mempelajari berbagai pendapat dari kalangan ulama-ulama besar khususnya Empat Imam Madzhab, yaitu Maliki, Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali, maka hanya akan menghasilkan pemutarbalikan pengertian dari ajaran Islam itu sendiri.

Demikian #EtaTerangkanlah

Walahulmuafik illa akwamitharik

Penulis: Panggil saja namaku Dhayat. Bisa disapa di sekre PMII UMP.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga