Hatta, Koperasi dan Selembar Epitaf

26/01/2018 185 0 0

Secara umum Indonesia hari-hari ini dapat digambarkan sebagai berikut: secara struktur sosial terdiri dari dua tipe kontradiksi basis hidup masyarakat, kolektivisme dan individualisme. Kolektivisme adalah basis dari masyarakat Indonesia lama dan individualisme yang merupakan jiwa Hindia Belanda yang terpatri dalam masyarakat kelas atas Indonesia. Kontras dengan perkembangan-perkembangan sosial di negara-negara Barat, struktur feodalisme di sini tidak tergantikan oleh organisasi kapitalis, melainkan didominasi dan dikontrol dari atas. Kesetiaan terhadap nilai-nilai rasionalitas, yang kedua-duanya insentif dan berdasar perhitungan, kapitalisme yang datang ke Indonesia, berperan sebagai agresor, penjarah, pemegang kekuasaan politik, akan tetapi tidak merusak tatanan feodalisme, malah menggunakannya untuk mengontrol kekuatan produksi dari keseluruhan populasi. Papar Bung Hatta dalam pidato penerimaan doktor kehormatan yang diberikan Universitas Gadjah Mada dengan judul Past and Future.

Bung Hatta menerima penghargaan itu, ia berpidato setelah Bung Karno menggagas konsep Demokrasi Terpimpin beberapa pekan sebelumnya. Pidato Sang Proklamator semacam talak untuk Bung Hatta yang dianggap mengawali percekcokan, ia disebut sebagai orang yang bertanggung jawab atas ketidakefektifan Demokrasi Parlementer.

Bung Hatta menerima talak itu, selang beberapa hari setelah ia berpidato, Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI.

Bung Karno sempat meminta rujuk, Bung Hatta menolak, ia tidak mau bisu dan hanya menjadi judul drama Henrik Ibsen, A Doll House di dalam istana. Bung Karno berjalan sendiri, ia melanjutkan hidup bersama Demokrasi Terpimpin yang sudah terlanjur dipinangnya.

Salah satu penyebab prahara dari rumah tangga Dwitunggal ini adalah policy dan idealisme dari keduanya, Bung Karno memilih untuk menasionalisasi seluruh perusahaan besar barat, sementara Hatta menganggap bahwa perlu adanya dinamisme ekonomi dari arus bawah. Hatta merasa bahwa riuh rendahnya politik nasional sangat mungkin memberikan ekses negatif terhadap masyarakat kecil.

Ketika berusia tiga belas tahun Hatta lulus ujian masuk Hogere Burger School (HBS) –setara SMA- di Jakarta, karena terlalu bau kencur, ibunya melarang Hatta dan memaksanya untuk menetap di Padang. Ia lantas masuk Meer Uitgebreid Lager Overderwijjs (MULO) –setara SMP. Dengan waktu lebih yang ia miliki, Hatta bekerja di Kantor Pos tanpa sepengetahuan ibunya. Hatta menjadi yatim sebelum genap setahun, ia juga terlibat dalam Sarikat Usaha Pimpinan Taher Marah Seotan, yang merupakan perkumpulan pedagang dan pendidik. Ia gemar membaca ulasan politik yang ada di koran dan laporan sidang Volksraad (lembaga legislatif pada masa kolonial serupa dengan DPRD). Begitu kata George Kahin mengenang Bung Hatta setelah kematiannya, sebagaimana ia ungkapkan dalam In Memorian: Mohammad Hatta.

Persentuhan Bung Hatta dengan dunia politik, ekonomi, dan organisasi berawal semenjak dini. Ia lalu melanjutkan HBS di Batavia. Ia kemudian tiba di Belanda pada 1922 dan pernah mengambil studi di Leiden. Ia masuk Sekolah Dagang Prins Hendrik tapi ia lulus dan mendapat gelar Doctorandus dari Sekolah Tinggi Bisnis Rotterdam. Baca juga tulisan saya dengan judul Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan.

Selama liburan musim panas 1925 Bung Hatta berkunjung ke Swedia, Norwegia, dan Denmark, menjadikannya pendukung koperasi, melihat mereka membangun petani lemah atau pedagang kecil ke dalam sebuah kekuatan yang cukup kuat untuk dominasi korporasi besar, tulis Mavis Rose dalam Indonesia free : a political biography of Mohammad Hatta (1987:27). Ketertarikannya dalam dunia koperasi ia tautkan dalam organisasi yang ia ikuti selama studinya.

Dalam pidato pelantikan Hatta sebagai ketua (PI) ia telah menggaris bawahi motif ekonomi di belakang kolonialisme. Sebuah elemen diperlukan dalam membangun sebuah negara di dalam negara adalah merusak dominasi perusahaan swasta Eropa. Di dalam tujuan ekonomi dari partai baru. Hatta mengusulkan koperasi sebagai praktik yang dapat dilakukan orang Indonesia untuk melawan kekuatan korporasi asing. Hatta akan selalu menjadi penganut taat koperasi, lanjut Mavis (1987:34).

Konsistensi Hatta dalam dunia koperasi sebagai alat pembebasan masyarakat kecil ia terapkan semasa dibuang di Banda. Meski dilarang terlibat politik secara terbuka, Hatta tetap bergerak,memakai kebebasan mereka untuk menggerogoti pengaruh kuat Belanda di Pulau Banda. Iwa dan Syahrir bekerja sama dalam pengetahuan hukum untuk menyediakan bantuan pelayanan hukum bagi orang-orang desa, khususnya membantu dalam masalah penyimpangan hak milik tanah. Hatta membantu mengorganisasi sebuah pergerakan koperasi di antara petani setempat, keempatnya melalui kelompok pemuda membantu mendirikan Persatuan Banda Neira.

Pun semasa revolusi, ide-ide koperasi (kerja sama) tidak bisa lekang dari dalam isi kepalanya, Pasal 33 UUD tidak lepas dari sumbangsih Hatta, dalam penyusunan draf konstitusi, ia mengatakan ekonomi negara harus dibangun atas dasar kerjasama (koperasi). Ia menekankan lebih lanjut bahwa cabang-cabang utama produksi harus dimiliki negara.

Ia dengan jelas percaya bahwa pilihan terbaik untuk Indonesia sebaiknya ekonomi campuran dengan sektor-sektor sosial yang luas. Sebuah sektor kerjasama substansial-utamanya pada level rural- dan sebuah pembatasan lapisan kapitalis. Dengan usaha kecil yang akan berkelanjutan untuk hidup berdampingan dengan sektor-sektor luas tersebut. Ia berpikir bahwa tidak perlu adanya pembentukan-pembentukan kelas menengah kapitalis sebelum masyarakat sosialis harus didirikan ataupun memiliki pelaku administrasi sebagai apparatus masyarakat sosialis, kenang Kahin pada Hatta saat keduanya berdiskusi medio 50-an.

Selepas KMB, Bung Karno (BK) dan Bung Hatta (BH) ini membagi wilayah ke dalam beberapa provinsi, untuk mempermudah dan mempercepat pembangunan. Dilanjut dengan adanya pemilu pertama yang diadakan pada 1955. Namun, keduanya terlibat perang urat syaraf akut, BK menganggap bahwa Revolusi belum sepenunya usai, sementara BH menganggap saatnya membangun ekonomi. Pertentangan konsep tersebut ditambah dengan berbagai macam masalah pelik, semisal belum siapnya zaman baru maupun belum atau sudah tercapainya revolusi budaya.

Ruang semakin tertutup untuk Bung Hatta pasca pemilu digelar. Partai Nassional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sangat kuat di wilayah tengah dan timur Jawa, pun dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang juga memiliki massa besar di barat dan timur Jawa. Sementara PKI dengan organ sayapnya Barisan Tani Indonesia (BTI), cukup kuat di daerah pertanian perdesaan, juga NU yang memiliki santri-santri dari desa, NU saat itu belum mengikrarkan Khittah.

Entah kebetulan atau memang Bung Karno ingat dengan Hatta, ia menggagas pentingnya koperasi demi suksesnya  Manipol: Nasakom dan Usdek yang ia pegang teguh. Soekarno semasa Demokrasi Terpimpin membuat terma koperasi yang diwujudkan dalam dibentuknya Kementerian Transmigrasi Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa yang dijabat oleh  Letkol Achmadi, sorang perwira militer.

Ini semacam pernyataan sejarah, bukan Hatta yang memegang posisi itu, meski ia memiliki gelar Begawan, katam konsep koperasi dan sangat paham masalah ekonomi, seakan Dwitunggal itu telah sepakat cerai pasca ia mengundurkan diri sebagai Wapres sejak 1 Desember 1956.

Selo Soemardjan, Sosiolog Mataraman menjelaskan bahwa Pembangunan Masyarakat Desa (PMD) adalah program turunan dari Kementerian Transmigrasi dan Pembangunan Masyarakat Desa. PMD muncul di dalam konteks Rencana Pembangunan Lima Tahun antar 1955-1960.

Ia nampaknya gagasan dari badan eksekutif dibawah Republik Indonesia, diilhami dari loyalitas tak terpisahkan Demokrasi Terpimpin yang tidak ingin mengambil risiko munculnya filosofi lain yang mempunyai bahaya laten yang kontradiktif dengan prinsip konstitusi negara dan manipol. Pembangunan Masyarakat Desa dibentuk oleh Biro Pembangunan Masyarakat Desa dibawah Kementerian Koperasi. Begitu tulisnya dalam The dynamics of community development in rural Central and West Java.

Soekarno berdalih tujuan prinsipil dari kerja PMD adalah utamanya untuk menyelesaikan sebuah keseimbangan pembangunan sosio-ekonomi untuk meningkatkan standar hidup massa rakyat, melalui potensi-potensi massa rakyat desa demi meningkatkan produksi dan pemasukan, segalanya harus dikerahkan dalam sebuah keluarga laksana jiwa yang merengkuh seluruh massa rakyat di dalam sebuah jalan integral dibawah arahan Manifesto Politik Republik Indonesia.

Tapi apapun yang tejadi, wewenang presiden semasa Demokrasi Terpimpin, ia memiliki kekuatan ultra, masa-masa Demokrasi Terpimpin juga dengan jelas mengisyaratkan kedekatan Soekarno dengan PKI dan Angkatan Darat. Kementerian tersebut bernaung dalam Kabinet Kerja berdasar Dekrit Presiden Nomor 21 tahun 1960 dan berlaku mulai 18 februari 1960. Usianya begitu singkat laiknya anak bayi yang baru diputus tetek emaknya.

Bung Hatta hanya menjadi saksi peristiwa itu dari rumahnya, Meski sudah terdepak dari lingkaran satu kekuasaan Hatta tetap bergerak, ia sempat beberapa kali ke luar negeri untuk mengikuti Konferensi Koperasi Internasional.

Hatta memiliki anggapan dan pendekatan yang berbeda dengan Bung Karno. Menurut Kahin: mendapat julukan Bapak Koperasi, Hatta merasa kecewa bahwa waktu sedekade setelah revolusi, upaya panjangnya untuk merasuk ke desa-desa terbukti menemui jalan buntu. Dalam diskusi soal ini pada awal tahun 60, ia menganggap kelemahan berasal dari dua sebab utama; tak cukupnya personel administrasi lokal yang terlatih dan kecilnya dukungan finansial dari pemerintah.

Satu hal yang paling penting dari Bung Hatta, ia melihat bahwa koperasi adalah medium yang potensial untuk meringankan beban petani dan membantu dalam memastikan bahwa petani dapat bertahan di atas tanahnya sendiri. Bung Hatta mempercayai koperasi adalah instrumen yang paling menjanjikan untuk memberikan desa kekuatan, memelihara otonominya dan cara menampakkan air muka di depan pemerintah pusat.

Comments

comments

Tags: Hatta, ideologi, Kerjasama, Koperasi, Soekarno Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.