Hijrah dan Fenomena Nikah Muda

Hijrah dan Fenomena Nikah Muda– Pada bulan bulan yang diguyur hujan lebih lebat dibanding bulan lain, seperti halnya medio September-Maret, undangan pernikahan meningkat drastis. Sudah jadi nash-nya, hal tersebut akan membuat hati dan dompet sekarat sekaligus. Selain membuat pengeluaran membengkak, beberapa undangan yang muncul juga membuat badan lemas.

Bagaimana tidak, menggenggam undangan dari anak yang sewaktu kita kelas tiga SMA saja dia masih ngempeng jelas menyakitkan. Apalagi dengan kondisi kita sedang menjombelo. Itu pukulan telak.

Kita semua paham, datang ke acara pernikahan, kerapkali membawa dampak psikologis yang hebat. Pertanyaan template “kapan nyusul?” Hingga senyum multi arti dari pihak manten akan membuat kita salah tingkah.

Maka wajar, selain kebingungan menentukan amplop atau kado, yang membuat kita aras-arasen ke pesta pernikahan adalah soal gandengan.

Menikah memang menjadi hak bagi siapa saja di muka bumi ini. Baik yang meyakininya berbentuk bulat maupun datar. Menikah juga, adalah laku ibadah yang acapkali diglorifikasi sedemikian rupanya. Hanya saja menikah memiliki sederet konsekuensi logis yang tak bisa dipandang sepele. Terlebih oleh orang yang masih rajin mengunduh anime macam Aditya Astu.
Kamu ya Tu, nonton Naruto aja belum tamat kok mau nikah!

Tapi ya gitu sih, kerapkali desakan menikah juga tidak bisa di-skip begitu saja. Mulai dari hasrat ngeloni hingga calon mertua yang makin keras menuntut kejelasan, membuat, bahkan adik adik saya di SMP dulu yang usianya masih belasan, melenggang ke jenjang pernikahan.
Itu tidak salah (secara agama) tapi juga tak sepenuhnya benar. Emang si nikah itu wajib, tapi ya ga di semua tataran umur dan kondisi.

Menikah muda kini seolah jadi trend yang kian menggejala. Simplifikasi atas gejolak nafsu hanya mengantarkan pada satu jawaban; menikah. Jika toh tidak cocok ya cerai. Asal sama-sama ridho dan itu tidak dilarang dalam agama (meskipun tidak dibenarkan). Sesimpel itu.

Kasus semacam itu sudah bukan hal yang memerlukan kerja-kerja intelejen. Di Banjarnegara misalnya. Kabupaten dimana sepertiga masa sekolah saya dihabiskan, pada 2016 lalu telah terjadi 276 permintaan dispensasi nikah.

Apa artinya? Berarti ada 276 pernikahan dibawah umur yang menurut negara belum legal. Ironinya, sebagian besar dari angka itu disebabkan si wanita sedang hamil. Itu kasus yang dilaporkan. Dan hampir pasti jumlahnya naik dengan berbagai kasus yang tak dilaporkan.

Jadi ada semacam fenomena gunung Es pernikahan dini. Bukan cinta yang terlarang memang, tapi kok nganu. Rada janggal aja kalo ada anak nggendong anak.

Fenomena tadi tidak bisa lepas dari derasnya arus komunikasi non-konvensional. Menjamurnya aplikasi mbribik berbasis kuota, semakin menambah keinginan menikah. Belum lagi munculnya fenomena serupa di kalangan artis maupun ustadz-semi-artis.

Pada kasus ini, Alvin Fais yang menikahi Larissa Chau pada usianya yg ke 17 adalah contoh sempurna. Pernikahan Alvin dijadikan rujukan sekaligus pembelaan bagi para penganut paham halalkan atau sudahi.

Yang lebih hebat, gerakan nikah muda juga seolah terlembagakan dalam organisasi-organisasi dakwah. Lewat berbagai kajian dan seminar, menikah muda dipropagandakan sebagai solusi tunggal atas kemaksiatan ala remaja. Hasilnya: muncul anak bau telon yang statusnya baper minta dihalalin.
Pada varian yang lebih ekstrem, penganut paham ini bahkan bangga menyebarkan formulir siap poligami. Warbyasak!

Tidak ada yang salah sih, tapi coba dibayangkan lagi, memangnya kalo sudah nikah tidak lagi bisa maksiat?

About The Author

4 Comments

  1. None 26/08/2017 Reply
  2. fajar 27/08/2017 Reply
  3. None 09/09/2017 Reply
  4. None 09/09/2017 Reply

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Menilik Perjalanan Secangkir Kopi
Sekuler, Akar Istilah dan Perdebatan-perdebatan yang Menyertainya
Memo untuk Washington
Syarat Menikah itu Ada Pasangan, Mblo!
Cara Mudah Move On dari Mantan yang Sudah Kadung Dicintai ala Sigmund Freud
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Memo untuk Washington
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif