Hijrah dan Fenomena Nikah Muda

13/03/2017 164 4 0

Hijrah dan Fenomena Nikah Muda– Pada bulan bulan yang diguyur hujan lebih lebat dibanding bulan lain, seperti halnya medio September-Maret, undangan pernikahan meningkat drastis. Sudah jadi nash-nya, hal tersebut akan membuat hati dan dompet sekarat sekaligus. Selain membuat pengeluaran membengkak, beberapa undangan yang muncul juga membuat badan lemas.

Bagaimana tidak, menggenggam undangan dari anak yang sewaktu kita kelas tiga SMA saja dia masih ngempeng jelas menyakitkan. Apalagi dengan kondisi kita sedang menjombelo. Itu pukulan telak.

Kita semua paham, datang ke acara pernikahan, kerapkali membawa dampak psikologis yang hebat. Pertanyaan template “kapan nyusul?” Hingga senyum multi arti dari pihak manten akan membuat kita salah tingkah.

Maka wajar, selain kebingungan menentukan amplop atau kado, yang membuat kita aras-arasen ke pesta pernikahan adalah soal gandengan.

Menikah memang menjadi hak bagi siapa saja di muka bumi ini. Baik yang meyakininya berbentuk bulat maupun datar. Menikah juga, adalah laku ibadah yang acapkali diglorifikasi sedemikian rupanya. Hanya saja menikah memiliki sederet konsekuensi logis yang tak bisa dipandang sepele. Terlebih oleh orang yang masih rajin mengunduh anime macam Aditya Astu.
Kamu ya Tu, nonton Naruto aja belum tamat kok mau nikah!

Tapi ya gitu sih, kerapkali desakan menikah juga tidak bisa di-skip begitu saja. Mulai dari hasrat ngeloni hingga calon mertua yang makin keras menuntut kejelasan, membuat, bahkan adik adik saya di SMP dulu yang usianya masih belasan, melenggang ke jenjang pernikahan.
Itu tidak salah (secara agama) tapi juga tak sepenuhnya benar. Emang si nikah itu wajib, tapi ya ga di semua tataran umur dan kondisi.

Menikah muda kini seolah jadi trend yang kian menggejala. Simplifikasi atas gejolak nafsu hanya mengantarkan pada satu jawaban; menikah. Jika toh tidak cocok ya cerai. Asal sama-sama ridho dan itu tidak dilarang dalam agama (meskipun tidak dibenarkan). Sesimpel itu.

Kasus semacam itu sudah bukan hal yang memerlukan kerja-kerja intelejen. Di Banjarnegara misalnya. Kabupaten dimana sepertiga masa sekolah saya dihabiskan, pada 2016 lalu telah terjadi 276 permintaan dispensasi nikah.

Apa artinya? Berarti ada 276 pernikahan dibawah umur yang menurut negara belum legal. Ironinya, sebagian besar dari angka itu disebabkan si wanita sedang hamil. Itu kasus yang dilaporkan. Dan hampir pasti jumlahnya naik dengan berbagai kasus yang tak dilaporkan.

Jadi ada semacam fenomena gunung Es pernikahan dini. Bukan cinta yang terlarang memang, tapi kok nganu. Rada janggal aja kalo ada anak nggendong anak.

Fenomena tadi tidak bisa lepas dari derasnya arus komunikasi non-konvensional. Menjamurnya aplikasi mbribik berbasis kuota, semakin menambah keinginan menikah. Belum lagi munculnya fenomena serupa di kalangan artis maupun ustadz-semi-artis.

Pada kasus ini, Alvin Fais yang menikahi Larissa Chau pada usianya yg ke 17 adalah contoh sempurna. Pernikahan Alvin dijadikan rujukan sekaligus pembelaan bagi para penganut paham halalkan atau sudahi.

Yang lebih hebat, gerakan nikah muda juga seolah terlembagakan dalam organisasi-organisasi dakwah. Lewat berbagai kajian dan seminar, menikah muda dipropagandakan sebagai solusi tunggal atas kemaksiatan ala remaja. Hasilnya: muncul anak bau telon yang statusnya baper minta dihalalin.
Pada varian yang lebih ekstrem, penganut paham ini bahkan bangga menyebarkan formulir siap poligami. Warbyasak!

Tidak ada yang salah sih, tapi coba dibayangkan lagi, memangnya kalo sudah nikah tidak lagi bisa maksiat?

Comments

comments

Tags: Baper, esensiana, Fenomena, Halallin Aku, Hijrah, Jomblo, Nikah, Nikah Muda, Pacaran Categories: Peristiwa, Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts
Comments
  1. -

    Sudah nikah tidak lagi maksiat?
    Betul memang ga ada yg jamin. Tapi, Seenggaknya dg menikah satu pintu keburukan tertutup. Dan kalo sudah begitu, saya yakin sekali Allah akan lebih ridho. Menikah juga sebaiknya ga hny dijadiin goal, setelah itu selesai. tapi jadikan jalan untuk menuju yg lebih Besar dan Kuasa. Maka dari itu kedua insan perlu belajar bgmn konsekuensi pernikahan. Tetapi dibalik itu semua Allah sudah siapkan pahala yg berlipat lipatnya. Dengan begitu, akan lebih indah bagi kedua pasangan utk menjalani kehidupan mereka.

  2. -

    Tul itu. Jika sudut pandangmu sesempit kehidupan dua insan. Tapi bagaimana jika sudutnya kita geser. Sedkit agak naik, menjadi misal, masa depan bangsa. Ah engga biar imbang, masa depan Islam. Bagaimana kiranya Islam akan kian tertinggal jika generasinya larut dalam cerita pernikahan muda, biduk rumah tangga, dan urusan dapur ngebul. Sebutlah ada yang prohresif pasca menikah tapi jumlahnya sedikt. kelewat sedkit malah. Perbandingkanlah dengan kelompok yang selama ini diposisikan sebagai “musuh Islam” masa mudanya habis produktif. Tepat pada titik itulah tulisan ini dibuat.tabik.

  3. -

    Okey. Maka dari itu tiap2 orang harusnya tahu dan paham bgmn posisi dan kewajibannya masing2. Seseorang yg tahu gimana tugas istri yg harus mengkader anak anak nya hingga sampai anak2nya itu bisa jadi pemimpin buat org2 sekitarnya. Seorang suami yg harus mampu memimpin keluarga kecilnya.
    jadi ketika menikah bukan berarti perjuangan menegakan islam berhenti. Saya katakan big no!
    justru disinilah, sebuah keluarga akan membangun fondasi generasi2nya. Memulai sesuatu kepada orang2 dg diberikannya pendidikan kepada janin. Menjadi orang tua pun artinya harus siap belajar seumur hidup. Ga akan ada berhenti2nya.
    Menikah muda atau tidak itu pilihan. Buat yg ingin meraih mimpi2nya ya monggo. Apalagi jika bisa berkontribusi byk utk orang lain. Itu akan lebih baik. Dari apa yg dipelajari sy juga yakin sedikit banyak akan membantu nya membangung keluarganya kelak
    Yg perlu diingat Islam itu sempurna. Jangankan mengatur hubungan antar manusia. Cara mendidik anakpun sudah di atur dalam Al Quran dan Sunnah. Tinggal bgm tiap2 orang Islam mau belajar dan membuka hati mereka. Allahu alam

  4. -

    Dan kita ga pernah tau
    Kebaikan apa yg oranglain lakukan utk orang sekitarnya. Bisa jadi dr sedikit rizki utk menafkahi klgnya dia sedekahkan. Dia zakat profesi buat tetangga2 nya. Dari apa yg diberikannya itu, kita ga pernah tau kesulitan siapa yg dia tolong. Bisa jadii, harta yg dia sumbangkan buat membangun masjid, sekolah, rumah sakit atau bahkan memodali usaha tetangganya. Dia mungkin ga ikut organisasi x,y,z. Piagamnya juga mungkin ga ada. Tapi karna kebaiknnya yg ikhlas ngasih tanpa orang lain tahu, justruu akan lebih manfaatnya. Belum lagi jika ia bekerja, dan dia lakukan pekerja nya itu dg bener. Secra ga langsung dia juga sedang menolong orang lain
    kita ga pernah tahu gimana orang lain seutuhnya. Yg terlihat cuma sebagian nya saja.

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.