durian kampung

Hikayat Haji Ajid, Pendekar Durian dari Tanah Para Jawara

18/02/2018 357 0 0

durian kampung

Perjalanan menuju Durian Jatohan Ajid.

Usai  mengisi penuh perut dengan sate kebo di sebuah warung makan tradisional di daerah Pandeglang, kami meluncur ke lapak durian yang sangat terkenal di daerah Pandeglang. Durian Jatohan Ajid namanya, atau orang-orang sering menyingkatnya menjadi DJA.

Sekitar 30 menit mobil yang kami tumpangi berjalan, sein kiri mobil dihidupkan, saya menengok ke arah jendela mobil, dan berdiri tegak patung durian dengan tinggi kira-kira 3 meter dengan papan nama Durian Jatohan Ajid. Tempatnya lebih menyerupai villa besar ketimbang sebuah lapak durian. Karena sejauh yang saya tahu, yang namanya lapak durian pinggir jalan itu ya paling pakai sepeda motor, dipikul di keranjang, atau paling menggunakan mobil bak terbuka. Sungguhpun perlu menggunakan bangunan, itu biasanya adalah bangunan semi permanen yang tidak seberapa luasnya.

Hal tersebut bisa kita maklumi karena jualan durian, umumnya tak bisa dilakukan sepanjang tahun. Jadi hanya pekerjaan musiman belaka.

Namun bayangan seperti itu akan musnah ketika kita memasuki lapak Durian Jatohan Ajid. Bangunan dua lantai yang dibangun dengan gaya tradisional Banten tersebut berdiri kokoh di pinggir jalan raya Pandeglang-Serang dengan luasan areanya yang tak biasa. Sesampainya di sana, kami disambut langsung oleh pemiliknya, Haji Ajid. Belum sempat kami menemukan tempat duduk, Haji Ajid sudah menawarkan pada kami salah satu durian istimewanya. Durian Si Roti.

Tempat duduk kami dapat, tidak lama berselang Pak Haji, begitu ia sering dipanggil, datang membopong durian yang sejak tadi ia banggakan. Lalu tanpa babibu, durian kami belah. Dengan basmallah tentu saja, dan tergoleklah buah berwarna kuning montok di dalamnya. Rasanya kami tidak sabar untuk segera memotretnya memakannya. Dan yang membuat durian ini begitu istimewa,  selain rasanya yang manis legit dengan sensasi creemy-nya adalah bijinya yang amat kecil-kecil. Lebih banyak yang menyerupai biji semangka ketimbang biji durian.

menikmati durian Si Roti yang legit menggigit.

Menikmati durian Si Roti yang legit menggigit. Rasanya juara!

Satu buah tandas sudah, dengan sigap Pak Haji mengambil jenis durian lagi, jenis Si Kucing katanya. Tidak jelas mengapa ia dinamai Si Kucing, tapi yang jelas durian tersebut memiliki rasa yang tak kalah juara. Sensasi rasa manis legit, bertemu pait, dan info bahwa itu gratis adalah pengalaman rasa yang luar biasa.

Sampai dengan Pak Haji membuka cerita ihwal pengalamannya jatuh bangun dalam bisnis durian, kami sudah memakan entah berapa buah. Dengan jenis yang rupa-rupa. Ada Si Ketan, Si Nangka, Si Roti dan entah apalagi. Lalu Pak Haji mulai membuka ceritanya.

Tentang Awal Mula

Sebelum seperti sekarang—menjadi pengusaha dengan 450 hektar kebun durian, Pak Haji bukanlah siapa-siapa. Ia hanya anak lelaki dari penjual durian yang mukim di daerah Pandeglang. Masa kecilnya ia habiskan untuk membantu sang ayah berjualan durian. Ayahnya bukan pemborong durian besar, ia hanya menjual durian miliknya yang ia tanam di lahan dengan luas tak seberapa. Sekitar sepertujuh hektar saja, kenangnya.

Ajid kecil memang sudah tertarik untuk bisnis durian. Ia ikut ayahnya berjualan sambil mengamati pola dagang dan perilaku konsumennya. Ayahnya adalah pedagang durian yang amat jujur dan berani. Ia menerapkan sistem garansi untuk buah dagangannya. Pada saat itu, saat di mana harga durian saja masih 10 perak, sistem tersebut adalah sistem yang langka—untuk tak menyebut tidak ada.

Oleh ayahnya, Ajid kecil didik untuk memiliki ketangguhan serupa. Ia dicekoki nilai-nilai kejujuran sebagai prinsip hidupnya. Jangan rugikan konsumen katanya. Ia memang ditempa oleh keadaan dan teladan hidup ayahnya yang membuatnya menjadi  begitu  tangguh.

Untuk urusan makan misalnya, Pak Ajid memiliki kenangan yang muskil dilupakan. Sejak umur sembilan tahun ia ikut berdagang dengan ayahnya tanpa ada jaminan makan yang pasti. Saat perutnya lapar dan bertanya kenapa belum makan, tak jarang ia mendapat jawaban: karena belum waktunya. Atau kalaupun ada rezeki untuk makan, itu hanya Sarimi (bukan konten advertorial) yang diseduh langsung di plastiknya untuk kemudian dimakan sedikit demi sedikit.

Atau soal keteguhan janjinya. Pernah suatu ketika ayahnya mendapat pesanan beberapa buah durian dari koleganya. Dengan senang hati ayahnya pun mengiyakan pesanan itu kemudian memisah durian yang dipilih agar tak bercampur dengan durian dagangan lain. Mungkin khawatir ikut terjual sehingga akan mengecewakan pemesannya.

Namun apa lacur, setelah ditunggu sekian waktu durian yang sudah dipisahnya tak kunjung diambil. Hingga durian itu retak dan terbelah sebelum akhirnya membusuk sendiri, tak ia jual ke pembeli lain. Bukan karena lupa apalagi tidak butuh, hal itu ia lakukan demi komitmennya menjaga janji kesanggupannya untuk mempersembahkan durian pilihannya kepada si kolega. Perkara itu tak diambil, bukan salah dirinya, akan tetapi koleganya yang ingkar janji. “Jangan sampai kalah janji,” ucap Pak Haji mengenang kata-kata ayahnya dulu.

Grafisiana: Jejak rekam D.J.A

Grafisiana: Jejak rekam D.J.A, dari tak bisa beli beras hingga bisa beli tanah ratusan hektar.

Melangkah dengan Visi Kuat dan Keberanian

Sepeninggal ayahnya, Pak Haji tak surut nyali untuk meneruskan ide berjualan durian. Ia memulai segalanya dari nol. Dari tidak memiliki aset apa-apa kecuali tekad kuat dan lahan sepertujuh hektar warisan ayahnya tadi.

Ia mengawalinya dengan berjualan durian ke pasar. Biasanya, setelah ia mengumpulkan dan mewadahi duriannya, ia pergi ke pasar dengan memikul durian dan berjalan kaki selama tiga sampai empat jam lamanya. Itupun tanpa jaminan dagangannya akan laku semua. Jika nasib baik tak menghampiri, tak jarang ia pulang tanpa membawa rupiah.

Ia bahkan pernah selama tiga bulan amat kesulitan untuk membeli beras barang seliter pun, lantaran dari tiga bulan berjualan durian ia hanya memperolah uang Rp. 200.000. Sebagai seorang perokok, ia juga harus “berpuasa” dalam keadaan ekonomi yang seperti itu. Dalam sehari ia dijatah oleh istrinya—sebagai manajer keuangan dalam rumah tangganya—sebatang rokok saja, untuk disulut dan disesapi dalam-dalam.

Namun bukan Haji Ajid namanya kalau menyerah begitu saja. Dengan kondisi yang begitu, ia bukannya berpikir untuk berpindah haluan menggeluti usaha lain malah berpikir bagaimana caranya menjadi Pengusaha Durian Sejati. Sebuah istilah yang terlalu filosofis untuk keluar dari pikiran penjual durian kecil yang bahkan untuk beli beras saja kesusahan.

Tapi niat itu terlanjur mengakar kuat di pangkal kepalanya. Ia lalu memutar otak untuk memikirkan bagaimana caranya ia bisa menjadi pengusaha durian sejati. Pengusaha durian yang dielu-elukan dan dirindukan pembelinya lantaran puas dengan pelayanan dan rasa duriannya. Sejak saat itu ia mulai rajin menanam biji durian yang telah mengkilap disesap para konsumennya. Yang heibat, dengan segala keterbatasan ekonominya, ia tak lupa menyisihkan hasil dagangannya lantaran ia bertekad memiliki kebun dan lapak durian sendiri.

Hingga kemudian cita-cita itu mulai terlihat hasilnya. Ia memiliki lapak durian pinggir jalan yang mulai ramai dikunjungi pembeli. Perihal keberhasilannya menarik pengunjung, pria berusia 55 tahun ini memiliki jurus tersendiri. Jurus itu adalah laku jujur, bener, dan ngalah. Itu adalah tri tunggal. Tiga hal yang menjadi satu kesatuan perilakunya dalam melayani pelanggannya.

Lapak Durian DJA

Lapak durian yang selalu ramai pengunjung. Buah dari kerja keras dan ketulusan pemiliknya.

Jujur dalam artian ia tidak akan berbohong soal kualitas, rasa, dan harga yang dipatok untuk konsumennya. Ia pun akan menjaga mutu durian jatuhan miliknya, memberikan ke pelanggan dan menggaransinya sebagai implementasi dari laku bener. Sementara jurus terakhir yang tak kalah pentingnya adalah ngalah. Itu artinya sebagai penjual, bapak empat anak ini  memprioritaskan kepuasan pelanggannya, kendatipun itu artinya ia tak bisa meraih untung banyak. Dengan sikap seperti itu, tak heran pembelinya datang lagi, lagi, dan lagi.

Dan seperti halnya orang-orang yang menghargai idealisme serta mimpinya, ia kini menjadi salah satu pengusaha durian dengan omset milyaran rupiah juga beberapa penghargaan dan pengakuan telah ia sabet. Mungkin ini, yang puluhan tahun lalu ia namakan sebagai Pengusaha Durian Sejati.

Lepas dari semua itu, dengan semua reputasi menterengnya, Pak Haji tetap membumi. Hingga kini ia masih rutin pergi ke kebunnya, melayani konsumennya, atau sekadar menyapa mereka yang datang bertandang. Sungguh betul, nasib baik hanyalah kalkulasi dari ketekunan usaha, keikhlasan do’a, dan kerendahan hati. Sudah, itu saja.

Durian Si Bintang

Durian Si Bintang, yang menjadi bintang di banyak kompetisi durian.

Comments

comments

Tags: DJA, Durian Jatohan Ajid, durian kampung, PAndeglang, Pengalaman Rasa Categories: esensiana, Reportasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.