Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir

[esensiana-sebuah reportase kegiatan] Pada sekitar pukul dua belas siang yang mendung, untuk kali pertama saya hendak mendatangi tempat yang belum berapa lama mendeklarasikan diri menjadi kampung literasi. Kampung literasi Wadas Kelir namanya. Sebagaimana kampung literasi, di kompleks yang menyerupai bangunan PAUD ini—karena gambar di tembok dan anak-anak yang bersliweran—tertata buku-buku dari berbagai disiplin ilmu. Tapi yang paling mencolok adalah buku-buku anak yang bergelantungan di gerobak baca yang terparkir di pelataran depan. Seolah menjadi penyambut bagi siapapun yang berkunjung ke Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Gerobak baca wadas kelir

Gerobak baca yang menjadi penyambut tamu Wadas Kelir

Maksud kedatangan saya siang kemarin, Minggu 12 November, adalah untuk menghadiri acara Temu Pendidik yang sudah kali kelima digelar oleh Pak Daru dan kawan-kawan. Acara Temu Pendidik ini, meski tak semua berprofesi sebagai guru, umumnya diisi dengan kegiatan diskusi, bertukar teknik mengajar dan saling menginspirasi antar sesama pesertanya. Termasuk yang di Wadas Kelir ini. Adapun tema yang diketengahkan adalah upaya mengelelola jejaring kerelawanan pada komunitas.

Sesampainya di sana, setelah beberapa waktu mengamati keadaan sekitar, melepas helm yang sejak tadi melindungi kepala dari sergapan polisi terpaan angin, mengelus rambut yang susut selama perjalanan, mantap saya melangkahkan kaki menemui tuan rumah dan para tamu yang sudah hadir terlebih dahulu. Tentu sambil terus melepas senyum sebagai pesan damai tanda persahabatan.

Selepas salaman, menemukan tempat duduk, dan sedikit basa-basi, agenda berikutnya membuat saya tambah bersemangat mengikuti acara kali ini. Ketemu pemateri hebat? Bukan. Melainkan acara makan bersama dalam piring masing-masing. Lekas-lekas saya susun mendoan, tempe bacem, sayur, dan nasi bersesakkan di atas piring yang saya pegangi. Tak lupa menyiramnya dengan sambel kecap yang pedasnya proporsional. Ntapss.

Memulai acara dengan gembira

Usai makanan dipiring tandas, segelas susu putih ditenggak, acara pun dimulai. Mas Heru Kurniawan dan Mas Heri Kristanto yang didapuk sebagai pemantik inspirasi menempatkan diri di hadapan meja kecil memanjang dengan lapisan taplak di atasnya. Sejurus kemudian, Mbak Ayu, begitu saya mengingat namanya, membuka acara dan lantas mengarahkan peserta untuk saling berkenalan. Metodenya? Menggunakan permainan interaktif.

Para peserta dibagi dalam kelompok-kelompok sesuai dengan huruf vokal pertama dalam namanya. Di kelompok-kelompok kecil itulah interaksi hangat terjadi. Para peserta serius menyimak rekannya memperkenalkan nama, asal, dan hobinya sambil sesekali tertawa karena banyolan yang kerap mengiringi sesi perkenalan.

Acara berlanjut pada sambutan penggerak awal kegiatan Temu Pendidik ini. Dalam sambutannya, Pak Daru mengingatkan agar para penggerak komunitas untuk tak mudah menyerah dan selalu mengabarkan kegiatannya sebagai sebuah pesan pada yang lain. “Mulanya Komunitas Guru Belajar Purwokerto itu ya saya sendiri. Saya seperti orang gila yang terus mengirim postingan di grup-grup meski tak direspon. Sampai kemudian ada beberapa yang tertarik dan kami menggelar MUDIK [Temu Pendidik] yang pertama,” Begitu guru SMKN 2 Purwokerto ini berkisah. “ Jadi kekuatan Komunitas Guru Belajar ini ya ada pada release yang disampaikan.” Ujarnya mantap.

kegiatan temu pendidik

Jalannya sesi diskusi

Musabab Wadas Kelir ada yang sedernaha saja

Hujan kembali turun saat Mas Heru membuka sesi materinya.

“ Alasan yang melatarbelakangi Wadas Kelir ini adalah karena saya ingin mendidik anak saya sendiri. Itu saja, “ katanya membuka kisah. Ide itu berangkat dari amatannya yang kemudian menyimpulkan bahwa anak-anak belajar dari tiga hal. Pertama anak meniru tindakan teman terhadap dirinya, kemudian meniru tindakan teman pada temannya yang lain, lalu meniru tindakan teman pada diri anak itu sendiri.

Begitupun proses belajar pada orang tua. “ Saya mungkin bisa memberi contoh perlakuan yang baik pada anak saya, tapi bagaimana dengan teman-temannya yang sering menghabiskan waktu bersamanya? Maka cara terbaik mendidik anak sendiri adalah dengan mendidik anak orang lain” tuturnya bersemangat.

Dengan tekad itulah Wadas Kelir dirintis. Saat awal berdiri antusiasme anak-anak begitu besar. Namun tak butuh waktu lama untuk menyeleksi secara alamiah siapa-siapa yang tetap bertahan di sana. Hingga kemudian, karena kegigihan Mas Heru dan istri, warga sekitar mulai berdatangan membawa angin segar. Lalu Wadas Kelir yang ia rintis berkembang menjadi seperti sekarang yang memiliki TBM, TPQ, PAUD, hingga kejar paket. Setiap harinya, dari mulai anak-anak hingga orang dewasa, terus meramaikan kegiatan di Wadas Kelir.

Menurutnya, menghidupi komunitas adalah seni menghadapi rasa sakit. Harus siap mengelola rasa lelah, kecewa, dan sebagainya. Siapa yang terus bertahan dengan terpaan penderitaan di awal dia akan hidup. “ Sejak awal saya sudah memprediksi bahwa pola perhatian lingkungan pada komunitas itu akan membludak terlebih dahulu. Lalu akan menyusut seiring berjalannya waktu, lalu kalau kita bertahan akan naik lagi”.

Berkat kegigihannya bertahan itulah hari ini, Wadas Kelir sudah memiliki beberapa relawan yang saben harinya menemani proses belajar masyarakat sekitar. Kemapanan Wadas Kelir juga makin mantap karena ditopang sumber finansialnya yang diperoleh dari industri kreatif berupa penerbitan buku-buku. Juga sumber-sumber lain tentu saja. Namun demikian, Wadas Kelir bukan tanpa ancaman.

Adalah kerelaan para relawannya yang harus terus dijaga jika tak ingin Wadas Kelir kembali terpuruk. Sebab saat ini, menurut Mas Heru, para relawan memegang 90% peranan di Wadas Kelir. Jika para relawan itu kemudian memilih tak bertahan, tentu masalah pelik akan menghinggapi komunitas yang namanya diambil dari nama makam ini.

Untuk itu, Wadas Kelir mengembangkan kurikulum berbasis dampak. Maksudnya adalah sebuah sistem pembelajaran yang membawa dampak nyata bagi para relawan dan masyarakat yang belajar. Dampak itu tercermin dari dua aspek, dampak finansial dan sosial. Dari aspek sosial para relawan diharapkan bertambah kemampuannya sehingga semakin bermanfaat bagi kehidupan sosialnya. Sementara dari sisi finansial, dengan kegiatan di Wadas Kelir, para relawan dapat menemukan sumber-sumber ekonomi di jejaring yang dibangun untuk menunjang kemandiriannya. Tanpa konsep semacam itu, membangun komunitas hanyalah upaya membangun rumah ditanah berlumpur. Rapuh.

Sebagai manifestasi dari kurikulum tersebut, para relawan “dijebak” pada sebuah sistem yang memaksa mereka untuk terus membaca, menganalisa, menulis, dan membaginya. Begitu setiap hari hingga kemampuan mereka meningkat secara pasti. Para relawan juga kerap dikirim ke acara-acara peningkatan kapasitas ataupun kegiatan lain yang mendatangkan manfaat ekonomi. Selain itu Wadas Kelir menggunakan pendekatan persuasif dalam menjaga para relawannya dengan memberi dorongan motivasi dan apresiasi untuk meningkatkan prestasi. Mereka, sungguhpun bisa, enggan menggunakan metode pemberian sanksi.

Sementara Mas Heri sebagai pemantik kedua lebih menekankan pada proses kolaborasi antar komunitas untuk saling meneguhkan. “ Kolaborasi itu bisa dimulai dengan saling membagi, jangan hanya saling diam. Dengan saling berbagi paling tidak kita akan merasa bahwa penderitaan ternyata bukan hanya milik kita” Ujarnya menyarankan.

Menurutnya banyak komunitas dan praktek baik yang tidak saling terhubung, sehingga seperti teralienasi sendiri-sendiri. Hal tersebut membawa dampak pada resiko keterpurukan yang lebih besar jika tidak mampu menangani masalah internal yang timbul. Apalagi dalam konteks relawan yang umumnya bergabung belakangan dan tak ikut menggodok konsep. Tentu keyakinan yang muncul pun berbeda dengan perintis awal.

Dari Mas Heri, tak banyak yang bisa saya dengar, hujan terlalu keras membentur atap seng yang perkasa menaungi kami. Sisanya saya sibuk dengan mendoan dan susu segar yang disuguhkan.

Materi selesai, sesi tanya jawab dibuka.

Pada sesi ke satu dan menjadi yang satu-satunya, Mbak Kinanti dari Banjarnegara membuka diskusi dengan melempar pertanyaan perihal bagaimana membuat relawan tetap bertahan. Menanggapi pertanyaan itu, Mas Heru menekankan perlunya transfer visi kepada para relawan. Pada apa yang dijalankan di Wadas Kelir misalnya, mereka menerapkan dua transaksi untuk menjaga semangat para relawan.

Yang pertama adalah transaksi keyakinan. Tentang seberapa yakin para relawan mengenai dampak baik komunitas pada dirinya dan lingkunganyalah yang ditekankan. Bahkan jika perlu, keyakinan itu menjadi sebuah keyakinan ideologis sehingga lebih memiliki daya ungkit untuk gerak bersama para relawan. Transaksi yang kedua adalah transaksi keuntungan atau benefit. Sebab tak bisa dipungkiri, seiring dengan usia para relawan yang terus bertambah, kebutuhan juga makin meningkat. Hal ini perlu dicarikan solusinya dengan menghubungkan para relawan pada sumber-sumber ekonomi.

Melengkapi jawaban yang disampaikan Mas Heru, Mas Heri memberikan pandangan tentang perlunya memberikan ruang dan tanggungjawab yang tepat bagi para relawan. Sebab menurutnya masing-masing orang memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Di sisi lain, tanggungjawab secara tidak langsung akan menarik rasa memiliki dari para relawan terhadap komunitas yang dibangun.

Penanya kedua, setelah dipersilahkan Mbak Ayu pastinya, adalah Mas Aan. Kali ini ia mengatasnamakan dari komunitas Hyundai Atoz. Ia lebih pada memberikan testimoni dan afirmasi sih ketimbang sebuah pertanyaan. Ia berpendapat tentang urgensi pembangunan jaringan untuk mempercepat tumbuhnya komunitas berikut para relawannya. Selain itu, disampaikannya pula pentingnya pendidikan berbasis pengalaman.

Sementara penanya yang ketiga adalah Mas Ardi, Sarjana jebolan Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang saat ini sedang menekuni dunia usaha. Ia menanyakan tentang bagaimana strategi mengembangkan minat baca dikalangan pedagang yang ada di derah Cilacap. Perlu diketahui, saat ini Mas Ardi biasa berkeliling menjual kue dengan membawa buku-buku untuk dibaca pelanggannya. Rutinitas itu ia lakukan sebagai bagian dari niat memperbaiki kualitas literasi bangsa Indonesia yang jeblok.

foto bersama pendidik

Sebagai kegiatan zaman now, berfoto bersama adalah keniscayaan

Dengan melihat rendahnya minat baca kita saat ini, apa yang dilakukan Mas Ardi tentu tidak lantas membawa budaya literasi Indonesia yang gilang gemilang. Tapi yang jelas apa yang dilakukannya adalah bentuk keberpihakan pada dunia baca, dan semangat itu perlu diduplikasi pada semakin banyak orang untuk pengaruh yang lebih besar.

Waktu semakin sore, hujan makin mengasingkan suara kami, dan adzan ashar sudah dikumandangkan. Diskusi yang sedianya akan tetap berlanjut terpaksa dicukupkan karena sitausinya yang menjadi agak kurang kondusif. Peserta menjadi lebih banyak diam, mungkin karena kencangnya suara hujan, mungkin karena Adzan, mungkin pula karena pengaruh hawa dingin dan rasa kenyang dari kegiatan makan bersama di awal tadi mulai membawa efek ngantuk. Mungkin.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga