Esensi-Islam-Nusantara

Islam Nusantara: Dengan Budaya Kita Membumikan Ajaran Langit

25/07/2015 315 5 0

Islam Nusantara: Dengan Budaya Kita Membumikan Ajaran Langit-Sebelum kita mendiskusikan mengenai gagasan Islam Nusantara, ijinkanlah saya terlebih dahulu mengomentari pendapat yang menyesatkan terkait gagasan Islam Nusantara.

Akhir-akhir ini pro-kontra akan gagasan Islam Nusantara kian mengemuka. Berbagai pendapat menghiasi media daring tanah air. Ide mengenai Islam Nusantara ini pertama kali dilontarkan oleh organisasi Islam, Nahdlatul Ulama (NU). Tak tanggung-tanggung, NU menjadikan gagasan Islam Nusantara ini sebagai tema besar Muktamar ke-33-Jombang 1-5 Agustus mendatang. Lewat tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” NU menawarkan ide mengenai Islam Nusantara, Islam yang menyatu dengan manusia Indonesia tanpa banyak dipengaruhi budaya arab sebagai tempat turunya Islam itu sendiri.

Jika hanya membaca sekilas, memang rasanya kurang ajar sekali apa yang dilontarkan oleh organisasi Islam terbesar ini. Frase Islam Nusantara seolah adalah aliran islam jenis baru dan beda dengan Islam yang turun di Arab ribuan lalu. Paling tidak mengindikasikan adanya upaya ekslusifitas.

Bahkan jika tak mau menyempatkan diri untuk mencari tahu makna sebenarnya, kita bisa saja menuduh apa yang dilakukan oleh PBNU ini adalah sebuah penistaan agama. Dan benar saja, sesaat setelah wacana Islam Nusantara di kenalkan ke khalayak, media-media “dakwah” langsung menuduh Islam Nusantara adalah aliran sesat. Lalu lewat tangan-tangan terampil netizen “syar’i” penolakan pada wacana Islam Nusantara disebar luaskan.

Bak bola api, wacana Islam Nusantara menggelinding liar “menubruk” siapa saja yang dilaluinya. Hal ini jualah yang membuat PBNU akhirnya angkat suara mengklarifikasi anggapan yang kian runyam beredar di masyarakat akibat berita syarat kepentingan yang telah menggiring opini publik.

Melihat fenomena ini saya jadi teringat dengan apa yang disampaikan oleh Agus Prasetyo, seorang senior saya yang berujar bahwa orang Indonesia ini tak ubahnya burung yang baru saja lepas dari sangkar penjajahan, ia liar dan kagetan.

Peristiwa munculnya gejolak akibat ide Islam Nusantara menjadi bukti hipotesa yang dikeluarkan oleh senior saya itu. Kita bisa melihat, betapa banyak orang yang menyebarkan berita sekalipun berbau fitnah dan tak jelas sumbernya. Tak lupa, penambahan kalimat-kalimat Thayyibah semisal Masya Allah, Naudzubillah, dll semakin menambah kesan dramatis berita yang disebarkan di media sosial itu. Tak jarang disertai komentar yang isinya umpatan, dan kutukan kepada sang empunya ide Islam Nusantara pun dilontarkan.

Seolah dialah orang paling sholeh, sehingga berhak atas semua kebenaran-Nya. Sejatinya ini adalah akibat dari kagetanya orang Indonesia, sehingga ketika mendengar hal yang baru langsung reaktif, seketika itu pula mulutnya melaju jauh melebihi pikiranya. Maka banyaknya komentar yang terkesan tak substansial muncul sebagai bukti mereka komentar sebelum memahami makna sebenarnya.

Masalah Penguasaan Bahasa

Harus diakui, bahwa polemik mengenai gagasan Islam Nusantara, salah satunya, adalah tidak padunya pemahaman bahasa indonesia yang baik dari segenap warga negara Indonesia. Barangkali karena kita lebih bangga berbahasa asing. Agar tampak lebih Islami kita lebih PD memanggil abi ketimbah ayah, mengganti kata kamu menjadi antum.

Atau agar tampak lebih kekinian kita kerap memadukan bahasa Inggris dalam percakapan yang kita lakukan di indonesia dengan orang indonesia pula. Kenapa kita tidak bangga tampil “Indonesiawi” saja? Maka wajar, jika kita justru lupa bahwa kita punya bahasa, yang bahkan sampai detik ini kita sering “gagal paham” memaknai bahasa kita, Indonesia. Misalnya saja dalam memahami frase Islam Nusantara.

Sekarang mari kita pecahkan misteri makna islam nusantara ini dengan mencari padananya saja. Kita gunakan frase Air Galon. Apa yang bisa kita maknai dari frase Air Galon? Apakah kita akan menganggap bahwa air itu berasal dari gelon? Apakah air itu merupakan air jenis baru yang berbeda dengan air pada umumnya? Bukankah air galon mempunyai makna sekedar air yang berada di dalam galon? Maka kemudian bentuk air tersebut juga menyesuaikan bentuk galon.

Begitupun istilah Islam Nusantara, ia sama sekali bukan jenis Islam baru yang digagas NU. Islam Nusantara adalah pengejawantahan nilai-nilai Islam pada budaya di Nusantara. Jadi bukan mengubah Islam agar sesuai budaya Nusantara namun justru mengubah budaya Nusantara agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Jangan hanya karena mendengar lantunan Al-Qur’an dalam langgam jawa, lalu kita beranggapan bahwa Islam Nusantara adalah Islam Baru yang mencampur Islam dengan budaya Jawa. Mbok yo jangan kagetan!

Langgam itu soal lagu, irama, nada, dialek. Asal makhrajul huruf dan tajwidnya benar bukan soal kalau dialeknya berbeda dengan dialek arab. Hal ini wajar, karena dialek adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia pada suatu daerah yang berbeda dengan daerah lain. Bahkan Rasulallah menunjuk Bilal yang kesulitan mengucapkan syin dan sin untuk jadi muadzin.

Saat di protes para sahabat karena dianggap Bilal kurang fasih, dengan diplomatis Rosul menjawab “Jika Bilal mengucap sin padahal harusnya syin maka itu maksudnya syin”.  Lagi pula Al-Qur’an kan bukan koran yang sekedar bahan bacaan, tapi pedoman. Jadi dari pada ribut soal cara membaca Al-Qur’an lebih baik kita berlomba-lomba mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an bukan?

Masih mau menuduh Islam Nusantara ajaran baru yang sesat dan langgam jawa adalah bid’ah dholalah? Kalau begitu bagaimana kalau kita tak boleh membaca Al-Qur’an dengan harakat, karena harakat adalah ciptaan ulama belakangan di zaman Umar bin Abdul Aziz pada masa Dinasti Umayyah, atau kita tak boleh belajar ilmu tajwid karena di zaman nabi belum ada, atau lebih ekstrem, kita (maaf) tak boleh membaca kumpulan hadits, karena di zaman nabi, Kanjeng Nabi Muhammad melarang penulisan hadits karena khawatir bercampur dengan Al-Qur’an. Bukankah kesemua itu adalah urusan agama yang bersifat baru?

Islam Nusantara, Islam ala Nabi

Mengikuti ajaran Islam berarti mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai pembawa Islam ke dunia. Nabi diturunkan oleh Allah SWT sebagai penata akhlak manusia di jazirah Arab pada khususnya, dan manusia di bumi ini pada umumnya.

Dalam mendakwahkan Islam tak sekalipun Nabi memaksa orang arab pada masa itu untuk masuk Islam. Islam pada zaman Nabi berkembang dengan damai dan cinta. Kalaupun kita pernah mendengar Nabi berperang, itu hanyalah karena Nabi dan umat Islam kala itu mempertahankan diri dari serangan musuh.

Musuh-musuh ini menyerang Nabi karena kekhawatiranya terhadap ajaran Nabi yang bisa membahayakan posisinya di dunia. Nabi selalu mengajak orang untuk masuk Islam dengan ketaladanan yang luar biasa, sehingga bahkan para musuhnya pun segan pada beliau.

Tak pernah sekalipun kita mendengar Nabi mengobrak-abrik tempat makan yang buka saat bulan puasa. Bahkan Nabi mencontohkan membalas lemparan batu dengan senyuman, memberi makan walau yang diberikan makan terus saja mengumpat dan bersumpah srapah menjelekkan Nabi. Pun ketika sudah menjadi pemimpin Madinah, Nabi malah menjamin keamanan umat beragama lain seperti Nasrani, Yahudi, Majusi, dan lain sebagainya dalam sebuah konstitusi yang kita kenal dengan Piagam Madinah.

Itulah teladan yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad SAW. Nabi begitu apik menampilkan wajah Islam yang sejuk sekaligus berwibawa. Islam ala Nabi adalah Islam yang mengajak manusia berdamai, memupuk akidah menuju akhlakuk karimah, bukan malah memaksakan akidah dengan sikap tak berakhlak.

Maka Islam Nusantara adalah gagasan untuk menampilkan kembali wajah Islam ala Nabi tersebut. Islam yang ramah bukan yang marah, dengan seperti ini, maka fenomena islamophobia dapat dihilangkan. Stereotipe Islam sebagai agama terorist dapat dibuang.

Islam Nusantara mengajak manusia Indonesia untuk menyelami Islam dari budayanya sendiri. Tentu saja, tidak mengubah tata cara ibadah yang sudah jelas perintah-Nya seperti sholat, puasa dan sebagainya. Semangat Islam yang toleran, damai, dan mampu mengayomi kehidupan berbangsalah yang diusung Islam Nusantara. Dalam ide Islam Nusantara ini kita diajak untuk menanamkan nilai-nilai islam pada budaya nusantara, bukan sebaliknya. Hal ini terlihat jelas pada acara seperti selamatan, tahlilan, dan lain sebagainya. Masih mau berdebat soal Bid’ah?

Sejenak kita bisa membayangkan, bilamana gagasan Islam Nusantara ini diterapkan, bukan tidak mungkin indonesia bisa menjadi negeri yang baldatun toyyibatun warabbun ghafur. Negeri yang didalamnya rakyatnya hidup damai sejahtera, saling menghormati dalam keberagaman-toh Allah SWT sudah berfirman bahwa manusia memang diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling melengkapi-dan pemimpinya mendapat ampunan dari Allah SWT. Rasanya hal tersebut tak mustahil jika kita mau meneladani secara utuh tauladan Nabi yang membawa Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin bukan malah laknatul lil ‘alamin.

Dengan Budaya Indonesialah kita membumikan Islam di Indonesia

Ini adalah bagian yang paling membuat saya harus berhati-hati. Salah-salah saya bisa dianggap kafir laknatullah karena dianggap menyamakan agama dengan budaya.

Seperti yang sudah kita bahas pada paragraf di atas, bahwa Islam datang dengan damai, karena salah satu misi Islam memang menciptakan perdamaian. Lewat cara-cara damai tersebutlah Nabi berhasil merebut hati orang-orang arab untuk masuk Islam. Terlebih kepiawaian Nabi dalam mengelaborasi Islam sebagai ajaran samawi pada sendi-sendi kehidupan bangsa arab saat itu membuat orang-orang arab tak lagi punya alasan untuk menolak ajaran Islam.

Karena saat zaman Nabi berdagang adalah mata pencaharian utama, maka Nabi memberikan pelajaran berdagang yang biasanya dipenuhi kecurangan dan riba dengan sistem dagang yang adil dan jujur, bukan menghapuskan sistem perdagangan itu sendiri.

Sebenarnya pola-pola semacam ini bisa kita temui pada penyebaran Islam oleh para walisongo. Mereka merubah dan mengakomodir budaya penduduk pribumi untuk mengajarkan Islam di daerah tersebut. Misalnya saat mereka mengubah kebiasaan berkumpul setelah kematian yang biasanya minum arak dengan berkumpul untuk medoakan si mati, menggubah pakem pewayangan untuk menyebarkah syiar Islam.

Dan kini kita masih bisa merasakan perjuangan para Wali Allah ini dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Sekalipun banyak yang menentang gagasan tentang Islam Nusantara ini sejatinya banyak pula para penentang yang juga menjalankan ritus ala Islam Nusantara. Salah satu contohnya adalah Mudik yang baru saja ramai-ramai kita lakukan beberapa saat yang lalu. Bukankah mudik adalah tradisi di Indonesia yang berkompromi dengan begitu apik dengan ajaran agama Islam, Silaturahmi. Masih mau mengelak?

Yang lebih lucu lagi padahal kalau kita runut nashabnya para walisongo ini adalah keturunan asing dan sebagian besar adalah keturunan arab. Lalu mengapa kita yang asli Indonesia malah mencoba memberangus budaya lokal karena dinilai merusak agama dan mencoba menggantinya dengan budaya arab yang dikalim sebagai budaya Islam? Bukankah sesungguhnya agama membutuhkan budaya sebagai media dakwah?  Dan budaya yang dimaskud adalah budaya di mana Islam akan disebar-luaskan.

Kalau Anda menuduh Islam Nusantara sebagai upaya mereduksi universalitas Islam dengan budaya Nusantara, maka saya juga curiga jangan-jangan tidak bisa membedakan mana Budaya Nusantara, mana Budaya Arab, mana Agama Islam.

Harus diakui, banyak orang Indonesia yang keblinger soal budaya dan agama. Banyak orang yang lebih memilih gamis dan jubah dari pada batik dan peci, mengganti kata sampean dengan antum, dan berjenggot panjang sebagai legitimasi keislamanya. Padahal sejatinya itu bukanlah nilai Islam, melainkan budaya arab.

Maka jika suatu saat kita melihat orang berjubah, berjenggot, dan berkening hitam sedang memukuli orang lain bisa dipastikan bahwa dia meniru Abu Jahal bukan Nabi Muhammad, karena bukankah abu jahal juga memakai sorban dan berjenggot? Tak jarang perwujudan Islam melalui budaya arab ini jualah yang kerap membuat orang non Islam Indonesia merasa antipati pada Islam yang dianggap sebagai produk “asing”. Maka sebenarnya menggunakan budaya Indonesia adalah cara paling baik untuk menyebarkan Islam di Indonsia.

(Fajar, 22 tahun : lajang yang meyakini jomblo adalah laku tauhid)

Comments

comments

Tags: cipta Damai, Indonesia, Islam Nusantara, Kekuatan NU, PMII Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts
Comments
  1. -

    ‘Air galon ‘itu artinya air yg ada di galon,’air hujan’ itu artinya air yg dihasilkan dari turunnya hujan,keduanya itu kata majemuk dari dua suku kata benda g masing masing bisa berdiri sendiri bila di pisahkan.

    Tapi kalo Islam dan nusantara walau sama-sama bisa berdiri sendiri dan sama sama kata benda tetapi bila di menjadi kata majemuk itu punya arti yg berbeda makna,alias bisa merubah makna yg berkaitannya itu dengan ‘keyakinan’ atau akidah yg tidak sesederhana itu untuk menyimpulkan.
    Dan harus di lihat juga kronologi sejarah lahirnya istilah ‘Islam Nusantara ‘tersebut.siapa penggagasnya,dan berlatal belakang Idiologi apa orang yg menggagas ide ‘Islam Nusantara’tersebut.

    Karena Islam itu sebuah addiin (agama dan aturan hidup)yg tidak bisa di samakan dengan agama-agama lain dan tidak bisa di kolaborasikan dengan ide-ide diluar akidag Islam.

    Kalau saya pribadi melihat gagasan Islam nusantara itu tidak sesederhana penulis paparkan,sebab saya sudah hapsl orang-orang yg mengusung ide tersebut,dan mau di arahkan kemana gagasan tersebut?

    Karena memerlukan waktu yg cukup lama untuk memahaminya,sebaiknya penulis memahami dulu Tiga Idiologi yg ada ri dunia ini dan mendalami Tsakofah Islam yg paripurna.Insya Allah nanti akan paham sendiri kenapa ada kaum muslimin yg menentang ide Islam Nusantara?
    Sekisn dulu.mohon maaf atas komentarnya.jzakallohu.

  2. -

    Saya sepaham dg penulis artikel dibawah ini :
    ( di kutip dari potongan artikel:www.hidayatullah.com )
    …………………………………………………………………………………
    Jelasnya, Islam tidak mengenal teritorial. Islam itu satu dan merujuk pada yang satu (sama) yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.
    ‘Islam Nusantara’ sebagaimana sedang digalakkan oleh pemerintah menunjuk kepada suatu target besar, yakni menghadirkan pemerintahan yang lebih prima dibandingkan dengan sistem ajaran keagamaan Islam.
    Dengan demikian, dimunculkanlah istilah baru “‘Fikih Kebhinekaan’” yang menjunjung tinggi kekuasaan negara. Ide ‘Islam Nusantara’ yang sedang digalakkan ini, bukan tidak mungkin akan melahirkan suatu ‘Madzhab Kekuasaan’ dalam rangka melanggengkan rezim yang berkuasa.
    Jika Patih Gadjah Mada menyatakan dalam Sumpah Palapanya akan mengalahkan “pulau-pulau lain”, maka konsep ‘Islam Nusantara’ akan menegasikan ajaran Islam yang tidak sejalan dengan pemikiran kaum Liberalis. Kaum Liberalis inilah yang akan menjadikan ‘Islam Nusantara’ melalui ‘Fikih Kebhinekaan’ sebagai ‘Madzhab Kekuasaan’.
    Ajaran Islam tentang ketatanegaran tidak lagi dilihat sebagai suatu kebutuhan. Madzhab Kekuasaan itulah yang menjadi pilar bagi penguasa di Nusantara. Menjadi sama persis dengan tujuan ekspansi Patih Gadjah Mada. Gagasan ‘Islam Nusantara’, sejatinya adalah didasarkan kepada kepentingan politis kaum liberalis yang memang terkenal “arogan dalam pemikiran”, menembus batas-batas toleransi intelektual.
    Pernyataan Jokowi, “Islam kita adalah ‘Islam Nusantara’, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah ‘Islam Nusantara’, Islam yang penuh toleransi,” menunjukkan ketidakmengertiannya tentang Islam. Pernyataan itu seolah-olah ingin mengatakan bahwa Islam di luar Nusantara, tidak mengedepankan sopan santun, tata karma, dan tidak ada toleransi. Toleransi yang dimaksudkan dalam konsep ‘Islam Nusantara’ tidak lain mengacu kepada pemikiran HAM versi Barat yang memang mengusung kebebasan (liberty) secara absolut. Banyak pihak yang memang diuntungkan dengan konsep ‘Islam Nusantara’ ini. Di bawah ‘Islam Nusantara’, semua pemikiran dan aliran sesat memiliki hak yang sama, tanpa ada pelarangan.
    Menjadi jelas, bahwa apa yang diperjuangkan dalam gagasan ‘Islam Nusantara’ sebenarnya adalah untuk menjadikan sistem ketatanegaraan Indonesia ke arah kekuasaan belaka. Penguasa akan sangat dikuatkan dengan konsep ‘Islam Nusantara’ melalui ‘Fikih Kebhinekaan’ itu. Ciri khas ‘Madzhab Kekuasaan’ adalah menjadikan hukum positif (Undang-undang) sebagai landasan kekuasaan.
    Di luar undang-undang bukanlah hukum. Undang-undang yang dihasilkan dalam proses di legislatif juga harus mengacu kepada ‘Fikih Kebhinekaan’ vesi kaum Liberalis, yang menampung berbagai pemikiran-pemikiran sesat.
    Keberlakuan syariat Islam yang benar sudah tidak lagi menjadi dasar pemikiran dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Rasio berada di depan dan menjadi “panglima” dalam pengambilan keputusan. Upaya perjuangan “NKRI bersyariah” akan semakin dihadapkan dengan ‘Fikih Kebhinekaan’ karya kaum Liberalis yang berkolaborasi dengan kaum Sekularis, Pluralis dan penganut aliran sesat.
    Di sisi lain, rezim juga diuntungkan dengan penguatan kaum Sepilis dan Aliran Sesat ini. Tidak ada kata sepakat untuk menjadikan Indonesia sebagai ‘Islam Nusantara’. Islam lebih mulia dibandingkan dengan Nusantara.
    Nusantara adalah salah satu wilayah berlakunya hukum Islam. Sepantasnya, Nusantara yang harus menyesuaikan diri dengan nilai-nilai Islam, bukan sebaliknya. “Islam Yes”, “Nusantara Oke”, tetapi “‘Islam Nusantara’ No”.*
    Penulis Anggota Komisi Kumdang MUI Pusat & Ketua TAM-NKRI

  3. -

    Kutipan di atas di ambil dari :
    Menggugat “Madzhab Kekuasaan’ dalam ‘Fikih Kebhinekaan …
    m.hidayatullah.com/…/menggugat- …
    26 Ags 2015 … Ide ‘ Islam Nusantara’ yang sedang digalakkan ini, bukan tidak … Di bawah ‘ Islam Nusantara’, semua pemikiran dan aliran sesat memiliki hak yang sama, tanpa ada pelarangan.

    Silahkan di buka,semoga bermanfaat.amin

  4. -

    Nah ini pendapat beliau di web di atas.

    Prof KH Ali Musthafa Ya’qub, MA
    Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Rais Syuriah PBNU
    Istilah “Islam Nusantara” belakangan ramai diperbincangkan. Istilah yang diproduksi oleh kalangan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) ini belakangan aktif dikenalkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi pun ikut menyebutnya.
    Istilah baru sebagai lawan istilah “Islam Transnasional” yang diproduksi untuk menyebut kelompok organisasi Islam yang berjuang untuk tegaknya syariat Islam secara legal formal dan memiliki jaringan ke Timur Tengah ini mencuat karena pertama kali dimunculkan dalam praktik pembacaan Alquran dengan langgam Jawa di Istana Negara Jakarta saat peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw 1436 beberapa waktu lalu.
    Uniknya, walaupun gagasan ini lahir dari sebagian kalangan “Islam Tradisional”, namun tidak semua tokoh dan ulama dari kalangan tradisional menyetujuinya. Salah seorang Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof KH Ali Musthafa Ya’kub, MA., termasuk salah satu ulama yang menolak gagasan Islam Nusantara bila yang dimaksud adalah menjadikan Nusantara sebagai “sumber”.
    Pendapat-pendapat Kyai kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 yang pernah mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang itu, terungkap dalam wawancara singkat dengan penulis Jejak Islam, Andi Ryansyah, di ruang Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/6). Berikut sebagian kutipan wawancara tersebut:
    Bagaimana pandangan Pak Kyai tentang istilah “Islam Nusantara”?
    Kalau “Islam Nusantara” itu Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat. Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber agama Islam itu Alquran dan Hadis. Apa yang datang dari Nabi Muhammad itu ada dua hal yaitu agama dan budaya.Yang wajib kita ikuti adalah agama, akidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi. Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti.
    Demikian pula budaya Nusantara. Selama budaya Nusantara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka boleh diikuti. Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka itu juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya.
    Tadi Pak Kiai menyatakan Islam yang bercorak budaya Nusantara itu tepat, padahal Pak Kiai tadi juga menyatakan sumber agama Islam bukan dari apa yang ada di Nusantara, jadi maksudnya apa Pak Kyai?
    Maksud saya, Islam yang bercorak budaya Nusantara itu boleh saja sepanjang tidak bertentangan dengan Islam. Tapi kalau Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, baik akidah maupun ibadah harus asli dari Nusantara, maka itu tidak tepat.
    Tapi saya katakan Islam itu bukan Arab sentris. Islam itu apa kata Alquran dan Hadis, bukan Arab sentris. Tidak semua budaya Arab harus kita ambil. Sebab ada budaya Arab yang bertentangan dengan ajaran Islam. Contohnya, orang- orang minum khamr di zaman Nabi dan beristri lebih dari empat.
    Tadi saya katakan, Nabi pakai sorban, apa kita wajib pakai sorban? Tidak ada hadits yang menunjukkan keutamaan memakai sorban. Tidak ada hadits yang mengatakan memakai sorban itu mendapat pahala. Para ulama mengatakan sorban itu budaya Nabi, budaya kaum Nabi pada zamannya.
    Pak Kyai bagaimana sebaiknya umat Islam memandang budaya?
    Sepanjang budaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka kita boleh mengambilnya. Ini masuk wilayah muamalah. Silakan ikuti budaya Arab, silakan pakai sorban. Tapi jangan mengatakan orang yang tidak pakai sorban, tidak mengikuti Nabi. Saya pukul kalau ada orang yang mengatakan seperti itu. Silakan makan roti karena mengikuti budaya Nabi. Tapi jangan mengatakan orang yang makan nasi, tidak mengikuti Nabi.
    Demikian juga budaya Nusantara. Sepanjang budaya Nusantara tidak bertentangan dengan Islam, silakan ambil. Islam sangat memberikan peluang bagi budaya, selama budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, boleh kita ambil. Silakan berkreasi dan ambil budaya apapun, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
    Kemunculan “Islam Nusantara” ini membuat sebagian orang membandingkan dengan “Islam Arab”, bagaimana menurut Pak Kiai?
    Saya tidak sependapat dengan bandingan-bandingan seperti itu. Islam itu Islam saja.
    Jadi istilah “Islam Nusantara” itu tidak ada ya Pak Kiai?
    Ya, Islam itu agama. Nusantara itu budaya. Tidak bisa disatukan antara agama dan budaya.
    Apa nasihat Pak Kyai untuk umat Islam di tengah polemik isu “Islam Nusantara” serta NU dan “Wahabi” ?
    Pertama, kita harus membedakan antara agama dan budaya. Agama: akidah dan syariah, kita harus mengikuti Rasulullah. Sementara, budaya itu masuk muamalah. Budaya apa pun, termasuk budaya Arab selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, silakan. Tapi hati-hati, sebab bisa saja orang pakai sorban itu dalam rangka mencari popularitas. Ketika semua orang tidak pakai sorban, tapi ada satu orang pakai sorban, maka itu diharamkan dalam Islam karena sorban itu menjadi pakaian popularitas. Menurut seorang Ulama Arab, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, hal itu menunjukkan kesombongan. Penampilan itu menunjukkan seorang merasa lebih mirip nabi. Itu arogan dan tidak bagus.
    Kedua, NU dan “Wahabi” tidak ada pertentangan, yang ada perbedaan. Persamaannya banyak dan perbedaannya sedikit. Perbedaannya itu tidak menimbulkan kekafiran dan perbedaan itu tidak terjadi setelah NU dan “Wahabi” ada. Jadi perbedaannya hanya dalam hal furu’iyyah, bukan hal yang prinsip. []
    red: shodiq ramadhan
    Share

  5. -

    assalamualaikum. hari ini sya ada lomba essai tentang membumikan Islam nusantara. informasinya sngt membntu, terimakasih. 🙂

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.