Pelajaran dari Guru Jalaluddin Rumi: Membeli Ciu dan Ajaran Tauhid

Kisah Rumi

Ciu adalah senyata nyata ujian. Bahkan bagi seorang wali

Siapa tak kenal Jalaluddin Rumi, ulama besar bergelar maulana yang namanya bahkan disegani oleh kelompok non Islam sekalipun. Mahatma Gandhi maupun Paus Johanes ke 23 saja begitu menghormati Mualana Rumi. “ Kalau dihadapan Rumi saya harus tunduk dan patuh” begitu ucap Paus menunjukkan betapa ia segan pada Rumi. Tak cukup disitu, pada tahun 2007, UNESCO, PBB, mencanangkan bahwa tahun tersebut adalah tahun Jalaluluddin Rumi.

Ia juga merupakan sufi yang terkenal alim dan zuhud luar biasa. Ia adalah putra dari ulama besar, Bahā ud-Dīn Walad, dan memang terkenal sudah menjadi anak yang pintar sejak kecil. Suatu masa, ketika usianya baru menginjak sekitar tujuh tahun, Ia diajak ayahnya berkunjung pada ulama besar saat itu, Faridudin Attar. Melihat Rumi yang datang membuntuti ayahnya, Fariduddin Attar lantas berujar pada para muridnya “ Lihatlah, lautan sedang datang. Dan dibelakang lautan itu ada samudra (yang mengikuti)”.

Itu menunjukkan betapa Faridudin Attar memprediksi Rumi akan jadi orang besar, bahkan melebihi sang ayah. Dan terbukti, kini kita lebih mengenal Rumi ketimbang ayahnya, bukan?

Waktu kemudian terus berjalan, Rumi lalu berguru pada seorang ulama bernama Samsyu Tabrizi. Darinyalah Rumi memperdalam ilmu Islam dan ajaran sufistik. Sosok gurunya yang kharismatik sekaligus begitu alim membuat Rumi amat takdzim dan cinta pada Syeikh Samsyu Tabrizi. Jika dirunut, dari rasa cinta yang begitu dalam inilah tarian sufi (Whirling Dervishes) lahir. Menjadi ekspresi ketika Rumi begitu sedih ditinggal gurunya.

Tapi kita tidak membahas itu. Kita akan belajar bagaimana sepotong kisah perjumpaan Rumi dan gurunya memberi pelajaran luar biasa dalam. Kisah tentang ulama yang membeli khamr. Atau dalam bahasa mBanyumasan; Ciu. Kyai kok tuku ciu.

Alkisah pada suatu malam yang gigil, Rumi bersama gurunya, Syeikh Samsyu Tabrizi, berdiskusi dan mengkaji tentang agama. Lantas tiba-tiba sang guru membisiki Rumi untuk meminta sesuatu. Ia minta dibelikan ciu!

Betapa terkejut Rumi pada sosok gurunya. Rupanya guru yang selama ini ia kenal alim adalah seorang peminum khamr. Tapi apa mau dikata, rasa cinta dan hormat Rumi tak luntur begitu saja. Meski Rumi sempat mendebat tanda heran, Rumi nurut. Mungkin kalau terjadi dalam situasi kekinian dialognya kira-kira akan jadi begini:

ST: Syeikh Samsyu Tabrizi

JR: Jalaluddin Rumi

ST; Hey Rumi, jika kau ingin dialog kita malam ini berlanjut, belikanlah aku seliter ciu.

JR; Apa? Guru menyuruhku membeli ciu? Bagaimana mungkin, aku ini seorang guru agama yang dikenal taat. Semua penduduk kota juga telah mengenalku. Lagipula, tempat yang menjual ciu ada di perkampungan Nasrani. Bagaimana nantinya umat Nasrani memandang Islam, jika ulamanya saja melanggar perintah agama? Tanya Rumi protes.

ST; ( dengan wajah santai dan nada datar) lo kamu mau apa tidak? Kalau tidak, ya jangan jadi muridku dong.

##Skakmat. Rumi tak dapat mengelak, ia pun beringsut pergi membeli ciu ke perkampungan Nasrani dengan menutupi wajahnya menggunakan selembar kain.

Tanpa disangka, seseorang mengenali Rumi dari suaranya saat sedang bertransaksi. Dengan sigap orang tersebut membuka kain yang menutupi wajah Rumi. Dan hap, benar saja, sosok yang sedang membeli ciu tersebut adalah Jalaluddin Rumi, ulama yang disegani seluruh penduduk berkat kealiman dan sifatnya yang mulia. Tapi, ia kini kedapatan membeli ciu. Bajiguurr.

Setelah kedok terbongkar, bak api menyambar bensin, massa langsung memukuli Rumi. Ada juga yang meludahi dan menendang. Tak ketinggalan, ada yang menginjak. Tubuh Rumi yang biasanya disalami, dihormati, dan diciumi, kini tersungkur di emperan. Mirip tertuduh maling amplie di mushola itu.

Sang guru lalu buru-buru datang. Ia menenangkan massa dan mengatakan bahwa massa telah salah sangka. Ia lalu menjelaskan bahwa yang dibawa Rumi bukanlah arak,alkohol, khamr, tuak, atau ciu. Melainkan air putih biasa.

Massa yang merasa melihat dengan mata kepala sendiri Rumi sedang bertransaksi di kedai ciu tak percaya. Sampai kemudian sang guru membuka botolnya dan mempersilahkan salah seorang mencicipinya. Dan benar saja, itu hanya air biasa. Botol yang tadinya alkohol, berubah jadi tawar oleh ucapan sang guru. Yah begitulah karomah wali (dengan izin Allah tentunya).

Lantas massa berebut meminta maaf dan menciumi kaki Rumi. Lalu perlahan mulai berangsur pergi dengan segepok sesal telah ngantemi kyai, ulama, sekaligus sufi besar.

Setelah massa pergi, sang guru membuka pelajarannya. Ia berujar (kira-kira) begini:

“ Hei Rumi, kamu ini membanggakan apa? Nama besar? Status? Kewalian? Penghormatan orang lain? Apa bener mereka menganggapmu penting, menganggapmu besar? Wong gara-gara botol kecil begini saja kamu sudah dipukuli. Sungguh tidak ada atribut, tidak ada kehormatan, tidak ada nama besar, atau kebanggaan di hadapan masyarakat. Maka jangan menyombongkan status, menyombongkon nama baik. Niatkanlah ibadahmu untuk mencari Ridha Allah, bukan mencari nama baik di tengah manusia”.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga