Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !

Dalam KBBI kata suaka memiliki arti tempat mengungsi (berlindung), menumpang (pada), menumpang hidup (pada). Pun suaka berarti lain bila diikuti kata-kata semacam: alam, berarti perlindungan yang diberikan pemerintah atau badan yang berwenang terhadap suatu daerah yang memiliki tumbuhan atau binatang yang terancam punah. Bila diikuti dengan margasatwa, berarti cagar alam yang secara khusus digunakan untuk melindungi binatang liar di dalamnya. Lain lagi bila diikuti kata politik, berarti perlindungan secara politik terhadap orang asing yang terlibat dalam perkara politik.

Bahasa selalu dinamis dan berkembang, KBBI perlu memberikan kata tambahan yakni, suaka sosial. Artikan saja ia sebagai tempat menumpang hidup, tempat berlindung dari kegelisahan yang meresahkan hidup. Wadah itu beroleh wujud, WhatsApp, Facebook, Instagram dst. Mereka menjadi tempat berteduh jiwa dan pikiran dar gelombang arus balik kehidupan manusia. Seandainya, suaka macam tersebut nihil, bisa dibayangkan betapa sesaknya rumah sakit jiwa, betapa tingginya angka bunuh diri, betapa larisnya pil PCC. Suaka sosial menjadi bejana penampung yang menyelamatkan manusia.

Pabila anda hendak kuliah, pilihalah jurusan Sastra Inggris, di dalam jurusan itu, anda akan dikenalkan dengan sesosok Tuhan yang lain, bukan Allah SWT seperti dalam Islam, atau Kristus dalam ajaran Kristiani, bukan keduanya. Tuhan itu bernama William Shakespeare, yang paling menggelitik dan menyegarkan dari Shakespeare adalah tawarannya dalam menghadapi kenyataan hidup. Ia menjelaskan bahwa puncak dari tragedi adalah komedi, jika malang merundung, jika nestapa mendekap, tak usah bingung dan bersedih, ketawain aja keleus.

Kesedihan yang paling sering merundung adalah pokok glorifikasi perbedaan fisik tiap individu. Pertenyaan yang menyeruak adalah “Kenapa aku mesti berbeda seperti yang lain?”

Tidak perlu membeli gawai canggih yang berlipat-lipat piksel, tidak usah operasi plastik yang mengubah ketebalan bibir, meruncingkan hidung, mengentarakan tulang pipi dan rahang, menebalkan aksen ekor mata, atau membeli lensa agar mata menjadi biru. Jawabannya selow, tingal ketawain aja keleus.

Sejarah sudah telampau bosan bercerita hubungan kepemilikan dan kedekatan kerupawanan dan kenirmalaan seseorang memiliki kontradiksi dengan lingkungan sosialnya, terkadang palah membawa kesukaran dalam hidup.

Annelies Mellema dan Minke dalam Bumi Manusia

Konflik dalam roman ini, tidak saja membongkar teme-tema brengseknya rasialisasi dibawah konsep hukum kolonial. Pelajaran yang bisa dipetik adalah dengan menempatkan sudut pandang lain, sederhananya Annelies yang muda, segar, tajir, Indo, wanita karir terlampau cantik untuk Minke yang berkulit cokelat. Memiliki kekasih nirmala tentu menjadi kebanggan setiap lelaki, tidak terkecuali bagi minke, di sisi lain kenirmalaan Annelies justru mendatangkan kesukaran-kesukaran untuk dirinya sendiri dan orang-orang sekitarnya. Hindia Olanda dibuat geger, surat kabar penuh dengan cerita perkawinan dua anak manusia yang beda hierarki kelas sosial, Robert Suurhof menjadi penghianat yang paten seumur-umur, Nyai Ontosoroh dan perusahaanya remuk, Minke hancur lebur, bahkan Annelies sendiri depresi berat sampai wafat. Tentu sampean sudah mendengar kecantikannya, lantas ia dijuluki “Bunga Penutup Abad” di Hindia Olanda tercintah. Ini mirip-mirip dengan cantiknya Nike Ardila yang menjadi “Bunga Penutup Abad” XX di Endonesiah.

Coba sampean bayangkan, punya istri nirmala, masih kinyis-kinyis, baru kawin enam bulan harus cerai atas nama hukum, siapa yang tidak meringis.

Marya Alexandrovna dan Sergei Mikhailich dalam “Rumah Tangga yang Bahagia”

Kalau Annelies kawin dalam usia delapan belas, Masha (nama panggilan Marya) kawin dengan Sergei saat usianya baru menginjak tujuh belas lewat. Ia remaja bule, asli Rusia, cantik lagi. Ia kawin dengan sahabat bapaknya sendiri, usia terlampau jauh dengan Masha. Siapa yang tidak iri?

Prosa ini dengan memikat menangkap bagaimana kehidupan bangsawan-bangsawan  Tsar Rusia yang suka berfoya-foya meminum vodka ditengah kepungan gurun salju. Masha yang hidup dan besar dan hidup di dusun pedesaan pinggiran Rusia tak sekalipun pernah pergi ke pesta. Setelah pindah ikut suaminya ke St.Petersburg, kesukaran-kesukaran itu muncul, Masha muda begitu memukau tuan dan puan dalam pesta, banyak yang naksir dengan dirinya, termasuk bangsawan-bangsawan kecil. Masha digoda, Sergei cemburu.

Hukuman datang kepada Sergei, niatan menghidupi istrinya di dalam lingkungan yang lebih baik, yang ia tuai justru Masha semakin rajin ke pesta, perdebatan-perdebatan tak dapat dihindari. Rumah tangga hangat seperti api dalam sekam. Meski sudah lahir dua buah cinta, malaikat-malaikat kecil dengan pipi dan lengan yang montok, mereka tetap rutin perang verbal, sampai-sampai Masha minggat.

Lady Diana dan Pangeran Charles : Sebuah dongeng dari Inggris

Pada akhir abad dua puluh, dunia ditutup dengan antologi rasa yang dibukukan dalam film yang tak koyak dari ingatan Titanic. Film yang diringi oleh lagu yang tak kalah melegenda “My Heart Will Go On” dengan rentang suara tiga oktafnya. Jack dan Rose mengejawantahkan rasa dengan elegan. Sebuah album rasa yang indah dengan durasi yang panjang. Tentu sedikit sulit jika disesuaikan dengan aturan sinema di Indonesia yang maksimal 120 menit. Menyaksikan Jack dan Rose, seolah terlalu singkat meski film tersebut berdurasi lebih dari tiga jam.

Titanic bisa menjadi pelipur lara yang pas, setelah dunia menjadi murung dengan kepergian “Lady Diana”. Kate Middleton tentu nirmala dan cerdas, tapi membandingkan ia dengan mendiang ibu suaminya teramat jauh. Diana tentu paket komplit, cerdas, nirmala, dan melek politik. Sebagai perempuan, ia telah menjadi perempuan seutuhnya dengan lahirnya William dan Harry. Ia tentu cantik, tepat untuk simbolisme Kerajaan Inggris ke hadap muka dunia. Derma dan donor yang merepresentasikan jiwa sosial semakin tinggi usai jadi istri sang pewaris tahta. Akta cerai yang ia pegang membuat publik bertanya-tanya. Diana bahkan meregang nyawa lantaran kejar-kejaran dengan paparazzi ketika ia tengah bersama dengan sang kekasih. Apapun yang ia lakukan ia tetap menjadi sorotan publik. Sebuah tragedi yang sumbang untuk ditertawakan.

 

***

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga