Jangan Bersedih

Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !

08/11/2017 199 0 0

Dalam KBBI kata suaka memiliki arti tempat mengungsi (berlindung), menumpang (pada), menumpang hidup (pada). Pun suaka berarti lain bila diikuti kata-kata semacam: alam, berarti perlindungan yang diberikan pemerintah atau badan yang berwenang terhadap suatu daerah yang memiliki tumbuhan atau binatang yang terancam punah. Bila diikuti dengan margasatwa, berarti cagar alam yang secara khusus digunakan untuk melindungi binatang liar di dalamnya. Lain lagi bila diikuti kata politik, berarti perlindungan secara politik terhadap orang asing yang terlibat dalam perkara politik.

Bahasa selalu dinamis dan berkembang, KBBI perlu memberikan kata tambahan yakni, suaka sosial. Artikan saja ia sebagai tempat menumpang hidup, tempat berlindung dari kegelisahan yang meresahkan hidup. Wadah itu beroleh wujud, WhatsApp, Facebook, Instagram dst. Mereka menjadi tempat berteduh jiwa dan pikiran dar gelombang arus balik kehidupan manusia. Seandainya, suaka macam tersebut nihil, bisa dibayangkan betapa sesaknya rumah sakit jiwa, betapa tingginya angka bunuh diri, betapa larisnya pil PCC. Suaka sosial menjadi bejana penampung yang menyelamatkan manusia.

Pabila anda hendak kuliah, pilihalah jurusan Sastra Inggris, di dalam jurusan itu, anda akan dikenalkan dengan sesosok Tuhan yang lain, bukan Allah SWT seperti dalam Islam, atau Kristus dalam ajaran Kristiani, bukan keduanya. Tuhan itu bernama William Shakespeare, yang paling menggelitik dan menyegarkan dari Shakespeare adalah tawarannya dalam menghadapi kenyataan hidup. Ia menjelaskan bahwa puncak dari tragedi adalah komedi, jika malang merundung, jika nestapa mendekap, tak usah bingung dan bersedih, ketawain aja keleus.

Kesedihan yang paling sering merundung adalah pokok glorifikasi perbedaan fisik tiap individu. Pertenyaan yang menyeruak adalah “Kenapa aku mesti berbeda seperti yang lain?”

Tidak perlu membeli gawai canggih yang berlipat-lipat piksel, tidak usah operasi plastik yang mengubah ketebalan bibir, meruncingkan hidung, mengentarakan tulang pipi dan rahang, menebalkan aksen ekor mata, atau membeli lensa agar mata menjadi biru. Jawabannya selow, tingal ketawain aja keleus.

Sejarah sudah telampau bosan bercerita hubungan kepemilikan dan kedekatan kerupawanan dan kenirmalaan seseorang memiliki kontradiksi dengan lingkungan sosialnya, terkadang palah membawa kesukaran dalam hidup.

Annelies Mellema dan Minke dalam Bumi Manusia

Konflik dalam roman ini, tidak saja membongkar teme-tema brengseknya rasialisasi dibawah konsep hukum kolonial. Pelajaran yang bisa dipetik adalah dengan menempatkan sudut pandang lain, sederhananya Annelies yang muda, segar, tajir, Indo, wanita karir terlampau cantik untuk Minke yang berkulit cokelat. Memiliki kekasih nirmala tentu menjadi kebanggan setiap lelaki, tidak terkecuali bagi minke, di sisi lain kenirmalaan Annelies justru mendatangkan kesukaran-kesukaran untuk dirinya sendiri dan orang-orang sekitarnya. Hindia Olanda dibuat geger, surat kabar penuh dengan cerita perkawinan dua anak manusia yang beda hierarki kelas sosial, Robert Suurhof menjadi penghianat yang paten seumur-umur, Nyai Ontosoroh dan perusahaanya remuk, Minke hancur lebur, bahkan Annelies sendiri depresi berat sampai wafat. Tentu sampean sudah mendengar kecantikannya, lantas ia dijuluki “Bunga Penutup Abad” di Hindia Olanda tercintah. Ini mirip-mirip dengan cantiknya Nike Ardila yang menjadi “Bunga Penutup Abad” XX di Endonesiah.

Coba sampean bayangkan, punya istri nirmala, masih kinyis-kinyis, baru kawin enam bulan harus cerai atas nama hukum, siapa yang tidak meringis.

Marya Alexandrovna dan Sergei Mikhailich dalam “Rumah Tangga yang Bahagia”

Kalau Annelies kawin dalam usia delapan belas, Masha (nama panggilan Marya) kawin dengan Sergei saat usianya baru menginjak tujuh belas lewat. Ia remaja bule, asli Rusia, cantik lagi. Ia kawin dengan sahabat bapaknya sendiri, usia terlampau jauh dengan Masha. Siapa yang tidak iri?

Prosa ini dengan memikat menangkap bagaimana kehidupan bangsawan-bangsawan  Tsar Rusia yang suka berfoya-foya meminum vodka ditengah kepungan gurun salju. Masha yang hidup dan besar dan hidup di dusun pedesaan pinggiran Rusia tak sekalipun pernah pergi ke pesta. Setelah pindah ikut suaminya ke St.Petersburg, kesukaran-kesukaran itu muncul, Masha muda begitu memukau tuan dan puan dalam pesta, banyak yang naksir dengan dirinya, termasuk bangsawan-bangsawan kecil. Masha digoda, Sergei cemburu.

Hukuman datang kepada Sergei, niatan menghidupi istrinya di dalam lingkungan yang lebih baik, yang ia tuai justru Masha semakin rajin ke pesta, perdebatan-perdebatan tak dapat dihindari. Rumah tangga hangat seperti api dalam sekam. Meski sudah lahir dua buah cinta, malaikat-malaikat kecil dengan pipi dan lengan yang montok, mereka tetap rutin perang verbal, sampai-sampai Masha minggat.

Lady Diana dan Pangeran Charles : Sebuah dongeng dari Inggris

Pada akhir abad dua puluh, dunia ditutup dengan antologi rasa yang dibukukan dalam film yang tak koyak dari ingatan Titanic. Film yang diringi oleh lagu yang tak kalah melegenda “My Heart Will Go On” dengan rentang suara tiga oktafnya. Jack dan Rose mengejawantahkan rasa dengan elegan. Sebuah album rasa yang indah dengan durasi yang panjang. Tentu sedikit sulit jika disesuaikan dengan aturan sinema di Indonesia yang maksimal 120 menit. Menyaksikan Jack dan Rose, seolah terlalu singkat meski film tersebut berdurasi lebih dari tiga jam.

Titanic bisa menjadi pelipur lara yang pas, setelah dunia menjadi murung dengan kepergian “Lady Diana”. Kate Middleton tentu nirmala dan cerdas, tapi membandingkan ia dengan mendiang ibu suaminya teramat jauh. Diana tentu paket komplit, cerdas, nirmala, dan melek politik. Sebagai perempuan, ia telah menjadi perempuan seutuhnya dengan lahirnya William dan Harry. Ia tentu cantik, tepat untuk simbolisme Kerajaan Inggris ke hadap muka dunia. Derma dan donor yang merepresentasikan jiwa sosial semakin tinggi usai jadi istri sang pewaris tahta. Akta cerai yang ia pegang membuat publik bertanya-tanya. Diana bahkan meregang nyawa lantaran kejar-kejaran dengan paparazzi ketika ia tengah bersama dengan sang kekasih. Apapun yang ia lakukan ia tetap menjadi sorotan publik. Sebuah tragedi yang sumbang untuk ditertawakan.

 

***

Comments

comments

Tags: bahagia, Bumi Manusia, ketawain, Lady Diana, minke, Pangeran Charles, sastra, Sergei Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.