Jangan Mau Kalah dari Masalah

14/07/2018 235 0 0

Semalam, saya mendapat notifikasi dari aplikasi layanan pesan, Whatsapp. Pas dibuka ternyata pesan dari penggerak Komunitas Guru Belajar Purwokerto. Pak Daru panggilannya. Kontan saya baca isinya, tak coba pahami apa maunya karena beliau mengirim copy-an artikel yang lumayan panjang.

Isinya soal perjuangan seorang ibu yang hanya jualan gudeg ala kadarnya di pasar Beringharjo tapi mampu menguliahkan 5 anaknya hingga sarjana. Ibu Pon namanya.

Membaca kisah seperti itu pikiran saya langsung kemana-mana, membayangkan bagaimana ia bisa melewati bulan-bulan seperti ini, bulan-bulan dimana semua mahasiswa harus registrasi dengan membayarkan setumpuk uang yang kira-kira jumlahnya setara satu bulan omsetnya. Apalagi dia tidak menyekolahkan satu anaknya, tapi lima.

Belum lagi biaya-biaya lain yang tak juga bisa dibilang kecil jumlahnya. Ya beli ini lah, ya bayar itulah, tentu rumit.

Tiba-tiba, perjalanan pikiranku terhenti pada sosok Pak Edi dan istrinya. Yang tak lain tak bukan adalah kedua orang tua saya. Mereka saya pikir adalah salah satu Bu Pon dalam wujud lain. Satu dari sekian banyak penerima keajaiban menyekolahkan anak.

Sebagai orang yang lahir dan besar di desa dan dengan pendidikan formal ala kadarnya, kedua orang tua saya tentu tak banyak memiliki pilihan karir. Menjadi karyawan kantoran tak mungkin, syarat administrasinya tak cukup. Menjadi ASN juga sulit karena sama sekali tak punya orang dalam. Menjadi politisi apalagi, susah mereka, tak suka menipu. Satu-satunya profesi yang bisa mereka geluti adalah bertani.

Meski lahan yang mereka miliki juga tak seberapa. Itu pun konon warisan dari simbah, karena memang setau saya, program redestribusi lahan ala-ala sosialis tak pernah terjadi di Indonesia meski UU-nya ada.

Beberapa tahun meniti karir petani, bapak dan juga ibu saya akhirnya bisa membeli beberapa petak sawah lagi. Mereka menanaminya dengan padi, sayur, dan apa saja yang bisa tumbuh berdesakan di lahan miliknya.

Semua tanaman itu mereka rawat, sebagaimana mereka merawat saya. Bedanya tanaman-tanaman itu kini sudah memberikan hasil, sementara saya, belum. Uhuk.

Dengan latar belakang yang seperti itu, saya jadi merenung kisah Bu Pon yang sebenarnya adalah pucuk gunung es di lautan. Hanya beberapa yang nampak, yang tak nampak masih banyak.

Mereka bekerja dengan senyap, tak berisik di medsos, tak mengenal akun Instagram dengan segala fasilitas riya’-nya tapi memiliki daya ungkit terhadap human development index Indonesia yang begitu besar. Mengingat negara belum sanggup mengerjakannya sendiri.

Lebih hebatnya lagi, mereka melakukannya tanpa merasa telah berjasa, menuntut negara hadir, atau merasa keberpihakan negara pada masyarakat lemah sangat kecil. Sama sekali tidak.

Mereka justru melakukanya dengan penuh gembira, ya sesekali sedih itu wajar. Apalagi kalau tagihan semester berbarengan dengan hasil panen yang kurang baik. Tapi, justru disitulah keajaiban mereka dapatkan.

Sebagai keluarga petani arus utama, bapak saya masuk pada kategori pemilik 0,3 hektar lahan seperti telah dipublikasi BPS sebagai rata-rata kepemilikan lahan petani Indonesia. Semua lahanya ditanami salak yang harganya berfluktuasi antara Rp. 1.000-6.000.

Taruhlah sebagai rata-rata Rp. 3.000. Dengan harga segitu dan hasil panen yang paling-paling 2-5 kuintal per setengah bulan, bapak saya harus menghidupi 4 perut dengan segala kebutuhan turunannya. Meskipun menurut heirarki maslow kebutuhannya masih berada pada level basic need. Tapi tetap saja, anggarannya seringkali jeblok kalo dikalkulasi pakai rumusan ilmu ekonomi modern.

Kondisinya mirip lah seperti postur APBN kita yang saben tahun selalu defisit. Bedanya kalau Sri Mulyani—sebagai menteri ekonomi paling hebat sejagat—  menyiasatinya dengan menerbitkan surat utang negara, ibu saya mengatasinya dengan memangkas biaya-biaya tak urgent, jual kambing, atau mengantarkan BPKB ke kantor perwakilan Bank terdekat.

Pokoknya paket-paket kebijakan ekonomi dan semua langkah antisipasi krisis dalam keluarga segera disepakati dan diterapkan dengan cermat dan cepat. Semua hal itu mestilah bikin pusing.

Maka wajar, dengan penghasilan yang kurang lebih sama bahkan yang jauh lebih sejahtera, tetangga di kampung saya surut nyali untuk mengantarkan anaknya masuk jenjang perguruan tinggi. Sebab memang hitung-hitungannya tak masuk. Sampai di sini, kalau ada yang mbatin bilang bahwa biaya hidup di desa itu kecil, tak kasih sepeda deh.

Betul bahwa ongkos operasional di desa itu mungkin kecil, tapi biaya sosialnya tinggi broh. Tetangga dalam radius 2 km sakit, maka kita punya tanggung jawab moral menjenguk, dengan radius yang jauh lebih luas, berlaku jika ada yang nyunat, nikahan, lahiran, takziah dan lain sebagainya. Banyak lah. Dan kesemua itu menuntut sanksi sosial yang pedih jika tak dipatuhi: dirasan-rasani tangga.

Dengan segala keterbatasan tadi, ibu bapak saya toh nyatanya bisa membiayai kuliah saya hingga rampung. Pat setengah tahun di kampus swasta pula.

Ya, sejak SMK saya memilih sekolah di swasta karena inisiatif mengurangi beban negara. Kasian utangnya banyak.

Jadi tenang saja, perihal sekolah, Tuhan hadir dengan segala kemurahan-Nya menganulir ketidaksanggupan berdasar kalkulasi matematis hambanya. Bahkan saya pikir ini tidak hanya berlaku dalam dunia sekolah menyekolahkan anak.

Manusia memang sudah terlahir dengan segala paket kebahagiaanya meski bagaimanapun kondisinya. Jadi jika punya niat baik jalanilah saja, dengan gembira tentunya.

Saya bahkan punya teman, sudah menikah, belum punya pekerjaan tetap, punya tanggungan cicilan, IPK-nya jelek, wajahnya lebih-lebih, tapi masih bisa cengengesan kalau bersua. Seolah-olah sedang menertawai semua hal tadi yang oleh kita dianggap masalah.

Comments

comments

Tags: Biaya kuliah, ekonomi, Ibu Pon, petani Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts