Jika Timnas Tak Juara


Euforia kemenangan Tim Nasional kita melawan Thailand waktu itu masih membekas. Rasanya sensasi berjingkrakan usai kepala Hansamu menyambar bola hasil sepak pojok masih begitu nyata. Menang memang sesuatu yang patut dirayakan, bukan soal rasa jumawa. Tapi ayolah ini sepakbola. Sepakbola berbicara tentang optimisme. Tidak usah terlalu njelimet jauh menerawang, sebab kalau kemenangan kala itu tidak kau rayakan, apakah kamu bisa menjamin pertandingan nanti kemenangan masih milik Timnas?

Bagi saya yang jauh berada di luar lingkaran Timnas, sepakbola adalah hiburan. Dan setiap yang disebut hiburan mestinya membawa kesenangan.

Keberhasilan timnas mengalahkan Thailand setelah terlebih dahulu tertinggal adalah pelipur lara rakyat dan sedikit banyak telah mampu mencairkan ketegangan politik tanah air. Kita tahu Sidang Ahok, kembalinya Setya Novanto menjadi ketua DPR,  Aksi Bela Islam, dugaan makar, dan berbagai sengkarut politik telah membelah Indonesia. Kita memang sudah lama menjadi bangsa yang kesulitan menghadirkan ruang ke tiga. Selama ini kita selalu terjebak pada dualisme benar-salah, halal-haram, baik-buruk dan seterusnya.

Jadi memang tak berlebihan jika kita mengatakan Timnas mencairkan suasana tegang. Karena faktanya, baik pendukung Ahok atau yang menentangnya sama sama gembira. Yang pro pabrik semen dengan yang mendukung petani Kendeng sama-sama berpesta. Tapi saya berpikir bagaimana seandainya Timnas kalah?

Manusia adalah daging berpikir yang suka berkelompok. Jadi didalam bersikap dan berpikir manusia pun akan mengelompok. Apalagi manusia Indonesia yang kita kenal berjiwa gotong royong. Maka jika Timnas kalah kemungkinan-kemungkinan faktanya akan jadi seperti ini;

Mereka yang mendukung Jokowi dan tetap membela timnas

Kelompok ini berasal dari basis massa pendukung Jokowi dalam pilpres kemarin. Bahkan boleh jadi adalah pendukung setia Jokowi sejak jadi tukang meubel. Mereka adalah kelompok yang relatif fanatik sehingga meskipun, umpamanya, Timnas kalah akan tetap membela Timnas. Kalimat bernada optimisme, namun juga terkesan permisif pada kesalahan , semacam ” Berikan kesempatan kedua pada ketua PSSI” atau “Zulham butuh waktu untuk meyakinkan diri bahwa kembarannya adalah lawan yang harus dikalahkannya” dan sebagainya. Intinya Timnas benar, dan Thailand lah yang jahat.

Pendukung Jokowi tetapi menyalahkan Timnas

Jika kalah, saya pastikan bahwa Timnas pasti menuai kritik dan bahkan kecaman. Ini bisa dimaklumi, mengingat harapan akan Timnas begitu tinggi, dan sepakbola lah yang dianggap masih bisa bersaing dengan negara lain. Tapi kritik mestilah ditempatakan sebagai kritik. Bukan cacian!

Kelompok ini, meskipun mendukung Jokowi, akan tetap menyalahkan Timnas dibawah asuhan Riedl. Mereka menyayangkan banyaknya kesalahan dan tidak dimanfaatkannya dukungan supporter untuk meraih kemenangan. Bagi mereka Timnas terlalu loyo sehingga kalah melawan Thailand.

Anti Jokowi dan mendukung Timnas serta Anti Jokowi menyalahkan Timnas

Umumnya mereka adalah pendukung capres nomor satu pada pilpres lalu. Tapi juga tak sedikit mereka berasal dari pemilih Jokowi. Ini karena dulunya status mereka adalah pemilih mengambang yang menilai Jokowi sekarang tak seindah janjinya. Bukan loyalis atau relawan.

Jika Timnas kalah, mereka dipastikan juga pecah. Ada pihak yang tetap pro dengan Timnas dan ada yang menyalahkan. Yang pro lebih didominasi oleh kelompok moralis yang biasanya bersandar pada keyakinan agama yang kuat. Terutama soal sabar, tawakal, dan sifat roja’. Mereka yang pro punya keyakinan bahwa kekalahan yang dialami Timnas adalah cobaan, dan setiap cobaan harus dilewati dengan kesabaran. Mereka juga percaya bahwa kemenangan pada akhirnya selalu menjadi milik orang-orang yang bersabar.

Sementara mereka yang kontra menganggap Timnaslah yang patut disalahkan. Memang tidak hanya Timnas yang salah. Menurut mereka jika dirunut, kesalahan puncak ada pada Jokowi yang tidak becus memilih Menpora, sehingga menpora tidak dapat mengelola PSSI dan akhirnya PSSI gagal membina Timnas. Tapi meskipun begitu, kekalahan Timnas adalah tetap kesalahan mereka. Timnas dianggap tak rukun dan justru saling jegal. Hansamu membuktikannya di kaki Irfan Bachdim.

Kemungkinan polarisasi di atas masih dapat terpecah lagi jika kita masukkan variabel Ahok. Sebab, misalnya, mereka yang Pro Jokowi dan tetap membela Timnas masih akan terbagi lagi menjadi: mereka yang pro Jokowi tetapi anti Ahok dan membela Timnas dan mereka yang pro Jokowi juga pro Ahok dan membela Timnas. Begitu juga kelompok lain.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga