Jonru, Fitnah dan Perda Syariah

Ajakan mempetisi Jonru ramai di lini masa. Jonru memfitnah Jokowi anti – Islam terkait rencana pembatalan perda syariah di akun fesbuknya, sialnya status itu dishare ratusan kali oleh para pengkutnya. Jadilah fitnah menyebar sedemikian rupa.

Jonru dan pengikutnya beragama seperti bensin, mudah terbakar. Mereka gampang marah dan melabeli orang diluar pahamnya dengan sebutan liberal, sekuler bahkan kafir. Mereka,meski mayoritas tapi merasa tertindas, terdzalimi dan merasa  punya musuh. Karena beragama hanya pakai perasaan, jadilah mereka ini baperan.

Mereka juga konservatif dan bebal, sulit membedakan mana status fitnah mana status dakwah. Mana Jokowi sebagai presiden, mana Jokowi sebagai pribadi. Bila mereka mengerti posisi Jokowi sebagai presiden maka tidak mungkin fitnah jokowi anti- islam menyebar.

Jokowi difitnah anti – islam karena argumentasi mereka di bangun atas dasar Islam yang kaffah. Artinya sebagai muslim seseorang harus menerima syariat islam secara menyeluruh mulai dari urusan ibadah, hukum hingga politik. Seseorang yang menolak salah satunya bisa di anggap bid’ah, munafik,  atau anti – islam seperti Jokowi.

Jokowi dan Konsep negara

Jokowi adalah presiden dari negara yang secara substansi sekuler, yang mengedepankan semangat pluralisme dan persatuan dalam jargon bhineka tunggal ika. Berbeda – beda tapi tetap satu jua. Indonesia bukan negara agama Islam seperti Iran dan Pakistan.

Menurut Eugene Smith negara sekuler adalah negara yang menjamin kebesan beragama individu dan negara tidak berdasarkan pada agama tertentu. Definisi ini seleras dengan semangat sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dimana negara menjamin kebebasan beragama setiap warga negaranya. Meski tidak mengakui secara resmi, tapi secara substansi Indonesia adalah negara sekuler

Namun bisa jadi Jonru dkk berbeda dalam memahami negara sekuler. Bagi mereka negara sekuler adalah paham yang memisahkan agama dan negara, atau paham politik dan filsafat yang menolak segala bentuk kepercayaan. Definisi itu umumnya terdapat di kamus standar atau dari buku karangan muslim radikal. Definisi ini selain salah juga menyesatkan.

Negara sekuler bersifat netral, tidak memihak agama atau aliran tertentu. Ia berperan sebagai pelindung dan penjamin keamanan warga negaranya dalam beribadah, terlepas apapun agamanya. Sehingga semuanya dapat menjalankan ajaran agamanya dengan bebas tanpa takut di sweeping ormas tertentu.

Berbeda dengan negara Islam yang bersifat tidak netral. Meski negara Islam, tapi biasanya memihak aliran tertentu sehingga menghambat kebebasan aliran lain. Iran misalnya memihak Syi'ah, sehingga Sunni tidak bisa berkembang. Di negara Islam agama lain semisal Kristen memang diberi kebebasan beribadah, tapi bikin gereja biasanya susah.

Andai Jonru mengerti konsep negara tentu dia tidak akan memfitnah Jokowi, tapi beda hal kalau memfitnah itu sudah bagian dari hobbinya. Perihal  pencabutan perda syariah oleh Jokowi asalinya tidak bisa menjadi dasar untuk melabelinya anti – islam, karena ia sedang menjalankan tugas dalam kapasitanya sebagai kepala negara, bukan pribadi.

Jokowi secara pribadi bisa saja mendukung ditetapkannya syariat islam ( walau sepertinya tidak mungkin ) tapi kapasitasnya sebagai presiden tidak memungkinkan, karena dia harus bekerja sesuai amanah konstitusi. Dia harus bersikap netral, dimana bila perda syariah itu kontroversial dia berhak membatalkannya.

Jadi tuduhan Jokowi anti islam itu hanyalah fitnah keji yang disebar orang bebal yang lagi mabuk perda.

Dilema Perda Syariah

Asalinya perda syariah gugur secara konstitusi karena tidak sesuai dengan sistem hukum nasional. Namun sebagian daerah seperti Sukabumi, Bukittinggi, Banjarmasin, Serang dan Dompu masih mempertahankannya. Alasannya untuk mengembalikan moral umat dan juga alasan politis

Perda syariah juga dilematis karena secara substansi tak jauh beda dengan perda konvensional.Karena dalam proses pembuatannya perda konvesional juga mempertimbangkan agama, budaya dan adat istiadat setempat. Bila islam di daerah itu mayoritas maka secara tidak langsung perda yang dihasilkan sudah 'islami' tanpa diberi embel syariah.

Selain itu perda syariah hanya menjadi alat politik di beberapa daerah. Perda tidak selalu berasal dari akar rumput, sebagai aspirasi masyarakat untuk menegakan syariat islam. Kadang perda syariah di gunakan hanya untuk menyenangkan tokoh muslim atau mendulang suara dalam pemilu.

Tapi saya sadar perda syariah bukan sekadar produk hukum, tapi bagian dari agenda besar untuk mendirikan negara islam. Model negara impian jonru dan kawan – kawan. Maka wajar bila ada rencana pembatalan perda syariah mereka menolak dengan beragam cara, mulai yang baik hingga memfitnah seperti si Jonru.

Perda syariah berpotensi mengundang perpecahan. Daerah yang mayoritas beragama Hindu dan Kristen mulai menuntut perda berlabel agama. Isu ini mulai terdengar di Bali dan Papua. Bisa jadi pelarangan Jilbab saat sekolah di Bali dan klaim kota Injil di Papua didasari oleh sentimen keagamaan.

Mari bayangkan bila dua daerah penting itu  menuntut perda berlabel hindu atau kristen maka keadaan akan pelik. Mereka menuntut keadilan atas nama otonomi daerah, wilayah yang mayoritas Islam boleh punya perda syariah masa kami tidak boleh. Karenanya, selain batal secara konstitusi perda ini juga berpotensi menimbulkan perpecahan.

Lagipula bila dipikir buat apa perda syariah itu, toh Islam itu agama mayoritas. Dimana dalam mengambil kebijakan pemerintah selalu mempertimbangkan kepentingan orang banyak, dan yang banyak itu orang Islam. Bila boleh jujur, kementrian agama sebenarnya kementrian Islam, Kristen,  Hindu dan Budha hanyalah pelengkap saja. Pejabat penting juga banyak yang Islam. Selain itu banyak Undang – undang yang mengadopsi nilai Islam. Kurang apalagi.

Jangan – jangan perda syariah tidak lahir dari niat tulus untuk mendirikan negara Islam, tapi merupakan manifestasi dari ketamakan dalam beragama dan nafsu ingin menang sendiri.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga